Liputan6.com, Jakarta - Strict parents adalah orang tua yang menerapkan kontrol tinggi terhadap perilaku anak, dengan menetapkan aturan yang kaku dan ekspektasi tinggi. Mereka umumnya lebih fokus pada disiplin daripada komunikasi emosional. Pendekatan ini sering kali mengabaikan kebutuhan anak untuk berekspresi dan merasa didengarkan.
Pola asuh ini banyak ditemukan dalam berbagai budaya dan dianggap efektif dalam menciptakan anak yang disiplin dan berprestasi. Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti sisi negatifnya. Anak dari strict parents kerap mengalami tekanan emosional, kesulitan dalam bersosialisasi, hingga masalah harga diri yang rendah.
Advertisement
Melansir dari Verywell Mind, pola asuh otoriter yang menjadi dasar strict parenting, berpotensi menyebabkan gangguan kecemasan pada anak karena kurangnya dukungan emosional dan komunikasi terbuka. Ditekankan juga pentingnya keseimbangan antara kontrol dan kasih sayang untuk membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.
Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya, Jumat (6/6/2025).
Â
Mengenal Gaya Asuh Strict Parents
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4440594/original/042264800_1684993932-tim-mossholder-0vWMHOtXnao-unsplash-min.jpg)
Strict parents adalah orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter, ditandai dengan kontrol tinggi, aturan ketat, dan ekspektasi yang tidak fleksibel, namun minim kehangatan emosional. Mereka menuntut kepatuhan tanpa kompromi dan sering menggunakan hukuman sebagai alat disiplin, sebagaimana dilansir dari parents.com.
Meskipun bertujuan membentuk anak yang disiplin dan berprestasi, pendekatan ini justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini cenderung mengalami kecemasan, harga diri rendah, kesulitan dalam mengatur emosi, dan perilaku agresif.
Dalam praktiknya, orang tua dengan pola asuh ini menerapkan banyak aturan yang ketat dan tegas bagi anak-anak mereka. Strict parents memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi dan perilaku anak-anak mereka. Jika anak-anak melanggar aturan atau tidak memenuhi harapan orang tua, strict parents cenderung memberikan hukuman yang tegas dan seringkali keras. Ini bisa termasuk hukuman fisik, hukuman penahanan, atau penalti lainnya.
Strict parent adalah orang tua yang cenderung memiliki kontrol yang kuat terhadap kehidupan anak-anak mereka. Pola asuh strict parents jarang memberikan anak-anak ruang untuk bereksplorasi, mengambil risiko, atau mengembangkan kreativitas mereka sendiri. Segala sesuatu harus sesuai dengan aturan dan ekspektasi yang ditetapkan.
Apakah Berdampak Positif?
Pola asuh strict parents dapat berdampak positif seperti kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi juga dapat memiliki dampak negatif berupa kecemasan, rendahnya harga diri, dan kurangnya kemampuan anak untuk mengambil inisiatif. Terlalu banyak tekanan dan hukuman keras juga bisa merusak hubungan antara orang tua dan anak.
Melansir dari hindustantimes.com, studi dari Universitas Cambridge dan Dublin menemukan bahwa anak-anak yang mengalami pola asuh keras pada usia tiga tahun memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental serius pada usia sembilan tahun dibandingkan dengan anak-anak yang diasuh secara hangat dan konsisten.
Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa pola asuh yang keras dapat meningkatkan respons stres pada anak, yang berpotensi menyebabkan gangguan kecemasan sosial di kemudian hari, dilansir dari health.economics. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih seimbang, seperti pola asuh otoritatif yang menggabungkan batasan yang jelas dengan dukungan emosional, guna mendukung perkembangan mental dan emosional anak secara optimal.
Advertisement
Ciri-Ciri Strict Parents
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3170078/original/072776200_1593850052-pexels-photo-3985037.jpeg)
Melansir dari Parents.com strict parenting berisiko menimbulkan hubungan yang renggang antara anak dan orang tua karena kurangnya komunikasi terbuka dan empati dalam interaksi sehari-hari. Strict parents adalah orang tua yang menerapkan pendekatan pengasuhan otoriter yang ditandai oleh sejumlah ciri-ciri seperti berikut.
