Penanganan Aritmia atau Gangguan Irama Jantung Tak Selalu Harus Operasi

Dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui penanganan yang tepat untuk aritmia pada pasien.

Diterbitkan 29 September 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Aritmia adalah kondisi di mana irama jantung tidak normal, bisa terlalu cepat (disebut takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia), atau tidak beraturan.

Gangguan ini terjadi karena sinyal listrik yang mengendalikan detak jantung tidak berfungsi dengan baik seperti disampaikan dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah Daniel Tanubudi dari Eka Hospital BSD.

Mengenai penanganan aritmia, Daniel mengatakan tidak selalu harus dengan operasi. Dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui penanganan yang tepat.

"Kita lihat jenis aritmia seperti apa. Mungkin bisa ditangani dengan obat-obatan dulu kalau memang ada gangguan," kata Daniel dalam temu media World Heart Day 2025 di Tangerang Selatan pada Jumat pekan lalu.

Bahkan, bisa juga penanganan yang disarankan dokter dengan meminta pasien untuk melakukan perubahan gaya hidup terlebih dahulu. Seperti mengurangi berat badan, berolahraga rutin hingga memperbaiki asupan makanan.

"Olahraga teratur dapat memperkuat jantung dan meningkatkan sirkulasi darah, sementara pola makan seimbang (rendah lemak jenuh, gula, dan garam) membantu mengontrol berat badan dan tekanan darah. Kedua hal ini bekerja sinergis dengan pengobatan medis untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi," kata Daniel

 

Penangan Aritmia Lainnya

Namun, bila hasil pemeriksaan memperlihatkan aritmia perlu tindakan lain maka dokter bisa melakukan penanganan lain. 

Pada pasien yang mengalami takikardia supraventrikular (SVT) dimana detak jantung yang sangat cepat dan berdebar-debar, yang berasal dari serambi perlu dilakukan tindakan. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah ablasi jantung.

Tindakan medis ablasi jantung adalah prosedur memperbaiki aritmia yang dilakukan dengan cara membuat jaringan parut di jantung untuk memblokir sinyal listrik yang tidak teratur dan mengembalikan detak jantung menjadi normal.

Sementara itu, pada pasien takikardia ventrikuler dimana detak jantung tidak teratur yang berasal dari bilik jantung itu biasanya akan dilakukan ablasi. Atau dokter akan menyarankan dipasang Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD). Ini adalah sejenis  pacemaker khusus yang dapat memberikan kejut listrik untuk mengembalikan irama jantung normal.

"Alat ini sangat smart, kalau alat ini mendeteksi bahwa pasien irama jantung yang bisa membuat pingsan, maka akan memberikan syok," kata Daniel.

 

Jika Aritmia Dibiarkan Apa yang Terjadi?

Daniel mengatakan pada kasus orang dengan aritmia ringan, seperti pada jenis extrasistole dimana ada denyutan ekstra saat jantung berdenyut itu bisa saja tidak perlu ditangani dengan tindakan medis. Namun perlu melakukan perubahan gaya hidup seperti rutin berolahraga.

Sementara itu, pada aritmia yang berat seperti atrial fibrilasi dan ventrikel takikardia yang bisa menyebabkan kematian, itu perlu dilakukan tindakan karena bisa menimbulkan risiko ke depan. 

"Ringan beratnya tidak bisa dipastikan dengan keluhan saja tapi lewat pemeriksaan penunjang seperti rekam jantung, atau rekam jantung yang lebih panjang, USG jantung," pesan Daniel.

Â