Liputan6.com, Jakarta Upacara Ngaben adalah suatu upacara yang dilakukan masyarakat Hindu Bali sebelum mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Setiap yang hidup pasti akan mati, termasuk manusia. Ketika seseorang meninggal, jenazahnya harus diurus berdasarkan agamanya masing-masing. Jika yang meninggal adalah seorang penganut agama Hindu, harus diurus dengan prosesi tertentu. Prosesi ini di masyarakat Bali disebut dengan Ngaben.
Upacara Ngaben adalah upacara yang dilakukan untuk menyucikan roh. Sebab dalam kepercayaan agama Hindu, manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Jika seseorang meninggal, yang mati hanya badan kasarnya, sedangkan rohnya tidak sehingga untuk memisahkan roh dengan badan kasarnya dan menyucikan roh tersebut perlu dilakukan upacara Ngaben.
Advertisement
Bagi masyarakat Bali, Upacara Ngaben adalah peristiwa yang sangat penting karena dengan upacara ini keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh orang yang telah meninggal dari ikatan-ikatan duniawi menuju surga dan menunggu reinkarnasi.
Untuk memahami lebih dalam mengenai apa itu upacara Ngaben, simak penjelasan selengkapnya berikut ini seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (18/6/2025).
Pengertian dan Konsep Upacara Ngaben
Dalam artikel berjudul "Upacara Ngaben: Kontestasi Masyarakat dan Daya Tarik Wisata" (Maha Widya Duta Volume 1, No. 1, Juli 2017), dijelaskan bahwa Ngaben adalah ritual upacara mengurus mayat, baik yang melibatkan proses pembakaran atau kremasi, maupun tidak. Sebab, dalam artikel tersebut dijelaskan, ada tradisi ngaben yang tidak melibatkan pembakaran mayat.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Ngaben adalah istilah yang berasal dari  "beya," yang berarti bekal atau jenis upacara yang diperlukan dalam ngaben. Kemudian, dalam bahasa Indonesia, "beya" berubah menjadi "biaya" atau "prabeya" dalam bahasa Bali. Orang yang menyelenggarakan upacara ini disebut "meyanin."
Kata "Ngaben" atau "meyanin" sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara "sawa wedhana," yaitu upacara pelayanan jenazah bagi orang yang telah meninggal. Dalam bahasa Bali yang bersifat halus, ngaben disebut "Palebon," yang berasal dari kata "lebu" yang berarti tanah. Dengan demikian, Palebon berarti mengubah menjadi abu. Ada dua cara untuk melaksanakan upacara ini, yaitu dengan membakar atau menanamkan sisa-sisa jenazah ke dalam tanah, namun cara membakar dianggap paling cepat.
Konsep filosofis dari upacara ngaben didasarkan pada konsepsi sarira menurut Wrhaspati Tattwa. Menurutnya, Atman (jiwa) diselubungi oleh tiga lapisan sarira yang disebut Tri Sarira. Sarira paling kasar disebut sthula sarira, yang lebih halus adalah suksma sarira, dan yang paling halus adalah atntah karana sarira. Upacara ngaben bertujuan untuk melepaskan Atman dari ikatan sthula sarira, yang sering disebut sebagai pitra yadnya.
Sementara itu menurut Renward Brandstetter, Ngaben adalah istilah yang berasal dari bahasa Bali "api," yang kemudian mendapatkan prefiks "ng" dan sufiks "an," sehingga menjadi "ngapain." Setelah disandikan, kata "ngapen" berubah menjadi "ngaben," yang artinya menuju api. Dalam ajaran Hindu, api melambangkan kekuatan Dewa Brahma, sehingga "ngaben" bermakna menuju Brahma atau mengantarkan Sanghyang Atman menuju alam Brahman atau alam ketuhanan.
Dari serangkaian penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ngaben adalah upacara penyucian roh oleh masyarakat Hindu Bali, untuk mengembalikan roh orang yang sudah meninggal kembali ke alam asalnya dengan lebih cepat dibandingkan dengan penguburan biasa lewat tanah.
Advertisement
Tujuan Upacara Ngaben
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3911452/original/093054500_1642831002-20220122-Ngaben-Raja-Bali-8.jpg)
Tujuan Upacara Ngaben adalah dua bagian penting yang menjadi pijakan dalam tradisi Hindu di Bali. Pertama, tujuan upacara Ngaben adalah untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal dunia, yang dalam kepercayaan Hindu disebut atma. Proses ini dianggap krusial dalam membebaskan atman dari ikatan duniawi dan memungkinkannya mencapai moksa atau surga.
Dasar untuk upacara Ngaben bisa ditemukan dalam kitab suci Veda Samhita atau isi dari Yajurveda. Di sini, dijelaskan bahwa setiap orang Hindu yang telah meninggal wajib diubah menjadi abu melalui upacara Ngaben untuk mencapai moksa atau surga.
Kedua, tujuan upacara Ngaben adalah untuk mengembalikan unsur-unsur pembentuk badan kasar manusia, yang disebut Panca Maha Bhuta, ke alam asalnya. Panca Maha Bhuta terdiri dari lima elemen penting yaitu bumi, air, api, udara, dan ether atau ruang. Proses pengembalian elemen-elemen ini diyakini sebagai bagian penting dalam siklus kehidupan dan kematian dalam ajaran Hindu.
Selain dua tujuan utama di atas, upacara Ngaben juga merupakan ekspresi rasa ikhlas dan cinta kasih dari keluarga yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal. Dengan melaksanakan upacara ini dengan penuh keikhlasan, keluarga berharap roh orang yang meninggal akan mendapatkan kedamaian dan reinkarnasi yang baik dalam kehidupan berikutnya.
Dalam keseluruhan, Upacara Ngaben memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Hindu di Bali. Melalui ritual ini, mereka berusaha untuk menghormati, menyucikan, dan melepaskan roh yang meninggal dunia serta mengharapkan keselamatan dan kedamaian bagi mereka yang telah berpulang.
Jenis-Jenis Upacara Ngaben
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3911447/original/070821200_1642830998-20220122-Ngaben-Raja-Bali-3.jpg)
Upacara Ngaben adalah upacara yang dapat dibedakan berdasarkan usia orang yang meninggal dan situasi kematian. Perbedaan ini mempengaruhi tata cara pelaksanaan Upacara Ngaben.
Ada lima jenis Upacara Ngaben yang umum dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali. Berikut adalah penjelasan singkat tentang masing-masing jenis upacara Ngaben beserta kapan biasanya mereka dilakukan:
1. Ngaben Sawa Wedana
Ngaben Sawa Wedana adalah jenis Upacara Ngaben yang paling umum dan sering disebut. Pada jenis ini, jenazah yang akan dikremasi masih memiliki tubuh fisik. Sebelum Upacara Ngaben dilakukan, usaha dilakukan untuk mencegah tubuh jenazah membusuk.
2. Ngaben Asti Wedana
Berbeda dengan Ngaben Sawa Wedana, Ngaben Asti Wedana dilakukan setelah jenazah dikubur. Biasanya, saat Upacara Ngaben dilaksanakan, hanya tersisa tulang-belulang jenazah setelah penggalian dari makam.
3. Swasta
Swasta merujuk pada Upacara Ngaben yang dilakukan tanpa jenazah untuk dikremasi. Hal ini terjadi ketika jenazah hilang atau tidak ditemukan, seperti dalam kecelakaan pesawat atau peristiwa terorisme. Pada kasus ini, penggantian jenazah dilakukan dengan lukisan atau foto jenazah dan kayu cendana sebagai representasi.
4. Ngelungah
Ngelungah adalah jenis Upacara Ngaben yang didasarkan pada usia seseorang. Jenazah anak yang belum tanggal gigi atau berganti gigi susu akan dikremasi melalui Ngelungah. Dengan demikian, jenazah yang dikremasi biasanya berusia 5-6 tahun.
5. Warak Kruron
Warak Kruron adalah jenis Upacara Ngaben yang mengkremasi bayi. Upacara ini dilakukan untuk anak-anak yang berusia 3-12 bulan. Dalam konteks ini, bayi yang meninggal akan disucikan melalui Warak Kruron.
