Lansia Bukan Beban, Melainkan Aset Sosial yang Berkontribusi dalam Pembangunan

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat berpengaruh besar terhadap kualitas hidup lansia.

Diterbitkan 27 Oktober 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kesejahteraan lanjut usia (lansia) tidak hanya ditentukan oleh kesehatan fisik, tetapi juga oleh partisipasi sosial, lingkungan yang mendukung, dan penghargaan terhadap pengalaman mereka.

Hal ini disampaikan Plt. Kepala Pusat Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ali Yansyah Abdurrahim dalam webinar saat momentum Hari Lansia Internasional 2025 dengan tema, “Membangun Masyarakat Inklusif di Era Aging Population” di Jakarta (24/10/2025).

“Lansia harus dipandang sebagai aset sosial yang berkontribusi dalam pembangunan, bukan beban,” kata Ali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menegaskan pentingnya pemberdayaan lansia sebagai bagian dari komunitas aktif.

“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat berpengaruh besar terhadap kualitas hidup lansia, sementara keterlibatan komunitas dan literasi digital harus didorong untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif,” ujar Ali.

Dia menyampaikan, dengan mengadopsi konsep aktif dan sehat, lansia dipandang sebagai sumber kebijaksanaan dan penjaga nilai budaya, sekaligus agen pembangunan yang mampu memperkuat solidaritas lintas generasi.

“Kampanye ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan, demi mewujudkan Indonesia yang ramah usia dan bermartabat di masa depan,“ imbuhnya mengutip laman BRIN, Minggu (26/10/2025).

 

Isu Populasi Menua Bukan Ancaman yang Perlu Ditakuti

Sementara itu, pakar demografi dari Universitas Indonesia, Aris Ananta, menekankan bahwa isu populasi menua dan penurunan angka kelahiran bukan ancaman yang harus ditakuti secara berlebihan.

Ia juga menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada jumlah penduduk.

“Pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada jumlah penduduk, tetapi juga pada inovasi, human capital, dan teknologi,” katanya.

Untuk itu, Aris menekankan perlunya mengubah paradigma dan tidak terlalu fokus pada kekhawatiran semata, melainkan melihat potensi dan peluang dari proses penuaan yang alami sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

 

Perlunya Kebijakan Inklusif

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Profesor Senior di Universitas Brunei Darussalam, Evi Nurvidya Arifin, menekankan pentingnya memahami disabilitas sebagai bagian dari jaringan sosial.

Ia menjelaskan bahwa disabilitas tidak hanya kondisi fisik atau medis, tetapi juga terkait dengan hambatan sosial dan lingkungan yang memengaruhi partisipasi masyarakat.

Di akhir presentasinya Evi menegaskan, di tengah isu penuaan penduduk yang semakin meningkat, perlunya kebijakan inklusif dan pembangunan infrastruktur yang ramah disabilitas untuk meminimalkan deprivasi dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.