Keji Beling, Tanaman Herbal 'Peluruh Batu' sebagai Pendamping Atasi Batu Ginjal

Keji beling dikenal sebagai herbal peluruh batu ginjal. Dokter menegaskan fungsinya sebagai pendamping, bukan pengganti terapi medis.

Diterbitkan 14 Januari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keji beling atau Strobilanthes crispus telah lama dikenal sebagai tanaman herbal yang sering dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan saluran kemih, khususnya pada keluhan batu saluran kemih dan batu ginjal.

Menurut dr. Danang Ardiyanto, MKM, Dokter di UPF Pelayanan Kesehatan Tradisional Tawangmangu RSUP Dr. Sardjito, keji beling populer sebagai herbal 'peluruh batu' dan kerap diposisikan sebagai pendamping dalam perawatan batu saluran kemih, bukan sebagai pengganti terapi medis.

Secara kandungan, daun keji beling dilaporkan mengandung polifenol dan flavonoid . Senyawa ini diketahui berkaitan dengan aktivitas antioksidan. Kajian ilmiah yang ada menyebutkan bahwa Strobilanthes crispus mengandung berbagai senyawa bioaktif dan menunjukkan aktivitas antioksidan dalam penelitian laboratorium serta studi fitokimia.

Danang menjelaskan bahwa antioksidan memiliki peran penting karena stres oksidatif diketahui terlibat dalam berbagai proses penyakit metabolik dan inflamasi. Oleh karena itu, kehadiran senyawa antioksidan menjadi salah satu alasan keji beling sering dikaitkan dengan dukungan kesehatan tubuh, khususnya pada sistem metabolik dan saluran kemih.

Danang menyebutkan bahwa dalam praktik tradisional di beberapa negara Asia Tenggara, teh daun keji beling sering digunakan untuk keluhan batu saluran kemih. Penggunaan ini juga sering dipasangkan dengan kumis kucing.

Literatur ilmiah terbaru membahas potensi keji beling dan kumis kucing sebagai kombinasi yang menarik untuk penelitian batu ginjal. Meski demikian, masih diperlukan uji klinis manusia yang lebih kuat untuk memperjelasnya. 

Oleh karena itu, pemanfaatannya diposisikan sebagai pendukung, bukan pengganti pemeriksaan dan terapi medis.

Cara Aman dan Tepat Menggunakan Keji Beling

Dalam kasus batu ginjal, ukuran batu, lokasi, dan derajat sumbatan sangat menentukan risiko. Batu yang menyebabkan sumbatan dapat memicu nyeri hebat, infeksi, hingga penurunan fungsi ginjal. 

Oleh karena itu, penggunaan keji beling sebaiknya tidak menggantikan evaluasi medis seperti Ultrasonografi (USG) atau CT scan bila diperlukan, serta terapi standar yang direkomendasikan tenaga kesehatan.

Danang menegaskan bahwa keji beling lebih tepat digunakan sebagai pendamping, terutama pada kondisi tertentu yang masih memungkinkan dilakukannya pemantauan secara berkala.

Cara Penggunaan yang Umum Dilakukan

Penggunaan keji beling umumnya dilakukan dengan cara sederhana. Bahan yang digunakan adalah sekitar 5-7 lembar daun segar atau kurang lebih 3 gram daun kering. Daun direbus dengan dua gelas air hingga tersisa sekitar satu gelas. Rebusan ini dikonsumsi satu kali sehari.

Untuk keluhan ringan, lama penggunaan berkisar antara 7 hingga 14 hari. Jika digunakan sebagai pendamping pada batu ginjal kecil, penggunaannya perlu evaluasi secara berkala dan tidak dianjurkan dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol.

Danang menyebutkan bahwa keji beling dapat dikombinasikan dengan kumis kucing dalam dosis sedang. Selain itu, pola makan rendah oksalat juga dianjurkan, seperti mengurangi konsumsi bayam secara berlebihan dan teh pekat.

Namun, perhatian khusus tetap diperlukan, terutama pada individu dengan riwayat batu besar atau nyeri kolik hebat, gangguan ginjal sedang hingga berat, serta mereka yang mengonsumsi obat diabetes karena memerlukan pemantauan kadar gula darah.