Advertisement
Tahap-Tahap Upacara Ngaben
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3911445/original/065702100_1642830996-20220122-Ngaben-Raja-Bali-1.jpg)
Upacara Ngaben adalah prosesi panjang yang terdiri dari beberapa tahapan penting. Berikut adalah penjelasan tentang setiap tahapannya:
1. Ngulapin
Tahapan pertama dalam Upacara Ngaben adalah Ngulapin, yang dilakukan di Pura Dalem. Pihak keluarga melakukan ritual permohonan izin dan restu kepada Dewi Durga. Dewi Durga dianggap sebagai pelindung roh yang meninggal dan berperan penting dalam upacara ini.
2. Meseh Lawang
Setelah Ngulapin, dilakukan Meseh Lawang di Catus Pata atau di bibir kuburan. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memulihkan cacat atau kerusakan pada jenazah secara simbolis. Ini merupakan bagian dari persiapan agar roh jenazah dapat berangkat dengan tenang ke alam roh.
3. Mesiram atau Mabersih
Tahap selanjutnya adalah Mesiram atau Mabersih, di mana jenazah yang telah dikubur, dan sering kali hanya tersisa tulang-belulang, akan dimandikan. Proses ini dilakukan di rumah duka dan menjadi bagian dari upacara pembersihan fisik dan spiritual sebelum penguburan kembali.
4. Ngaskara
Ngaskara adalah tahap upacara penyucian jiwa tahap awal. Ini melibatkan serangkaian ritual dan doa untuk membersihkan jiwa jenazah dari dosa dan beban negatifnya, sehingga jiwa tersebut dapat menuju ke alam roh dengan kesucian.
5. Nerpana
Nerpana adalah tahap upacara persembahan sesajen atau bebanten kepada jiwa yang telah meninggal. Bebanten adalah persembahan makanan dan bunga yang diyakini memberikan dukungan dan keberkahan bagi roh yang berpulang.
6. Ngeseng Sawa
Puncak dari prosesi Ngaben adalah Ngeseng Sawa, yaitu pembakaran jenazah. Upacara ini dilakukan di setra atau kuburan. Jenazah yang akan dibakar diletakkan di dalam replika lembu yang disebut Petulangan. Petulangan berfungsi sebagai tempat pembakaran dan pengantar roh ke alam roh sesuai dengan perbuatan dan karma jenazah selama hidupnya.
7. Nuduk Galih
Setelah jasad dibakar, dilakukan upacara Nuduk Galih, di mana keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang (abu) jenazah. Ini adalah tahapan yang sangat emosional dan berarti bagi keluarga, karena mereka mengumpulkan sisa-sisa jenazah yang tersisa setelah proses pembakaran.
8. Nganyut
Prosesi terakhir adalah Nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke laut. Tahapan ini merupakan simbolis pengembalian unsur air dan bersatunya kembali jiwa yang telah berpulang dengan alam. Ini menandakan selesainya prosesi Ngaben dan menjadi momen perpisahan terakhir dengan jenazah secara fisik.
Semua tahapan ini memiliki makna dan simbolis yang mendalam bagi masyarakat Hindu di Bali. Upacara Ngaben adalah momen penting dalam menghormati dan memberikan penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal dunia, serta melepaskan roh menuju alam roh dan moksa.
Perkembangan Ngaben di Era Digital
Memasuki tahun 2025, tradisi Ngaben mengalami adaptasi dengan perkembangan teknologi modern. Banyak keluarga kini menggunakan platform digital untuk mengundang kerabat yang berada di luar negeri melalui video call, memungkinkan mereka untuk tetap berpartisipasi dalam upacara meskipun tidak hadir secara fisik.
Dokumentasi upacara Ngaben juga semakin berkembang dengan penggunaan drone untuk merekam prosesi dari udara, memberikan perspektif yang lebih komprehensif tentang kemegahan upacara ini. Media sosial telah menjadi sarana untuk berbagi momen-momen sakral ini dengan keluarga besar yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Namun demikian, inti dan nilai-nilai spiritual dari upacara Ngaben tetap dijaga dengan ketat. Penggunaan teknologi hanya sebagai pelengkap untuk mempermudah pelaksanaan, bukan untuk mengubah esensi ritual yang telah turun-temurun.
