Liputan6.com, Jakarta - Cara membuat batik jumputan dimulai dari teknik menjumput, mengikat, lalu mencelupkan kain ke dalam pewarna. Setelah kering, ikatan dilepas untuk menampilkan motif alami yang unik.
Sumber Permadani & Wijayanto (2024) menyebutkan bahwa cara membuat batik jumputan dilakukan dengan mengikat kuat bagian kain lalu mencelupkannya dalam pewarna. Proses ini dianggap sederhana, tetapi sangat kreatif dan bernilai seni tinggi, dilansir dari journal.unnes.ac.id.
Cara membuat batik jumputan bisa dilakukan dengan alat sederhana seperti kain mori, benang atau karet, dan ember pewarna. Teknik tambahan seperti jahitan atau benda kecil juga dapat dipakai untuk memperkaya motif.
Advertisement
Berikut ini cara membuat batik jumputan yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (20/6/2025).
Cara Membuat Batik Jumputan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1252708/original/047082400_1464866841-Batik_Jumputan.jpg)
Batik jumputan dibuat dengan teknik ikat-celup, di mana kain terlebih dahulu dijumput atau dikerut, lalu diikat erat dengan benang, karet, atau benda kecil seperti kerikil, kacang, atau marbles untuk mencegah pewarnaan merata. Menurut Permadani & Wijayanto (2024) dalam jurnal Imajinasi: Jurnal Seni, “membuat batik dengan cara jumputan adalah mengikat kencang bagian kain … kemudian dicelupkan pada pewarna pakaian”.
Setelah kain diikat dan dicelup, benang dilepas untuk menampilkan motif tidak beraturan dan unik, selanjutnya kain dicuci, difiksasi, dan dijemur hingga kering.
Batik jumputan adalah salah satu jenis batik yang dibuat dengan cara mengecatkan malam pada kain dengan teknik menitik-menitikkan malam menggunakan alat yang disebut jumputan. Batik jumputan seringkali disebut juga sebagai batik tulis karena membutuhkan keterampilan tangan yang tinggi dan tidak bisa dilakukan dengan mesin.
Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat batik jumputan:
1. Persiapan bahan dan alat
Sebelum memulai membuat batik jumputan, pastikan bahwa semua bahan dan alat yang dibutuhkan telah tersedia dan dalam kondisi yang baik. Berikut adalah daftar bahan dan alat yang dibutuhkan:
- Kain putih yang sudah dicuci bersih
- Jumputan (terbuat dari kayu atau bambu dengan ujung yang runcing)
- Kuas dan lilin batik (bisa dibeli di toko-toko bahan batik)
- Kompor dan pewarna batik (bisa dibeli di toko-toko bahan batik)
- sabun cuci pakaian
- Malam (bahan lilin khusus untuk membatik)
Pastikan semua alat dan bahan yang digunakan bersih dan kering untuk menghindari terjadinya kesalahan saat membuat batik jumputan.
2. Membuat desain batik
Cara membuat batik jumputan selanjutnya adalah tentukan terlebih dahulu desain batik yang akan dibuat. Desain ini bisa dibuat dengan menggunakan pensil atau kapur putih. Pastikan desain yang dibuat terlihat jelas dan rapi, agar hasil akhir batik jumputan nantinya akan terlihat lebih baik.
3. Mencelupkan kain ke dalam malam
Cara membuat batik jumputan selanjutnya adalah mencelupkan kain putih ke dalam malam. Malam adalah bahan yang digunakan untuk menahan warna dari pewarna, agar tidak meresap ke area tertentu pada kain. Celupkan kain putih ke dalam malam, dan biarkan selama kurang lebih 30 menit agar malam meresap ke dalam serat kain. Angkat kain dan peras hingga kain tidak terlalu basah.
4. Menjumputkan malam pada kain
Setelah mencelupkan kain ke dalam malam, selanjutnya adalah membuat jumputan pada kain. Jumputan adalah alat yang digunakan untuk menitikkan malam pada kain, dengan cara menekan ujung jumputan pada malam lalu menempelkannya pada kain. Untuk membuat batik jumputan, Anda perlu menempatkan jumputan pada malam dan kemudian menekannya pada kain putih. Titik-titik malam yang dihasilkan harus teratur, dan memiliki jarak yang sama untuk menghasilkan motif yang rapi. Ulangi langkah ini hingga seluruh area yang ingin diwarnai sudah ditutupi dengan titik-titik malam.
