Pendekatan Baru Penanganan Diabetes Tipe 2, Sentuh Aspek Emosi Pasien

Pendekatan baru penanganan diabetes tipe 2 menyoroti pentingnya aspek emosi dan psikologis pasien, melengkapi perawatan medis.

Diterbitkan 19 Januari 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penanganan diabetes tidak hanya berfokus pada aspek medis, tapi juga membutuhkan perhatian serius pada kondisi psikologis pasien. Pasalnya, individu dengan diabetes melitus (DM) harus menjalani perawatan jangka panjang yang kerap memicu tekanan emosional.

"Faktanya, individu dengan DM sering mengalami berbagai masalah psikologis, seperti emosi negatif, stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional. Sementara itu, jumlah tenaga psikolog masih terbatas," ujar mahasiswa program doktoral Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Martaria Rizky Rinaldi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam ujian terbuka disertasinya pada Rabu, 14 Januari 2026.

Dalam ujian tersebut, perempuan yang akrab disapa Kiky itu memaparkan disertasi berjudul Hypnodiacare untuk Individu dengan Diabetes Mellitus Tipe 2: dari Pemetaan Bukti dan Pengembangan Intervensi hingga Uji Terkontrol Acak dan Evaluasi Psikofisiologis.

Dia, menjelaskan, pasien diabetes melitus tipe 2 membutuhkan kemampuan pengelolaan diri, regulasi emosi, dan manajemen diri yang sangat ketat dalam kehidupan sehari-hari.

"Selama ini, penanganan diabetes lebih banyak berfokus pada edukasi manajemen diri. Pendekatan ini memang bermanfaat secara kognitif atau pengetahuan, tetapi belum menyentuh aspek psikologis dan emosional secara mendalam," tambahnya.

Melalui metode clinical hypnosis atau hipnosis klinis, pasien diabetes dapat dibantu untuk meningkatkan relaksasi, membangun emosi positif, serta menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Meski demikian, Kiky menegaskan masih terdapat kesenjangan dalam praktik penanganan diabetes.

"Belum ada integrasi yang optimal antara hipnosis klinis dengan edukasi manajemen diri, padahal kombinasi keduanya berpotensi memberikan manfaat yang lebih komprehensif bagi pasien," ujarnya.

Integrasi Edukasi Manajemen Diri dan Hipnosis Klinis

Penelitian Kiky soal hypnodiacare merupakan gabungan atas integrasi edukasi manajemen diri dan hipnosis klinis.

Edukasi diri yang dimaksud adalah pengetahuan tentang cara merawat diri seperti perilaku diet, konsumsi obat, dan aktivitas. Sedangkan hipnosis klinis, merupakan terapi yang menggunakan teknik relaksasi dan sugesti untuk mengatasi masalah emosi dan motivasi.

Ada pun hasil yang diperolehnya dari penelitian ini adalah, secara mental, pasien merasa lebih tenang, emosi lebih stabil, dan motivasi untuk berobat dan semangat untuk hidup sehat meningkat.

 

Hipnosis Klinis sebagai Pendamping Perawatan Medis

Hipnosis klinis pada pasien diabetes juga menunjukkan manfaat positif terhadap fisik pasien.

“Secara fisik pun terjadi perubahan nyata pada gelombang otak baik alpha, beta, theta yang menandakan relaksasi dalam, serta perbaikan regulasi jantung,” ungkapnya.

Dari penelitian ini, Kiky menarik simpulan bahwa Hypnodiacare terbukti bermanfaat sebagai pendamping pengobatan medis untuk membantu pasien diabetes mengelola penyakitnya dengan lebih baik.

“Hipnosis klinis yang dikombinasikan dengan edukasi manajemen diri menawarkan model intervensi baru sebagai pendamping perawatan medis,” ucapnya.

Kiky mengingatkan, diabetes melitus merupakan penyakit yang perlu diwaspadai, tak hanya oleh orang-orang dengan usia lanjut, tapi juga oleh kelompok muda. Pasalnya, kini Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia.