Gangguan Epigenetik, Kondisi yang Bisa Bikin Sel Janin Tumbuh Tidak Normal

Untuk mencegah perkembangan sel janin yang abnormal, dokter obgin feto dari RSAB Harapan Kita menyarankan pemeriksaan riwayat keluarga soal kehamilan.

Diterbitkan 16 November 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter obstetri dan ginekologi subspesialis Noroyono Wibowo mengungkapkan bahwa gangguan epigenetik mampu menyebabkan sel janin tumbuh secara abnormal. Kondisi tersebut akan mengganggu proses pembentukan organ dan jaringan pada janin.

“Kita tahu bahwa satu sel ini akan menjadi issue (masalah). Kemudian menjadi organ, menjadi sistem dan akhirnya human. Ini pembentukan yang sangat luar biasa,” ujarnya dalam acara Press Conference & Talkshow: Launching Prodia Clinical Mulitomics Centre (PCMC) pada Sabtu, 15 November 2025 di Prodia Tower, Jakarta Pusat.

Untuk mencegah perkembangan sel janin yang abnormal, Noroyono menyarankan pemeriksaan riwayat keluarga soal kehamilan. Hal ini karena kondisi genetik perlu diketahui untuk cegah gejala-gejala yang muncul.

Selain itu, nutrisi, lingkungan, dan gaya hidup yang baik juga penting untuk mendukung tumbuh kembang janin.

Lebih lanjut, dia menambahkan, tumbuh kembang yang harus diperhatikan pada janin terjadi dua tahap. Tahap pertama itu pertumbuhan ukuran, bentuk, dan kepadatan janin. Selanjutnya adalah tahap kedua yang meliputi perkembangan fungsi, kapasitas, dan ketepatan waktu pada janin.

“Kalau secara epigenetik terjadi disruption, maka dia akan menjadi abnormal development pathway. Maka akan menjadi abnormal cell growth dan diferensiasi dan juga akan isu dan organ malformation yang kemudian mungkin akan berdiferensi,” jelas dokter yang praktik di RSAB Harapan Kita Jakarta itu. 

Kapasitas Hidup Dilihat Sejak Dalam Kandungan

Noroyono menjelaskan bahwa kesehatan sel yang sesuai standar mampu melihat kapasitas hidup janin. Meskipun belum lahir, dengan memantau perkembangan janin yang sesuai tahap dan waktunya bisa membantu dokter memperkirakan usia harapan hidup bayi setelah lahir.

“Harus menjamu janin yang punya kapabilitas untuk hidup seminimumnya—karena di Indonesia memang harapan hidup 80 tahun. Gimana caranya ya? ‘Kan nggak pernah dibuktikan bahwa sebetulnya penting nih. Ini adalah proses yang sangat luar biasa. Bahwa dia harus membuat si janin ini kaya benar dengan cellular wellness dan stemness ini sehingga dia mempunyai kapasitas untuk hidup sampai 40 tahun mungkin 100 tahun,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan, penting untuk memeriksakan diri secara rutin saat hamil. Agar janin berkembang sesuai tahapan, ibu hamil harus bersih dari infeksi dan gejala lain yang menjadi hambatan. Pemeriksaan juga berguna untuk mencegah restriksi tumbuh kembang yang mengakibatkan keterlambatan atau bahkan kegagalan.

 

Tahapan Normal Kehamilan

Noroyono memaparkan rentang waktu yang normal untuk janin berkembang. Pada fase pra ovulasi, lapisan dinding rahim atau endometrium akan menebal selama dua minggu. Jika terjadi kehamilan, penebalan ini akan bertahan selama 38 minggu.

“Suatu materi yang biasanya hidup cuma 2 minggu, menjadi bisa hidup 38 minggu ini perlu cellular wellness, stemness, dan juga pembersihan product di dalamnya. Kalau apa namanya cellular wellness-nya tidak tercapai, stemnessnya juga tidak tercapai karena penggantian seluler selama lifespan sel itu sendiri. Maka dia tidak akan mampu hidup sampai 38 minggu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, kebersihan dinding rahim juga penting untuk diperhatikan. Hal ini karena ketika ada suatu sel, apalagi yang sifatnya inflamasi, makan endometrium bisa menjadi rusak. Sehingga dikhawatirkan akan mengganggu perubahan bentuk dari arteri spiralis atau pembuluh darah baru di endometrium.

“Nah, arteri spiralis ini kita tahu akan menjadi tulang punggung untuk memberi makan atau menjamu plasenta. Plasenta ini artinya pembentukan pembuluh darah baru yang umurnya cuma 38 minggu. Kembali lagi, di sini sangat bergantung dari cellular wellness, stemness, dan clean waste product mereka,” pungkasnya.