Advertisement
5. Mencelupkan kain ke dalam pewarna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3254657/original/030023000_1601522259-camille-bismonte-vUc03gxjEY4-unsplash.jpg)
Cara membuat batik jumputan selanjutnya adalah mencelupkan kain ke dalam pewarna yang sudah dipanaskan, sesuai dengan warna yang diinginkan. Pewarnaan bisa dilakukan dalam satu warna, atau beberapa warna sesuai dengan desain batik yang diinginkan. Biarkan kain dalam pewarna selama kurang lebih 30 menit, agar warna meresap ke dalam serat kain. Angkat kain dan bilas dengan air dingin hingga warna tidak luntur.
6. Melelehkan malam dari kain
Setelah kain selesai diwarnai, selanjutnya adalah melelehkan malam dari kain. Untuk melakukannya, Anda perlu menempatkan kain di atas kompor dengan api kecil, dan menempatkan kertas koran di bawahnya untuk menyerap malam yang meleleh. Perlahan-lahan panaskan kain hingga malam yang menutupi kain meleleh, dan menyerap ke dalam kertas koran. Lakukan langkah ini dengan hati-hati untuk menghindari kain terbakar.
7. Mencuci kain
Setelah malam telah meleleh dari kain, selanjutnya adalah mencuci kain dengan air dan sabun cuci pakaian. Gunakan air dingin dan gosok kain dengan lembut untuk menghilangkan sisa malam, dan pewarna yang tidak terikat pada kain. Lakukan langkah ini hingga kain terlihat bersih dan warnanya tidak luntur lagi.
8. Menjemur kain
Setelah kain selesai dicuci, langkah terakhir adalah menjemur kain hingga kering. Jemurlah kain di tempat yang teduh dan terhindar dari sinar matahari langsung untuk menghindari warnanya memudar. Biarkan kain kering sepenuhnya sebelum digunakan atau dijahit menjadi produk batik jumputan.
Meski terlihat sederhana, cara membuat batik jumputan membutuhkan kesabaran dan ketelitian agar hasil akhirnya bisa terlihat rapi dan indah. Namun, dengan mempraktikkan dan mempelajari teknik ini secara terus-menerus, Anda akan semakin mahir dalam membuat batik jumputan dan menghasilkan karya yang semakin menakjubkan. Selamat mencoba!
Teknik Membuat Pola
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4221221/original/063862700_1668052266-10_november_2022-6.jpg)
Batik jumputan, juga dikenal sebagai tie‑dye atau ikat celup, adalah jenis batik yang menggunakan teknik tanpa malam (wax), di mana motif terbentuk dari area kain yang ditutup oleh ikatan sehingga tidak menyerap warna.
Teknik ini dikenal luas di Jawa, Bali, Toraja, hingga Palembang, di Palembang disebut kain pelangi dan menghasilkan motif abstrak dengan variasi warna yang cerah dan tak terduga, dilansir dari id.scribd.com.
Teknik paling dasar adalah ikat tunggal, yakni menjumput kain membentuk tonjolan kecil (umpama mawar), lalu mengikatnya hingga pewarna hanya menyerap sebagian sehingga membentuk lingkaran bergerigi. Kemudian ada teknik ikat mawar ganda, di mana setelah dijumput, kain ditekan dan diikat berlapis sehingga menghasilkan motif konsentris.
Teknik lainnya adalah ikat silang yang membentuk pola seperti ledakan sinar, serta garis dengan cara mengerut kain memanjang dan mengikat bertahap
Berikut adalah teknik untuk membuat pola lebih rumit dengan menggunakan dua warna:
- Pertama, siapkan kain yang sudah diwarnai dengan warna dasar yang diinginkan dan kain putih yang sama ukurannya.
- Potong kain putih menjadi beberapa bagian sesuai dengan desain yang diinginkan. Anda dapat memotong kain putih dengan bentuk pola yang sederhana atau rumit sesuai dengan keinginan Anda.
- Gunakan gunting kain yang tajam, agar potongan kain putih tidak rusak atau sobek. Setelah itu, letakkan potongan kain putih di atas kain yang sudah diwarnai.
- Pastikan bahwa potongan kain putih tertutup sepenuhnya oleh kain yang sudah diwarnai. Jika potongan kain putih terlalu kecil, Anda bisa menambahkan potongan kain putih lainnya untuk menutupi bagian yang masih kosong.
- Gulung kedua kain bersama-sama ke arah atas untuk membentuk jumputan. Gunakan tali untuk mengikat jumputan agar tetap kokoh dan tidak berubah bentuk saat dicelupkan ke dalam pewarna.
