Liputan6.com, Jakarta Setiap orang pasti pernah mengalami fase sulit dalam hidup yang menguji ketahanan mental. Memahami positif thinking artinya menjadi langkah awal untuk merespons tantangan tersebut secara lebih konstruktif dan memberdayakan diri sendiri.
Positif thinking artinya bukan sekadar mengabaikan masalah atau berpura-pura bahagia setiap saat. Berpikir positif bukan berarti mengabaikan situasi hidup yang kurang menyenangkan, melainkan mendekati ketidaknyamanan dengan cara yang lebih positif dan produktif.
Mengutip dari jurnal penelitian di National Center for Biotechnology Information (NCBI), menurut McGrath, positif thinking adalah istilah luas yang merujuk pada sikap yang terwujud dalam pikiran, tindakan, perasaan, dan kata-kata seseorang, di mana sikap mental yang positif memungkinkan pikiran untuk mendorong pertumbuhan, perluasan, dan pemenuhan diri. Konsep ini menjadi fondasi penting bagi siapa saja yang ingin menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Advertisement
Pengertian Positif Thinking dan Perbedaannya dengan Optimisme Biasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5506990/original/059893400_1771480483-young-lady-blouse-cardigan-showing-winner-gesture-looking-joyful-front-view.jpg)
Secara mendasar, positif thinking artinya suatu pola pikir yang berfokus pada aspek kebaikan dan optimisme dalam memandang kehidupan. Ini merupakan pendekatan mental yang mendorong seseorang untuk mencari sisi positif dalam situasi sulit, serta meyakini adanya potensi hasil terbaik dari setiap tantangan yang dihadapi. Beberapa studi menunjukkan bahwa sifat-sifat kepribadian seperti optimisme dan pesimisme dapat memengaruhi banyak aspek kesehatan dan kesejahteraan, di mana berpikir positif yang biasanya menyertai optimisme merupakan bagian kunci dari manajemen stres yang efektif, dan manajemen stres yang efektif dikaitkan dengan banyak manfaat kesehatan.
Penting untuk memahami bahwa positif thinking berbeda dari sekadar optimisme biasa. Menurut psikolog positif Martin Seligman, "berpikir positif sesungguhnya berarti mendekati tantangan hidup dengan pandangan yang positif" — yakni mencari sisi terang alih-alih hanya berfokus pada apa yang salah. Pendekatan ini bukan tentang menekan emosi negatif, melainkan tentang bagaimana merespons emosi dan situasi tersebut secara konstruktif.
Dilansir dari Mayo Clinic, berpikir positif sering dimulai dengan self-talk atau berbicara pada diri sendiri, yaitu aliran pikiran tanpa suara yang terus mengalir di kepala, di mana pikiran-pikiran otomatis ini bisa bersifat positif maupun negatif, dan sebagian berasal dari logika serta akal sehat. Jika sebagian besar pikiran dalam kepala bersifat negatif, seseorang cenderung menjadi pesimis. Sebaliknya, bila pikiran positif mendominasi, seseorang akan lebih optimis dalam menjalani hidup.
Psikolog positif Barbara Fredrickson, dikutip dari PositivePsychology.com, menyatakan, "Kepositifan tidak sekadar mengubah isi pikiran Anda — ia memperluas rentang kemungkinan yang Anda lihat." Berpikir positif membuka cakrawala berpikir yang lebih luas, mendorong kreativitas, dan memungkinkan seseorang melihat solusi yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Advertisement
Landasan Sains di Balik Positif Thinking: Teori Broaden-and-Build dan Neuroplastisitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4591756/original/025183600_1695901854-arrangement-beautiful-bloomed-flowers_1_.jpg)
Berpikir positif bukan sekadar filosofi perasaan baik tanpa dasar ilmiah. Berdasarkan riset dari British Academy for Training and Development, berpikir positif lebih dari sekadar konsep filosofi perasaan baik — ia secara ilmiah terbukti dalam hampir semua kasus memberikan peningkatan yang signifikan pada kesejahteraan mental dan fisik secara keseluruhan, mulai dari perbaikan kimia otak hingga hasil kesehatan jangka panjang.
