Mesti Konsumsi Obat Seumur Hidup, Pasien Kanker Paru Suarakan Harapan pada Pemerintah

Pasien kanker paru, Susan, mesti mengonsumsi obat seumur hidup. Beratnya pembiayaan membuatnya menyuarakan agar pemerintah bisa memberikan dukungan.

Diterbitkan 28 Agustus 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bagi sebagian pasien kanker paru, terapi harus dijalani tanpa henti sepanjang hidup. Obat yang diberikan bersifat sistemik, sehingga tidak bisa dihentikan selama sel kanker masih aktif. Situasi ini menimbulkan beban mental sekaligus finansial yang besar bagi pasien,

Patricia Susanna, salah satu pasien kanker paru menuturkan dirinya harus minum obat setiap hari tanpa tahu kapan bisa berhenti. Ia bahkan sempat membandingkan dengan sistem di Malaysia yang memberi keringanan biaya bagi pengobatan pasien kanker. Kata Susan, di Malaysia pasien hanya perlu membayar sejumlah siklus terapi lalu sisanya gratis.

“Kalau di sini, kita minum obat terus seumur hidup. Rasanya berat sekali memikirkan biayanya,” kata wanita karib disapa Susan pada Rabu, 27 Agustus 2025 di Jakarta.

Selain beban biaya, Susan juga dihantui ketakutan akan resistensi obat. Bila tubuh tidak lagi merespons terapi, pilihan obat lain bisa menjadi sangat terbatas.

“Dokter bilang, bersyukurlah kalau obat ini bisa dipakai seumur hidup, jangan sampai resisten. Kalau resisten, bingung harus pakai obat apa lagi,”  tambahnya.

Tantangan berat yang dihadapi pasien kanker membuat Susan berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar agar terapi inovatif bisa dijangkau dengan lebih mudah.

Pasien Kanker Paru Tergantung pada Obat

Susan menceritakan pengobatan yang ia jalani bukanlah proses jangka pendek.

Obat yang diminum harus dikonsumsi seumur hidup karena kanker paru sulit dioperasi dan membutuhkan banyak sekali proses. Hal ini membuat pasien terus bergantung pada obat, tanpa kepastian kapan bisa berhenti.

Susan mengaku hal ini menjadi beban besar, bukan hanya secara fisik, tetapi mendera mental.

“Ya kepikiran sekali. Rasanya berat memikirkan sampai kapan harus terus minum obat ini,” ujarnya.

Risiko Resistensi yang Menakutkan

Selain harus mengonsumsi obat seumur hidup, pasien juga berhadapan dengan ancaman resistensi. Jika obat yang dikonsumsi tidak lagi efektif, pasien harus mencari alternatif lain yang belum tentu tersedia atau terjangkau.

Susan mengaku rasa takut ini selalu menghantuinya setiap kali menjalani terapi. “Kalau obatnya resisten, kita bingung harus pakai obat apa lagi. Itu yang paling menakutkan,” jelasnya.

Harapan Dukungan Pemerintah

Melihat tantangan tersebut, Susan menegaskan perlunya perhatian lebih dari pemerintah. Menurutnya, pembiayaan pengobatan kanker paru harus lebih inklusif agar pasien tidak merasa sendirian menanggung beban.

"Kalau saya pengobatan sendiri, sebenarnya ada yang bisa dibantu dengan asuransi tapi yang terakhir-terakhir ini belum di cover sama JKN. Jadi, saya harus beli sendiri," katanya. 

 Susan mengaku berat dengan biaya besar yang harus ia keluarkan setiap bulan. Ia memperkirakan pengeluaran untuk obat-obatan saja mencapai sekitar Rp100 juta per bulan, belum termasuk biaya rumah sakit dan kebutuhan lainnya.

“Saya berharap ada dukungan lebih besar, supaya pasien seperti kami tidak hanya bergantung pada kemampuan pribadi,” tambahnya.