- Celupkan jumputan ke dalam pewarna pertama dan biarkan beberapa saat hingga warna meresap ke dalam kain. Pewarna pertama yang digunakan harus lebih terang daripada warna dasar yang digunakan sebelumnya agar hasilnya lebih kontras.
- Setelah itu, keluarkan jumputan dari pewarna pertama dan biarkan kain mengering. Anda juga bisa memeras kain agar lebih cepat kering.
- Setelah kain kering, lepas tali dan buka jumputan lalu potongan kain putih akan terlihat seperti terputus-putus, dengan warna dari kain yang sudah diwarnai.
- Potongan kain putih yang tidak terkena pewarna pertama masih tetap putih, kemudian potongan kain putih yang masih tertutup pewarna pertama, dan digulung kembali ke arah atas untuk membentuk jumputan kedua.
- Gunakan tali untuk mengikat jumputan agar tetap kokoh, lalu celupkan jumputan kedua ke dalam pewarna kedua dan biarkan beberapa saat hingga warna meresap ke dalam kain.
- Pewarna kedua yang digunakan harus lebih gelap daripada warna pertama agar hasilnya lebih kontras. Setelah selesai dicelupkan, keluarkan jumputan dari pewarna kedua dan biarkan kain mengering.
- Setelah kain kering, lepas tali dan buka jumputan kedua kemudian potongan kain putih, maka akan terlihat seperti terputus-putus dengan warna dari kedua pewarna yang sudah digunakan.
- Terakhir, melelehkan malam dari kain dan mencuci kain seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Dengan menggabungkan teknik ini dengan teknik lainnya, Anda dapat membuat pola batik jumputan yang lebih rumit dan indah. Namun, pastikan Anda memilih pewarna yang sesuai dengan kain dan desain yang ingin dibuat untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Advertisement
Jenis-Jenis Batik Jumputan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3252207/original/092369200_1601355213-batik-2840332_1280.jpg)
Jenis‑jenis batik jumputan dapat dikelompokkan berdasarkan teknik dan motif. Misalnya mawar tunggal dengan satu tonjolan dan motif lingkaran sederhana; mawar ganda yang menciptakan dua lapisan motif konsentris; garis, yang terlihat seperti strip karena pengikatan memanjang; silang untuk efek ledakan pola; serta marbling dengan pengerutan acak menghasilkan efek marmer, dilansir dari journal.unnes.ac.id.
Ada juga jenis jelujur, yaitu motif dengan pola jahitan khusus, serta teknik dengan benda pengisi seperti kerikil untuk menghasilkan motif bulatan kecil.
Batik Jumputan Solo
Batik jumputan Solo merupakan salah satu jenis batik yang paling terkenal di Indonesia. Batik jumputan Solo dibuat dengan menggunakan teknik jumputan yang rumit, di mana benang digunakan untuk mengikat kain sehingga membentuk pola atau desain tertentu. Pola atau motif yang digunakan dalam batik jumputan Solo seringkali memiliki bentuk geometris yang kompleks dan warna yang cerah. Batik jumputan Solo biasanya menggunakan warna dasar hitam, biru, atau cokelat yang dikombinasikan dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, dan hijau.
Batik Jumputan Yogyakarta
Batik jumputan Yogyakarta memiliki ciri khas yang berbeda dengan batik jumputan Solo. Batik jumputan Yogyakarta cenderung menggunakan warna-warna lembut dan pastel seperti pink, hijau muda, atau biru muda. Motif yang sering digunakan dalam batik jumputan Yogyakarta adalah motif bunga, daun, dan binatang seperti burung dan kupu-kupu. Teknik jumputan yang digunakan dalam batik jumputan Yogyakarta juga lebih halus dibandingkan dengan batik jumputan Solo.
Batik Jumputan Gresik
Di Desa Gluranploso, Gresik, teknik batik jumputan melibatkan dua metode utama, yaitu ikat dan jahit. Menurut Journal Batik Jumputan oleh Nani Lailil Islahah Maulidiah (tersaji di Scribd), pengrajin menggunakan tali untuk menjumput bagian kain tertentu sebelum dicelup pewarna—bagian yang diikat kuat akan tetap berwarna putih setelah pencelupan, menciptakan motif alami dan unik. Metode ini khas karena partisipasi komunitas lokal seperti ibu‑ibu PKK—bagian kecil kain dijumput kemudian diikat sehingga saat pewarna diserap, pola yang terbentuk tidak seragam, memberi karakter tekstil yang khas daerah tersebut.