Salah satu teori ilmiah paling berpengaruh yang menjelaskan bagaimana pikiran positif bekerja adalah Broaden-and-Build Theory yang dikembangkan oleh Barbara Fredrickson pada tahun 1998. Mengacu pada riset yang dipublikasikan di Wikipedia dan berbagai jurnal ilmiah, teori ini menyatakan bahwa emosi positif memperluas kesadaran seseorang dan mendorong pikiran serta tindakan yang baru dan eksploratif, di mana seiring waktu, repertoar perilaku yang diperluas ini membangun keterampilan dan sumber daya yang berguna, termasuk sumber daya fisik, intelektual, sosial, dan psikologis.
Proposisi kunci dari teori ini adalah bahwa emosi positif memperluas repertoar pikiran-tindakan momentan individu: kegembiraan memicu dorongan untuk bermain, ketertarikan memicu dorongan untuk menjelajah, kepuasan memicu dorongan untuk menikmati dan mengintegrasikan, dan cinta memicu siklus berulang dari masing-masing dorongan tersebut dalam hubungan yang aman dan dekat.
Dari sisi neurosains, neuroplastisitas merujuk pada kemampuan otak untuk mengonfigurasi ulang dirinya terkait berpikir positif — otak memicu pelepasan neurotransmiter yang membuat perasaan baik seperti dopamin, serotonin, dan endorfin yang meningkatkan suasana hati dan menurunkan stres. Neurotransmiter ini juga menjernihkan pikiran serta membangun daya tahan emosional dan mekanisme koping seseorang, sehingga berpikir positif memperkuat jalur-jalur saraf yang diarahkan secara optimis.
Henry Ford, pendiri Ford Motor Company pernah menyatakan, "Baik Anda berpikir bisa melakukannya maupun tidak, Anda biasanya benar." Sejalan dengan itu, puluhan tahun riset psikologis menunjukkan bahwa keyakinan sangat berpengaruh. Karya paling berpengaruh berasal dari teori self-efficacy Albert Bandura, di mana ratusan studi menunjukkan bahwa self-efficacy yang lebih tinggi dikaitkan dengan motivasi, ketangguhan, pembelajaran, dan performa yang lebih besar — orang yang percaya bahwa mereka dapat berkembang lebih mungkin menetapkan tujuan yang menantang, menginvestasikan usaha, bertahan menghadapi kesulitan, dan pulih dari kegagalan.
Manfaat Positif Thinking bagi Kesehatan Fisik dan Mental
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4583702/original/023313800_1695284084-portrait-satisfied-young-man-celebrating-success.jpg)
Menerapkan pola pikir positif membawa beragam manfaat signifikan yang telah didukung oleh berbagai penelitian. Dampak positif ini mencakup aspek mental maupun fisik, menunjukkan keterkaitan erat antara apa yang kita pikirkan dengan kondisi tubuh kita. Berikut sejumlah manfaat utama dari berpikir positif yang perlu diketahui.
-
Meningkatkan Umur Panjang. Sebagaimana dikutip dari Mayo Clinic, riset mengenai efek berpikir positif dan optimisme terhadap kesehatan menunjukkan manfaat berupa peningkatan harapan hidup, tingkat depresi yang lebih rendah, tingkat stres yang lebih rendah, daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap penyakit, serta kesehatan kardiovaskular yang lebih baik.
-
Mengurangi Stres dan Depresi. Salah satu teori menyatakan bahwa memiliki pandangan positif memungkinkan seseorang mengatasi situasi stres dengan lebih baik, sehingga mengurangi efek kesehatan yang berbahaya dari stres pada tubuh. Terapi kognitif dan perilaku yang mengubah pola pikir negatif dapat meningkatkan perasaan positif dalam diri.
-
Memperkuat Sistem Imun. Berpikir positif sesungguhnya dapat membantu melawan stres, yang memungkinkan sistem kekebalan tubuh berfungsi lebih efisien. Semakin kuat sistem imun, semakin besar kemungkinan tubuh mampu mencegah penyakit.
