Kasus Dengue Tertinggi di Sumsel, Palembang Jalankan Vaksinasi dan Pemantauan Ketat

Kasus dengue tertinggi di Sumsel, Palembang jalankan vaksinasi dan pemantauan ketat demi tekan kematian menuju target 2030.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 13:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Palembang kembali menjadi sorotan dalam upaya pengendalian dengue di Sumatera Selatan. Sebagai wilayah dengan kasus tertinggi di provinsi tersebut, Pemerintah Kota Palembang bersama Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya resmi menjalankan program vaksinasi dengue disertai pemantauan aktif.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat dengue, sekaligus mendukung target nasional dan global menuju nol kematian akibat dengue pada 2030.

Kasus Tertinggi di Sumsel

Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat, hingga 31 Desember 2025 terdapat 4.437 kasus dengue di seluruh kabupaten/kota di Sumsel dengan 22 kematian. Kota Palembang menjadi penyumbang kasus tertinggi, yakni 968 kasus dan 3 kematian.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, dr. H. Trisnawarman, M.Kes., Sp.KKLP., Supsp.FOMC menekankan bahwa dengue bukanlah penyakit musiman.

"Sepanjang tahun, masyarakat Palembang menghadapi ancaman dengue. Berdasarkan rekapitulasi laporan, dalam lima tahun terakhir kasus dengue paling banyak ditemukan pada kelompok umur 15–44 tahun (42 persen dari total kasus). Sementara dalam tujuh tahun terakhir, kematian paling banyak terjadi pada kelompok umur 5–14 tahun (41 persen dari total kasus)," ujarnya.

Menurutnya, data tersebut menunjukkan bahwa anak usia sekolah termasuk kelompok rentan. Karena itu, pendekatan pencegahan harus diperkuat dan dilakukan secara berkelanjutan.

Fokus pada Anak Usia Sekolah

Program pemantauan aktif vaksinasi dengue di Palembang menyasar 7.500 anak di 60 Sekolah Dasar yang berada di wilayah kerja 10 puskesmas dengan laporan kasus tertinggi. Dari jumlah tersebut, 5.000 anak mendapatkan vaksinasi.

Ketua Pelaksana Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Sumatera Selatan, dr. Ariesti Karmila, Sp.A(K)., M.Kes., menjelaskan, dengue masih kerap dianggap penyakit ringan oleh masyarakat.

"Dengue merupakan penyakit endemis di Indonesia yang sering kali dianggap ringan, padahal pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi berat dan berisiko menyebabkan kematian. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara konsisten dan komprehensif," ujarnya.

Dia, menambahkan, vaksinasi bukanlah pengganti upaya yang sudah berjalan seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus, melainkan pelengkap untuk memperkuat perlindungan.

"Dengan pendekatan yang menyeluruh, diharapkan rantai penularan dengue dapat ditekan secara berkelanjutan," katanya.

 

Kolaborasi Lintas Sektor

Program ini tidak berjalan sendiri. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. dr. Mgs. Irsan Saleh, M.Biomed, mengatakan, keterlibatan institusinya merupakan bagian dari komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Pemantauan aktif vaksinasi dengue akan memperkuat pendidikan berbasis riset dan menghasilkan bukti ilmiah yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan. Ini juga merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat," ujarnya.

Dia menekankan bahwa kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, serta mitra kesehatan menjadi kunci agar program berjalan terkoordinasi dan berbasis ilmiah.

Sementara itu, Penanggung Jawab Kegiatan Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Nasional, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pemantauan multinegara yang juga berlangsung di Thailand dan Malaysia.

"Di Indonesia, program ini berlangsung di tiga kota, yaitu Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin selama tiga tahun. Melalui pemantauan yang terstruktur, kami berharap dapat memperoleh gambaran komprehensif mengenai kesehatan anak-anak di wilayah dengan beban dengue tinggi," ujarnya.

Dia, menambahkan, hasil pemantauan aktif ini diharapkan menjadi dasar kebijakan vaksinasi dengue dalam program nasional untuk menyongsong target 'Zero dengue death' pada 2030.

 

Komitmen Pemerintah Daerah

Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, mengatakan, pengendalian dengue harus dilakukan secara terencana dan berbasis data.

"Dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus dihadapi secara berkelanjutan. Diperlukan langkah proaktif, berbasis data, dan melibatkan kolaborasi lintas sektor," katanya.

Herman menyebutkan bahwa upaya pengendalian vektor dan edukasi masyarakat tetap menjadi fondasi penting, namun perlu dilengkapi dengan inovasi kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Dengan angka kasus dengue tertinggi di Sumatera Selatan, Palembang kini mengambil peran strategis dalam memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah.

Melalui vaksinasi dan pemantauan ketat, diharapkan angka kesakitan dan kematian akibat dengue dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Upaya ini menjadi sinyal kuat bahwa perang melawan dengue tidak bisa ditunda—dan harus dimulai dari sekarang, secara bersama-sama.