Batik Jumputan Palembang
Pemberdayaan masyarakat di Palembang melalui pelatihan batik jumputan telah dilakukan oleh Universitas Sjakhyakirti. Dalam jurnal JURDIANPASTI (Agustus 2024), Siti Waliah dkk. menyatakan bahwa lebih dari 50 motif kain jumputan diajarkan menggunakan teknik tie‑dye, termasuk motif seperti bintik tujuh, kembang janur, dan motif geometris konsentris. Pelatihan ini tidak hanya mempertahankan teknik ikat-celup tradisional, tapi juga menanamkan nilai kreativitas serta memastikan pewarnaan tetap alami dan stabil melalui pemilihan bahan berbasis katun.
Batik Jumputan Kalimantan (East Kalimantan)
Di Kalimantan Timur, inovasi teknik batik jumputan dipublikasikan dalam jurnal ResearchGate (2022), pengrajin mengembangkan 16 teknik baru, termasuk teknik lipat (folded tie dan folded hem), menghasilkan motif non‑konvensional seperti bentuk tritik selain lingkaran dan garis.
Penelitian tersebut melaporkan bahwa hasilnya menunjukkan daya tahan warna yang baik terhadap pencucian, peluh, dan tekanan panas—skala 4–5 dari 5—serta tingkat penerimaan visual yang tinggi dari masyarakat.
Batik Jumputan Madura
Batik jumputan Madura merupakan jenis batik yang dibuat dengan teknik jumputan yang lebih sederhana, dibandingkan dengan batik jumputan Solo dan Yogyakarta. Motif atau pola yang digunakan dalam batik jumputan Madura cenderung lebih sederhana, dan terdiri dari bentuk-bentuk geometris yang sederhana seperti lingkaran atau segitiga. Warna yang digunakan dalam batik jumputan Madura biasanya cerah dan mencolok seperti merah, hijau, atau biru.
Batik Jumputan Bali
Batik jumputan Bali seringkali menggunakan warna-warna alami dan lembut seperti cokelat atau biru tua. Motif yang sering digunakan dalam batik jumputan Bali adalah motif flora dan fauna seperti daun, bunga, burung, dan kupu-kupu. Teknik jumputan yang digunakan dalam batik jumputan Bali juga lebih sederhana dibandingkan dengan batik jumputan Solo atau Yogyakarta.
FAQ
Apa itu batik jumputan?
Batik jumputan adalah teknik pewarnaan kain ikat celup tanpa malam, di mana motif terbentuk dari bagian kain yang diikat sebelum dicelup.
Bagaimana langkah pertama membuat batik jumputan?
Basahi kain, kemudian jumput dan ikat bagian kain sesuai pola yang diinginkan sebelum dicelup ke dalam pewarna.
Alat utama apa yang dibutuhkan?
Dibutuhkan kain mori, benang tebal atau karet, pewarna (alami/sintetis), ember atau bak celup, dan sarung tangan.
Apa perbedaan teknik ikat dan jahit?
Teknik ikat menggunakan tali atau benang untuk menguncang kain, sedang teknik jahit (jelujur) menarik kain dengan benang untuk menahan pewarna.
Jenis motif apa saja yang umum dibuat?
Beberapa motif umum: mawar tunggal, mawar ganda, silang, garis, marbling, dan motif jelujur.
Apa itu batik jumputan Palembang?
Dikenal sebagai kain pelangi, jenis ini menggunakan teknik ikat-celup dengan warna cerah khas daerah Palembang.
Bisakah membuat pola yang lebih detail?
Ya, pola detail dapat dibuat dengan teknik jahitan yang rapat atau menambah benda kecil seperti kerikil dalam ikatan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3252200/original/094313900_1601354883-indonesia-4614986_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3051581/original/016118100_1677134088-161278196_728489364509279_1743616452774133653_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259121/original/085743200_1781464083-063_2281573951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5241643/original/000306500_1749004088-AP25154539148672.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258799/original/021874200_1781411244-brasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8658507/original/009732800_1782681457-000_B8LH2L7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8512971/original/012018800_1782436430-000_B8CY2VE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8623031/original/006534100_1782616032-063_2283182531.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8660431/original/044103500_1782685503-Canada_s_Stephen_Eustaquio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8659951/original/005175900_1782684619-000_B8LH2KW.jpg)