-
Meningkatkan Kesehatan Jantung. Stres dan kecemasan dapat memiliki efek negatif yang kuat pada tubuh, bahkan dapat mengganggu fungsi jantung serta meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan serangan jantung. Pola pikir positif membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
-
Membangun Ketangguhan Mental. Berpikir positif dapat menumbuhkan resiliensi, memungkinkan individu untuk bangkit kembali dari kemunduran secara lebih efektif. Saat menghadapi krisis, pikiran dan emosi positif seakan menjadi "tameng" pelindung terhadap depresi.
-
Meningkatkan Produktivitas dan Hubungan Sosial. Berpikir positif dapat menghasilkan hubungan dan koneksi sosial yang lebih baik dengan mendorong empati, kasih sayang, dan komunikasi yang efektif. Orang dengan pikiran positif juga cenderung lebih produktif dan inovatif dalam pekerjaan mereka.
Norman Vincent Peale, penulis buku The Power of Positive Thinking, dikutip dari School of Positive Transformation, menyatakan, "Ubah pikiran Anda dan Anda mengubah dunia Anda." Kalimat sederhana ini merangkum esensi dari bagaimana pola pikir mampu mentransformasi seluruh aspek kehidupan.
Advertisement
9 Cara Praktis Menerapkan Positif Thinking dalam Kehidupan Sehari-hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4947921/original/005969900_1726732094-pexels-olgalioncat-7291252.jpg)
Mengembangkan pola pikir positif membutuhkan latihan dan konsistensi. Berpikir positif adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah setiap hari, bukan bakat bawaan. Berikut sembilan cara praktis yang bisa diterapkan untuk melatih pola pikir positif secara bertahap.
-
Praktikkan Self-Talk Positif. Sebagaimana disampaikan Mayo Clinic, praktikkan self-talk positif dengan mengikuti satu aturan sederhana: jangan katakan sesuatu pada diri sendiri yang tidak akan Anda katakan kepada orang lain — bersikaplah lembut dan memberikan semangat pada diri sendiri, dan jika pikiran negatif masuk, evaluasi secara rasional lalu responslah dengan afirmasi tentang hal-hal baik dalam diri Anda.
-
Latih Rasa Syukur Setiap Hari. Luangkan waktu untuk menuliskan tiga hal yang Anda syukuri setiap hari. Ini bisa dimulai dari hal sederhana seperti senyuman seseorang atau secangkir kopi hangat di pagi hari. Fokus pada hal-hal baik akan membantu melihat hidup dengan perspektif yang lebih optimis.
-
Sering Tersenyum. Tindakan sederhana seperti tersenyum dapat mengubah perasaan menjadi lebih baik. Bahkan penelitian dari University of Kansas menunjukkan bahwa sekadar senyuman mampu membantu mengurangi detak jantung dan tekanan darah selama berada dalam situasi stres.
-
Jangan Takut Tertawa. Memperbanyak tertawa dalam hidup dapat mendorong pikiran menjadi lebih positif. Banyak penelitian menunjukkan manfaat tertawa untuk menurunkan tingkat stres, depresi, dan kecemasan. Tonton film komedi, ingat momen lucu, atau bersenda gurau dengan teman.
-
Kelilingi Diri dengan Orang Positif. Pastikan orang-orang di sekitar Anda adalah orang-orang yang positif dan mendukung, yang bisa diandalkan untuk memberikan nasihat dan umpan balik yang membantu. Orang-orang negatif dapat meningkatkan tingkat stres dan membuat Anda meragukan kemampuan mengelola stres dengan cara yang sehat.
-
Latihan Meditasi dan Mindfulness. Meditasi dan mindfulness membantu mengurangi stres dan meningkatkan fokus pada momen saat ini. Dengan melatih kesadaran penuh, Anda dapat belajar mengenali dan melepaskan pikiran negatif sebelum mereka memengaruhi suasana hati.
-
Ubah Cara Pandang terhadap Kegagalan. Dalam pola pikir positif, kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Anggaplah setiap kegagalan sebagai umpan balik berharga dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Zig Ziglar, dikutip dari BrainyQuote, menyatakan, "Berpikir positif akan membuat Anda melakukan segalanya lebih baik daripada berpikir negatif."