Â
Makna Simbolis dalam Upacara Ngaben
Setiap elemen dalam upacara Ngaben memiliki makna simbolis yang mendalam. Petulangan yang berbentuk lembu melambangkan kendaraan menuju alam roh, sementara api yang digunakan untuk membakar jenazah melambangkan kekuatan penyucian yang akan membebaskan atman dari ikatan duniawi.
Warna-warna yang digunakan dalam sesajen juga memiliki makna khusus. Warna putih melambangkan kesucian, kuning melambangkan keagungan, merah melambangkan kekuatan, dan hitam melambangkan kekuatan pelindung. Bunga-bunga yang digunakan seperti frangipani, mawar, dan melati dipilih karena aromanya yang harum diyakini dapat menenangkan roh yang berpulang.
Gamelan yang mengiringi prosesi bukan hanya sebagai pengiring, tetapi juga sebagai media komunikasi dengan alam roh. Setiap dentingan gamelan diyakini membawa doa dan harapan keluarga kepada sang pencipta untuk keselamatan roh yang telah berpulang.
Â
Advertisement
Q&A (FAQ): Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Upacara Ngaben
Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan seluruh prosesi Ngaben?Â
A: Prosesi Ngaben biasanya membutuhkan waktu 3-7 hari, tergantung pada kompleksitas upacara dan status sosial almarhum. Untuk keluarga bangsawan atau tokoh penting, prosesi bisa berlangsung hingga beberapa minggu.
Â
Q: Apakah ada perbedaan biaya antara berbagai jenis upacara Ngaben?Â
A: Ya, biaya sangat bervariasi tergantung jenis Ngaben yang dipilih. Ngaben Sawa Wedana umumnya memerlukan biaya paling besar karena melibatkan pembuatan Petulangan dan berbagai sesajen. Sementara Warak Kruron untuk bayi relatif lebih sederhana dan terjangkau.
Â
Q: Bolehkah non-Hindu menghadiri upacara Ngaben?Â
A: Ya, upacara Ngaben terbuka untuk umum dan non-Hindu dipersilakan hadir sebagai bentuk penghormatan. Namun, pengunjung diharapkan menghormati aturan dan tata cara yang berlaku, termasuk berpakaian sopan dan tidak mengganggu jalannya upacara.
Â
Q: Apa yang terjadi jika keluarga tidak mampu melaksanakan Ngaben?Â
A: Masyarakat Bali memiliki sistem gotong royong yang kuat. Biasanya banjar (komunitas lokal) akan membantu keluarga yang kurang mampu. Ada juga program Ngaben massal yang diselenggarakan pemerintah daerah untuk meringankan beban masyarakat.
Â
Q: Bagaimana cara mempersiapkan diri sebagai keluarga yang akan melaksanakan Ngaben?Â
A: Persiapan dimulai dengan konsultasi kepada pandita atau pemangku untuk menentukan hari baik. Keluarga perlu mempersiapkan dana, memesan Petulangan, menyiapkan sesajen, dan mengundang kerabat. Proses persiapan biasanya memakan waktu beberapa bulan.
Â
Q: Apakah tradisi Ngaben akan terus bertahan di masa depan?Â
A: Tradisi Ngaben diprediksi akan terus bertahan karena merupakan bagian integral dari identitas budaya Bali. Generasi muda Hindu Bali umumnya masih menghormati dan melaksanakan tradisi ini, meski dengan beberapa adaptasi sesuai perkembangan zaman.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3051584/original/034158100_1776315691-3972.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3911451/original/009921000_1642831002-20220122-Ngaben-Raja-Bali-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3051591/original/000650000_1657289366-IMG_20220526_150737_149.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269025/original/029326100_1782119069-063_2281966729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620430/original/011957700_1782610877-000_B8JY4LY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8620429/original/007432300_1782610876-000_B8JY7M2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322679/original/008420700_1782191790-Amine_Gouiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)