1. Memberikan Tuntutan, Tapi Tidak Bersikap Responsif
Strict parents adalah orang tua yang cenderung menerapkan banyak peraturan, standar, dan tuntutan bagi anak-anak mereka. Mereka menetapkan aturan ketat dan mengharapkan anak untuk mematuhinya tanpa penjelasan mendalam. Namun, mereka sering tidak peka terhadap kebutuhan, perasaan, atau pandangan anak. Mereka mengasumsikan bahwa anak-anak akan tahu apa yang diharapkan dari mereka tanpa perlu penjelasan atau pengertian lebih lanjut.
2. Sedikit Memberikan Kasih Sayang
Strict parents cenderung kurang dalam memberikan dukungan emosional dan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Mereka mungkin terlalu fokus pada disiplin dan prestasi, dan kurang memperhatikan kebutuhan emosional anak. Hal ini bisa membuat anak merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan.
3. Memiliki Banyak Aturan dan Berlebihan
Salah satu ciri paling mencolok dari strict parents adalah jumlah aturan yang berlebihan yang mereka terapkan. Mereka sering mengontrol banyak aspek kehidupan anak, termasuk waktu luang, hubungan sosial, dan kegiatan sehari-hari. Hal ini dapat membuat anak merasa terkekang dan sulit mengembangkan kreativitas atau inisiatif mereka sendiri.
4. Memberikan Hukuman Fisik
Dalam beberapa kasus, strict parents bisa menggunakan hukuman fisik sebagai cara untuk menegakkan aturan dan tuntutan mereka. Ini termasuk pukulan atau tindakan fisik lainnya sebagai respons terhadap pelanggaran aturan. Penggunaan hukuman fisik ini dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional dan psikologis anak.
5. Tidak Membiarkan Anak Memilih
Orang tua dengan pendekatan ini sering kali tidak memberikan anak kesempatan untuk membuat keputusan sendiri atau memberikan masukan. Keputusan sering diambil oleh orang tua tanpa melibatkan anak, bahkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan hidup anak.
6. Tidak Mempercayai Anak
Strict parents cenderung meragukan kemampuan dan penilaian anak. Mereka tidak memberi anak kesempatan untuk membuktikan diri atau membuat keputusan sendiri. Ini bisa merusak rasa percaya diri anak dan membuat mereka merasa tidak kompeten.
7. Mempermalukan Anak
Beberapa strict parents menggunakan taktik mempermalukan anak di depan umum sebagai bentuk hukuman atau motivasi. Ini dapat menghasilkan efek yang merugikan pada harga diri anak dan merusak hubungan antara orang tua dan anak.
8. Tidak Memberikan Waktu Luang
Strict parents mungkin menuntut banyak dari anak-anak mereka dalam hal tugas, pekerjaan rumah, atau prestasi akademik. Namun, mereka jarang memberikan waktu luang bagi anak untuk bermain, berkreasi, atau bersantai.
9. Enggan Memberikan Penjelasan
Orang tua dengan pendekatan ini sering tidak menjelaskan alasan di balik aturan atau tuntutan yang mereka terapkan. Mereka mengharapkan anak untuk tunduk tanpa memahami latar belakang atau tujuan dari peraturan tersebut.
Masih melansir dari sumber yang sama, bahwa strict parents atau orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter umumnya menunjukkan ciri-ciri berupa kontrol yang sangat tinggi terhadap perilaku anak dan disiplin yang kaku tanpa ruang untuk diskusi.Â
Mereka menetapkan aturan yang tegas dan ekspektasi tinggi, serta jarang memberikan keleluasaan bagi anak untuk mengambil keputusan sendiri. Orang tua dengan tipe ini cenderung menilai anak berdasarkan pencapaian dan kepatuhan, bukan pada proses pembelajaran atau usaha yang dilakukan.