-
Terapkan Gaya Hidup Sehat. Orang-orang yang positif dan optimis cenderung menjalani gaya hidup yang lebih sehat — mereka lebih banyak melakukan aktivitas fisik, mengikuti pola makan yang lebih sehat, serta tidak merokok atau minum alkohol secara berlebihan. Olahraga rutin selama 30 menit setiap hari terbukti membantu mengurangi stres.
-
Gunakan Afirmasi Positif. Buatlah pernyataan positif tentang diri Anda dan ulangi secara teratur. Misalnya, "Saya mampu menghadapi tantangan hari ini" atau "Saya terus berkembang menjadi versi terbaik diri saya." Pengulangan afirmasi ini membantu membentuk keyakinan positif secara bertahap.
Miskonsepsi Umum dan Hambatan dalam Berpikir Positif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4893239/original/096458500_1721130628-Ilustrasi_berpikir_positif__kritis.jpg)
Meski berpikir positif menawarkan segudang manfaat, terdapat sejumlah miskonsepsi yang perlu diluruskan. Banyak orang menyamakan berpikir positif dengan mengabaikan realitas, padahal esensinya jauh lebih mendalam dan praktis. Memahami perbedaan ini penting agar penerapan positif thinking menjadi efektif dan realistis.
Sebagaimana diungkapkan Dr. Tomas Chamorro-Premuzic di Fast Company, pola pikir tidak menangguhkan fisika, probabilitas, atau kompetensi. Dengan kata lain, berpikir positif bukan berarti mengharapkan hasil yang tidak realistis tanpa usaha nyata. Ini lebih tentang mempertahankan sikap optimis sambil tetap mengambil langkah-langkah praktis dan realistis. Berikut beberapa miskonsepsi dan hambatan umum yang sering ditemui.
-
Miskonsepsi: Berpikir Positif Berarti Selalu Bahagia. Berpikir positif bukan berarti menekan atau mengabaikan emosi negatif seperti kesedihan atau kemarahan. Emosi tersebut adalah bagian alami dari pengalaman manusia dan penting untuk diakui. Tujuan sesungguhnya adalah merespons emosi tersebut secara konstruktif.
-
Miskonsepsi: Berpikir Positif Akan Menyelesaikan Semua Masalah. Tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan berpikir positif. Ini adalah keterampilan yang perlu dilatih dan dikembangkan dari waktu ke waktu, bukan solusi instan.
-
Hambatan: Lingkungan Negatif. Seseorang yang dikelilingi negativitas, baik di rumah, tempat kerja, atau hubungan sosial, akan kesulitan mengadopsi pola pikir positif. Mengelola lingkungan sosial menjadi langkah penting.
-
Hambatan: Kebiasaan Berpikir Negatif yang Mengakar. Banyak orang telah terbiasa dengan pola pikir negatif sejak kecil. Memutus siklus ini membutuhkan usaha sadar dan konsisten untuk menggantinya dengan pola pikir yang lebih memberdayakan.
-
Hambatan: Pengaruh Media dan Informasi Negatif. Media sosial, berita, dan hiburan sering kali memusatkan perhatian pada konflik atau hal-hal yang menimbulkan kecemasan. Terlalu banyak terpapar konten negatif bisa memperkuat pikiran negatif dan mempersempit kemampuan melihat sisi baik kehidupan.
Angela Duckworth, psikolog dan penulis terkenal, dikutip dari DanTomasulo.com, menyatakan, "Tanpa usaha, bakat Anda tidak lebih dari potensi yang belum terpenuhi." Pernyataan ini menegaskan bahwa berpikir positif saja tidak cukup — dibutuhkan tindakan nyata dan konsistensi untuk mengubah pola pikir menjadi hasil yang konkret.
Advertisement
Peran Positif Thinking dalam Hubungan Sosial dan Karier
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3430556/original/038776400_1618548270-group-people-working-out-business-plan-office_1303-15861.jpg)
Dampak berpikir positif tidak hanya terbatas pada kesejahteraan pribadi. Pola pikir ini juga memiliki pengaruh signifikan terhadap hubungan sosial dan pencapaian profesional seseorang. Dengan mindset yang tepat, seseorang dapat membangun interaksi yang lebih bermakna dan produktif di berbagai aspek kehidupan.
