Dampak Paparan Gawai Terlalu Dini, Bisa Pengaruhi Kemampuan Anak Ambil Keputusan

Anak yang terpapar gawai terlalu dini dikaitkan dengan kemampuan mengambil keputusan yang lebih lambat dan potensi gangguan anxiety di kemudian hari.

Diterbitkan 08 Januari 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Paparan layar yang tinggi sejak usia dini yakni antara nol hingga dua tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan atau anxiety di kemudian hari.

Anak yang terpapar gawai terlalu dini juga dikaitkan dengan kemampuan mengambil keputusan yang lebih lambat ketimbang anak lainnya.

Hal ini diungkap para peneliti dari Universitas Nasional Singapura (NUS), Rumah Sakit Wanita dan Anak KK, dan Badan Sains, Teknologi, dan Penelitian (Agency for Science, Technology and Research/A*STAR).

Para peneliti melacak sekitar 170 anak yang lahir pada tahun 2009 selama lebih dari satu dekade, dimulai sejak lahir.

Mereka adalah bagian dari studi kohort kelahiran Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes (GUSTO), yang bertujuan memahami bagaimana kondisi selama kehamilan dan masa kanak-kanak awal memengaruhi kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan ibu dan anaknya.

Pemindaian otak dilakukan pada berbagai tahap perkembangan anak untuk mempelajari dampak jangka panjang dari paparan layar sejak dini.

Studi tersebut menemukan bahwa untuk anak-anak hingga usia dua tahun, setiap jam tambahan waktu di depan layar dikaitkan dengan penurunan kemampuan pengambilan keputusan sebesar 25 persen pada usia 8 setengah tahun.

 

Gejala Kecemasan Terlihat Saat Anak Beranjak Remaja

Pada masa remaja, anak-anak ini juga menunjukkan gejala kecemasan yang lebih tinggi. Efek ini diamati di semua latar belakang sosial ekonomi.

Asisten Profesor Tan Ai Peng, peneliti utama studi ini dan seorang ilmuwan klinis di NUS, mengatakan salah satu contoh dampaknya pada kehidupan sehari-hari adalah membutuhkan waktu lama untuk memutuskan apakah akan menyeberang jalan ketika lampu lalu lintas berubah hijau.

Ia menambahkan bahwa kecemasan dapat muncul dalam berbagai cara, termasuk kekhawatiran yang berlebihan, penghindaran sosial, atau gejala fisik seperti peningkatan detak jantung dan gangguan tidur.

“Semua masalah pengambilan keputusan dan kecemasan ini sebenarnya dapat memengaruhi berbagai dimensi kehidupan seseorang, mulai dari memengaruhi kinerja akademik atau ketika mereka memasuki usia dewasa, hal itu sebenarnya dapat memengaruhi kinerja Anda,” kata Asisten Profesor Tan, yang juga merupakan ilmuwan utama di Institut Pengembangan dan Potensi Manusia A*STAR seperti mengutip CNA, Rabu (7/1/2026).

 

Lebih Buruk dari Paparan TV

Paparan gawai terlalu dini juga dinilai dapat memengaruhi hubungan interpersonal atau hubungan dengan orang lain.

“Jika Anda melihat hubungan interpersonal, (hubungan tersebut) sebenarnya juga membutuhkan banyak keterampilan ini (kemampuan mengambil keputusan) dan hal itu berpotensi dapat terpengaruh juga,” tambah Tan.

Ia memperingatkan bahwa konsekuensi paparan layar bisa jadi lebih parah bagi anak-anak saat ini, dibandingkan dengan mereka yang dalam penelitian tersebut sebagian besar menonton televisi.

Hal ini karena anak-anak semuda dua tahun sudah memiliki akses ke perangkat seperti telepon seluler dan tablet, ujarnya.

“Itulah juga alasan mengapa penelitian tentang waktu penggunaan layar, terutama pada anak-anak kecil, sebenarnya semakin berkembang.”

 

Cara Atasi Paparan Gawai Berlebih

Kabar baiknya, efek samping paparan waktu layar berlebihan sejak bayi dapat diatasi melalui beberapa langkah. Seperti peningkatan interaksi sosial dan fisik, menurut sebuah studi baru-baru ini.

Intervensi dini dan perubahan gaya hidup positif dapat membantu membentuk kembali otak yang sedang berkembang, kata para ilmuwan yang memimpin studi selama 10 tahun yang dirilis minggu lalu.

Para peneliti menekankan bahwa belum terlambat bagi orang tua untuk mengambil tindakan.

Tan mengatakan bahwa otak anak-anak sangat mudah beradaptasi, dan perubahan positif masih dapat membuat perbedaan bahkan setelah paparan dini.

Penyesuaian sederhana, seperti mengganti waktu singkat di depan layar dengan aktivitas interaktif, dapat membantu memperkuat jalur otak, tambahnya.

Interaksi sosial dan fisik lainnya yang dapat membantu adalah membaca bersama, bermain game tatap muka, berjalan-jalan di luar ruangan, dan terlibat dalam musik dan olahraga.

Tan menyoroti bahwa aktivitas bersama sangat penting, terutama untuk anak-anak usia dini.

“Jika seorang anak membaca sendirian, anak itu hanya belajar bahasa. Tetapi ketika seorang anak membaca bersama orang tuanya, itu bukan hanya tentang kata-kata di halaman,” katanya.

“Ini tentang interaksi timbal balik, belajar bagaimana mengenali ekspresi wajah dan emosi saat mereka berinteraksi dengan orang tua mereka.”

Jika orang tua ingin memasukkan perangkat elektronik dalam kehidupan anak-anak, mereka tidak boleh membiarkan anak-anak sendirian dengan iPad, misalnya. Tetapi harus duduk bersama anak-anak dan menggunakannya sebagai alat pendidikan, kata Tan.

“Meskipun orang tua memainkan peran paling penting selama masa bayi, interaksi antar teman sebaya yang sehat menjadi semakin penting seiring bertambahnya usia anak,” ucap Tan.