Dampak Pola Asuh Strict Parents pada Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4440596/original/035638500_1684993940-caleb-woods-VZILDYoqn_U-unsplash.jpg)
Pola asuh strict parents memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan anak, yang umumnya bersifat negatif. Berikut adalah dampak-dampak dari pola asuh strict parents.
1. Anak Tidak Bahagia
Dampak pertama dari pola asuh strict parents adalah kemungkinan anak merasa tidak bahagia dan bahkan mengalami depresi. Kekerasan, ketidak fleksibilan, dan kurangnya dukungan emosional dari orang tua dapat menyebabkan anak merasa tertekan dan terhambat dalam ekspresi emosi mereka.
2. Anak dapat Memiliki Gangguan Perilaku
Pola asuh yang keras dan otoriter dapat memicu gangguan perilaku pada anak. Anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dari orang tua mereka. Jika mereka sering mengalami disiplin yang keras, ancaman, atau hukuman fisik, mereka mungkin akan meniru perilaku agresif, pemarah, atau impulsif dalam interaksi dengan orang lain.
3. Anak Lebih Suka Berbohong
Anak yang dibesarkan dengan pola asuh strict parents mungkin cenderung lebih suka berbohong. Hal ini bisa terjadi karena mereka merasa takut terhadap hukuman atau pengekangan yang mungkin mereka alami jika mereka jujur. Mereka mungkin mencoba menyembunyikan perilaku atau keputusan yang mereka pikir akan menimbulkan kemarahan atau hukuman.
4. Menjadi Anak yang Suka Melakukan Bullying
Anak yang tumbuh dalam lingkungan otoriter dapat menginternalisasi pola perilaku kasar dan agresif sebagai bentuk kontrol atau kekuasaan. Ini bisa mengakibatkan perilaku bullying, di mana anak mungkin menggunakan intimidasi atau kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mirip dengan cara orang tua mendisiplinkan mereka.
5. Anak Tidak Memiliki Rasa Percaya Diri
Gaya asuh yang sangat keras dan kaku dari strict parents dapat mereduksi rasa percaya diri anak. Kurangnya kesempatan untuk berbicara atau mempengaruhi keputusan, serta perasaan bahwa pendapat mereka tidak dihargai, dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri anak.
Pola asuh yang terlalu ketat dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak karena menekan kebebasan dan ekspresi emosional mereka. Anak-anak yang dibesarkan dengan pendekatan otoriter sering menunjukkan tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi karena selalu merasa berada di bawah tekanan ekspektasi orang tua.
Ketiadaan ruang untuk dialog dan kesalahan membuat anak merasa tidak aman dan tidak percaya diri dalam menjalani kehidupan sosial maupun akademik.
Mereka juga lebih rentan terhadap gangguan mood seperti depresi atau perasaan tidak berharga karena penghargaan dari orang tua hanya diberikan saat mereka memenuhi standar tertentu. Melansir dari RosyCheeked.com, tekanan psikologis ini dapat mengakibatkan gangguan jangka panjang seperti gangguan kecemasan atau bahkan kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat di masa dewasa.
Melansir dari Times of India digarisbawahi bahwa dampak pola asuh ketat dapat mencakup rendahnya keterampilan sosial dan tingginya kecenderungan untuk mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonal di masa depan.
Advertisement
Q&A Strict Parents
1. Apa yang dimaksud dengan strict parents?
Strict parents adalah orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter, di mana anak-anak harus mematuhi aturan yang ketat tanpa ruang untuk negosiasi. Mereka biasanya menuntut kepatuhan tinggi dan memberikan sedikit atau bahkan tidak ada toleransi terhadap kesalahan anak. Pendekatan ini lebih fokus pada kontrol daripada komunikasi terbuka.
