AKM Singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum, Kenali Penerapannya pada Pendidikan

AKM adalah salah satu konsep baru dalam pendidikan Indonesia

Diperbarui 21 Juni 2025, 09:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta AKM Singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum adalah salah satu konsep baru dalam pendidikan Indonesia. AKM adalah bagian dari Kurikulum Merdeka yang kini diusung oleh Kemendikbud. Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan berpusat pada siswa di Indonesia. 

AKM adalah bagian dari Asesmen Nasional yang akan menjadi pengganti Ujian Nasional (UN) sebagai evaluasi terkait mutu pendidikan. Menurut Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik Kemendikbud), AKM singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum adalah komponen dari Asesmen Nasional yang bertujuan mengukur literasi membaca dan literasi numerasi siswa secara mendasar 

Dalam bidang pendidikan, AKM adalah inovasi terbaru terkait penjamin mutu pendidikan. Asesmen Kompetensi Minimum adalah sistem yang dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar.

Bagi siswa, AKM adalah penilaian yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Berikut pengertian tentang AKM dalam sistem pendidikan, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (21/6/2025).

Mengenal AKM

AKM singkatan dari Asesmen Kompetensi Minimum. Mengutip Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbud, AKM merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat.

Berdasarkan Repositori Kemdikbud (Rohim dkk., 2021), AKM tidak bertujuan menguji materi kurikulum, melainkan untuk memetakan kompetensi literasi dan numerasi melalui pembelajaran inovatif dan rasional

AKM adalah sistem yang akan menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik atau siswa dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi.

AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.

 

Mengenal Asesmen Nasional

AKM bagian dari Asesmen Nasional. Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah pada jenjang dasar dan menengah. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

Dalam penerapannya, mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Asesmen Nasional digadang akan menjadi pengganti Ujian Nasional (UN). Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.

 

Fungsi dan Tujuan AKM

Tujuan dari AKM adalah dirancang untuk mengukur capaian peserta didik atau siswa dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Tingkat kompetensi ini dapat dimanfaatkan guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas.

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam modul Framework AKM, AKM dirancang untuk menghasilkan informasi yang mendorong perbaikan kualitas proses belajar‑mengajar, sehingga hasil belajar murid menjadi lebih bermakna dan kontekstual

AKM akan mendukung "Teaching at the right point". Pembelajaran yang dirancang berdasarkan AKM akan memudahkan murid menguasai kompetensi yang diharapkan. AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten, namun juga meningkatkan mutu pendidikan.

Seperti dijelaskan dalam jurnal Teknologi Pendidikan Kwangsan Kemendikbud  dijelaskan bahwa melalui AKM, mutu pendidikan meningkat lewat pengembangan literasi dan numerasi siswa sebagai bagian dari transformasi pendidikan.

Fungsi Asesmen Kompetensi Minimum

Menurut framework AKM Kemdikbud, AKM menyediakan data untuk merancang strategi pembelajaran yang tepat sasaran dan inovatif, serta mampu menjadi umpan balik bagi guru dan satuan pendidikan dilansir dari framework AKM.

Rohim dkk. (2021, Jurnal Varidika) menegaskan fungsi AKM sebagai alat kontrol kualitas pembelajaran yang bertujuan meningkatkan literasi dan numerasi serta mendorong perubahan paradigma tes dari kurikulum ke kompetensi dasar 

 

Kompetensi yang diukur dalam AKM

Dilansir dari laman resmi Pusmendik Kemdikbud AKM mengukur dua kompetensi utama, yakni literasi membaca dan literasi matematika (numerasi), sebagai dasar kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan analitis. 

Pemahaman minimum untuk menunjukkan literasi membaca dan numerasi merupakan kompetensi yang setidak-tidaknya harus dimiliki untuk seseorang dapat berfungsi secara produktif dalam kehidupan.

  • Literasi membaca

Literasi membaca pada AKM adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

  • Numerasi

Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

 

Komponen instrumen AKM

  • Konten

Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks informasi dan teks fiksi. Pada Numerasi konten dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan Ketidakpastian, serta Aljabar.

  • Tingkat kognitif

Tingkat kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Proses kognitif pada Literasi Membaca dan Numerasi dibedakan menjadi tiga level. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Pada Numerasi, ketiga level tersebut adalah pemahaman, penerapan, dan penalaran.

  • Konteks

Konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.

Siapa yang harus mengikuti AKM?

AKM dalam Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, termasuk satuan pendidikan kesetaraan. Pada tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Kemdikbud.

Asesmen Nasional hanya diikuti sebagian murid karena tidak digunakan untuk menentukan kelulusan ataupun menilai prestasi murid sebagai seorang individu. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional.

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di satuan pendidikan tersebut.

Q&A Seputar Asesmen Kompetensi Minimum

1. Apa perbedaan utama AKM dengan Ujian Nasional?

AKM memetakan kompetensi siswa secara sistemik dan memberikan umpan balik mutu pendidikan, sedangkan UN berfokus mengukur hasil belajar individual untuk kelulusan.

2. Mengapa AKM menekankan literasi dan numerasi lintas mata pelajaran?

Karena literasi dan numerasi bukan hanya materi bahasa dan matematika, melainkan kemampuan analitis yang dibutuhkan dalam berbagai konteks hidup nyata.

3. Siapa yang menggunakan hasil AKM dan untuk apa?

Hasil AKM digunakan guru, orang tua, dan satuan pendidikan untuk evaluasi dan perencanaan pembelajaran yang lebih efektif dan kontekstual bagi siswa.

4. Bagaimana cara AKM mendorong perubahan pembelajaran?

Dengan memetakan kompetensi, AKM mendorong guru menerapkan strategi pembelajaran inovatif seperti student‐centered learning dan soal aplikatif.

5. Apakah AKM berdampak pada penentu kelulusan siswa?

Tidak. AKM bukan penentu kelulusan, tetapi alat informasi mutu sistem pendidikan secara menyeluruh .

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6