Dalam konteks hubungan, orang yang berpikir positif cenderung memiliki hubungan yang lebih sehat dan memuaskan. Mereka lebih mampu berempati, mendukung, dan tidak mudah terjebak dalam konflik. Sikap optimis juga membuat mereka lebih mudah memaafkan kesalahan, baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain. Energi positif yang mereka pancarkan secara alami menarik orang-orang di sekitar untuk ikut merasakan semangat serupa.
Merujuk penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science, individu dengan pandangan positif lebih kecil kemungkinannya mengembangkan gejala depresi dari waktu ke waktu dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang pesimis. Temuan ini menunjukkan bahwa pola pikir positif memiliki efek protektif terhadap kesehatan mental jangka panjang.
Dalam dunia karier, pemimpin dengan pola pikir positif cenderung lebih efektif dalam mengelola tim. Mereka menginspirasi dan memotivasi anggota tim dengan menunjukkan kepercayaan pada kemampuan setiap individu. Sebagaimana dikutip dari University of Wisconsin-Madison, "Ada sebuah ilmu yang berkembang yang menyatakan bahwa sikap positif bukan sekadar kondisi pikiran — ia juga memiliki keterkaitan dengan apa yang terjadi di otak dan di tubuh." Ketika seorang pemimpin menghadapi tantangan dengan sikap positif, timnya akan lebih termotivasi untuk mencari solusi secara kolaboratif.
Berpikir positif juga terbukti meningkatkan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah. Ketika seseorang tidak terjebak dalam pikiran negatif yang membatasi, otaknya memiliki ruang yang lebih luas untuk berpikir secara inovatif dan menemukan pendekatan baru terhadap masalah yang dihadapi. Hal ini menjadikan orang yang berpikir positif sebagai aset berharga dalam lingkungan kerja maupun komunitas sosial.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Positif Thinking
Apakah berpikir positif bisa dipelajari oleh semua orang?
Ya, berpikir positif adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dikembangkan oleh siapa saja. Jika Anda cenderung pesimis, jangan putus asa — Anda bisa mempelajari keterampilan berpikir positif. Prosesnya membutuhkan latihan konsisten, seperti melatih rasa syukur, mengganti self-talk negatif, dan mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif.
Apakah berpikir positif berarti harus mengabaikan perasaan negatif?
Tidak. Berpikir positif bukan berarti menekan atau mengabaikan emosi negatif. Emosi seperti sedih, marah, atau kecewa adalah bagian alami dari pengalaman manusia. Inti dari positif thinking adalah bagaimana Anda merespons emosi tersebut secara konstruktif, bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan berpikir positif?
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dibutuhkan sekitar 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru, termasuk berpikir positif. Namun, setiap orang berbeda. Yang terpenting adalah konsistensi dalam melatih pola pikir ini setiap hari, mulai dari hal-hal kecil seperti menuliskan jurnal syukur atau memulai hari dengan afirmasi positif.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578264/original/076010800_1782536572-wgyXmZBewIAQXBLjf7hrmPSa8pWYtgd14ggBFd8a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4499850/original/074071300_1689153177-man-checking-stock-market-data-tablet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578262/original/037938300_1782536570-Xu2bZVx1lDSpKqCz9kQ8n9C1ekywZQDK5heihgzL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578270/original/028613200_1782536578-tX9l0H40oXOIIIH8svmqyDf3gXoguYg6LVBwXTD2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578289/original/084521300_1782536607-lsuYQudBVC1NDSDrQhC1P892fD9YExKa4Ugpq9j0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578292/original/089902900_1782536609-3JravQbeXfFIi8ZnQ1GROJtgbnQ4EBPWJeABdawb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472823/original/033586300_1782377991-Cover.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578296/original/028590900_1782536614-cwfdHCVIHqSGnLfyL3pOF1ruaeig5TKhDoLghbE3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578298/original/013314400_1782536616-VAowCEKOE5RXsPAYYIbUf47gHU6djbvi2gJxx5FO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)