2. Apa ciri utama dari strict parents?
Ciri-ciri strict parents meliputi penegakan aturan yang kaku, hukuman yang konsisten jika melanggar, ekspektasi tinggi, dan kurangnya komunikasi dua arah. Mereka jarang mendengarkan pendapat anak dan cenderung menganggap bahwa orang tua selalu benar. Keintiman emosional sering kali minim dalam hubungan dengan anak.
3. Mengapa beberapa orang tua memilih menjadi strict parents?
Sebagian orang tua percaya bahwa kedisiplinan yang ketat akan membentuk karakter yang kuat, tangguh, dan sukses. Ada juga yang mengadopsi pola asuh ini karena pengalaman masa kecilnya atau norma budaya yang mendukung otoritas tinggi dari orang tua. Mereka khawatir bahwa terlalu lembut akan membuat anak manja atau tidak menghargai aturan.
4. Apa dampak positif dari strict parents?
Jika diterapkan secara seimbang, disiplin dari strict parents dapat membantu anak memahami batasan dan tanggung jawab. Beberapa anak dari orang tua yang ketat menunjukkan prestasi akademik tinggi karena terbiasa dengan struktur dan disiplin. Namun, dampak positif ini sangat tergantung pada bagaimana kedisiplinan disertai dengan dukungan emosional.
5. Apa dampak negatif dari strict parents terhadap anak?
Pola asuh yang terlalu ketat dapat menyebabkan anak merasa tertekan, tidak bebas mengekspresikan diri, bahkan mengalami kecemasan atau depresi. Anak juga bisa menjadi terlalu patuh dan tidak mandiri, atau sebaliknya, memberontak karena merasa terkekang. Kurangnya kehangatan dan empati dapat merusak hubungan jangka panjang antara orang tua dan anak.
6. Bagaimana strict parenting mempengaruhi kesehatan mental anak?
Strict parenting yang minim komunikasi emosional bisa meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan rendahnya harga diri. Anak-anak dalam pola asuh ini sering merasa bahwa mereka hanya dicintai jika berperilaku sesuai harapan orang tua. Hal ini menimbulkan tekanan internal yang berdampak pada stabilitas psikologis mereka.
7. Apakah strict parenting memengaruhi perkembangan sosial anak?
Ya, anak-anak dari strict parents bisa mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial karena tidak terbiasa dengan negosiasi atau empati. Mereka bisa menjadi terlalu patuh, kurang asertif, atau sebaliknya—sangat tertutup dan tidak percaya pada orang lain. Ini dapat memengaruhi hubungan mereka dengan teman sebaya maupun pasangan di masa depan.
8. Apakah strict parents selalu salah?
Tidak selalu. Disiplin adalah bagian penting dari pengasuhan, tetapi perlu diimbangi dengan kasih sayang, komunikasi, dan fleksibilitas. Jika strict parenting disertai empati dan keterbukaan, maka anak bisa tumbuh dengan struktur yang sehat. Masalah terjadi ketika kontrol berlebihan tidak dibarengi dengan dukungan emosional.
9. Bagaimana cara orang tua mengubah pola strict parenting menjadi lebih sehat?
Orang tua bisa mulai dengan membuka ruang diskusi, menghargai pendapat anak, dan menyesuaikan aturan sesuai usia dan kemampuan anak. Fokus harus beralih dari hukuman menjadi bimbingan. Memberikan contoh, mendengarkan secara aktif, dan menunjukkan empati adalah langkah awal untuk membangun pola asuh yang lebih seimbang.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5164799/original/043621100_1742183216-dbe96acd3b3529457b7c0146890290a1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4226135/original/015262000_1668425048-father_and_son.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258200/original/037838200_1781326433-000_B6XQ9ZM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258839/original/015610100_1781416618-IMG-20260614-WA0022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513884/original/037538000_1782437861-AP26176736605560.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513056/original/032314400_1782436532-jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513569/original/057945500_1782437405-063_2283345869.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8512971/original/012018800_1782436430-000_B8CY2VE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260100/original/015804900_1781568479-000_B7869A8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263848/original/006023700_1782021745-000_B7RA6WF.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263734/original/051420000_1781976439-063_2282511619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)