Balita Tewas di Lahan Proyek: Kisah Pilu dari Lubang Gelap

Ayah balita korban lubang proyek di Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan mengenang detik-detik terakhir anaknya.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Malam itu, Sabtu 27 Juni 2026, menjadi malam pahit bagi balita I yang berusia 4 tahun. Balita I terperosok ke dalam lubang proyek Lapangan Multifungsi Taman RW 04 di Jalan Manggarai Utara II, Tebet, Jakarta Selatan hingga akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa memilukan itu terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Namun, proses evakuasi baru selesai hampir pukul 04.00 WIB dini hari karena sempitnya lubang, membuat petugas kesulitan menjangkau korban.

Berbagai kisah pilu pun terkuak usai tewasnya balita I. Salah satunya dari Sudirman (42), warga RW 04 Manggarai. Menurut dia, lokasi proyek selama ini memang menjadi tempat bermain bagi anak-anak di lingkungan tersebut. Termasuk anak kandungnya sendiri.

"Kalau malam kan anak-anak saya juga pada main di sini, kayak arena bermainlah istilah kasarnya. Ada yang main pasir, ada yang main batu, pada wara-wiri anak kecil sini," kata Sudirman.

Sebelum kejadian terperosoknya balita I ke dalam lubang proyek, Sudirman telah mewanti-wanti anaknya agar berhati-hati. Pasalnya, lubang tersebut semula hanya ditutup menggunakan seng yang dinilai tidak cukup aman karena mudah dibuka anak-anak.

"Lubangnya itu pas banget di samping trotoar itu. Nah pas di situ, jatuhlah," ucap Sudirman.

 

Teriakan Terakhir Korban

Sudirman mengaku masih mengingat dengan jelas suara korban sesaat setelah terjatuh ke dalam lubang. Korban kala itu berteriak memanggil orang tuanya.

"Kalau pas jatuhnya sih masih sadar, masih teriak-teriak," terang dia.

Berbagai upaya penyelamatan dilakukan. Bahkan kakak korban sempat mencoba masuk ke dalam lubang, tetapi gagal karena ruangnya terlalu sempit.

"Anak kecil, abangnya sekali mau masuk pas pertengahan enggak muat. Jadi susah untuk dievakuasi, jadi Damkar saja bingung," ucap Sudirman.

Sepanjang malam itu, lokasi kejadian dipenuhi warga bersama petugas terkait yang bergantian membantu proses evakuasi korban. Di tengah kerumunan itu pula, Sudirman menyaksikan kepedihan keluarga korban yang menunggu tanpa kepastian.

Korban akhirnya berhasil dievakuasi sekitar pukul 04.00 WIB dan langsung dibawa ke RSCM untuk mendapatkan penanganan medis. Sayangnya, nyawa korban tidak tertolong.

 

Janji ke Ancol yang Tak Terwujud

Bagi AB, sang ayah, suara putranya yang saat kejadian memanggil meminta pertolongan masih terus terngiang. Air mata AB bahkan terus mengalir kala mengingat kejadian itu.

Di rumah duka, Selasa 30 Juni 2026, AB berulang kali mengingat momen ketika putranya masih bisa bersuara dari dasar lubang yang sempit dan dalam. Dalam kepanikan, ia hanya bisa terus memanggil nama anaknya sambil mencari cara untuk menjangkaunya.

"Dia teriak-teriak manggil ayah, ayah terus saya senter. Dia di bawah gelap begitu. Minta senter masih kedengeran dia teriak-teriak, manggil-manggil," kata AB dengan suara lirih.

Saat itu, ia sudah berusaha melakukan apa pun agar putranya tetap merespons. AB juga meminta anak sulungnya mencoba menjangkau sang adik karena tubuhnya sendiri tak mungkin masuk ke dalam lubang kecil berukuran sekitar 15-30 sentimeter itu.

"Saya sampai paksa anak saya yang pertama coba menolong, mukanya sampai lecet tapi tidak bisa. Saya juga mau menolong tapi badan saya enggak muat," ucapnya.

Di tengah kepanikan itu, AB terus berbicara kepada putranya. Ia berusaha menenangkan sang anak sambil meyakinkannya bahwa pertolongan akan segera datang.

"Ayah nanti masuk ke dalam ya, Ayah nanti angkut. Nanti kalau Ayah angkut kita pergi keluar ke Ancol. Main jalan-jalan kan mau liburan," kata AB.

Beberapa jam sebelumnya, AB tak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi pertemuan terakhir bersama buah hatinya.

 

Kenangan Bersama Sang Anak

AB bercerita, kabar anaknya terperosok ke dalam lubang proyek tersebut didapati tak lama usai ditinggal buang air kecil.

Kendati saat tiba di lokasi, ia masih mendengar suara putranya dari dalam lubang, namun ruang yang sempit membuat upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan dengan mudah.

Meski berbagai cara telah dicoba bersama warga dan petugas, AB hanya bisa pasrah menunggu proses evakuasi yang berlangsung selama berjam-jam. Kini, yang tersisa bagi AB adalah kenangan tentang anaknya yang mulai belajar berbicara dan selalu ingin berada di dekat ayahnya.

"Dia anak yang paling aktif, paling beda dengan anak saya yang lainnya," ucap AB.

Di tengah duka mendalam yang menyelimuti keluarganya, AB dan keluarga berusaha untuk menerima kepergian putranya sebagai ketetapan Tuhan. Bagi AB, suara lirih buah hati yang memanggil namanya saat kejadian akan menjadi kenangan yang tak pernah hilang sepanjang hidupnya.

"Saya juga tidak menginginkan kejadian ini terjadi karena umur kita di tangan Allah, garis takdir," tutup AB.

 

Asal Usul Proyek

Kelurahan Manggarai mengungkap asal-usul lubang proyek Lapangan Multifungsi Taman RW 04 di Jalan Manggarai Utara II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel) yang menjadi lokasi tewasnya balita berinisial I alias O (4).

Lubang tersebut dipastikan bukan lubang lama, melainkan bagian dari pekerjaan pembangunan lapangan multifungsi yang dibiayai melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Menurut Lurah Manggarai M Arafat Dinsirat, proyek tersebut dibangun sebagai fasilitas olahraga bagi warga, termasuk lapangan futsal. Proyek juga diklaim menjadi upaya Kelurahan menyediakan ruang aktivitas positif bagi anak-anak dan remaja di Manggarai agar tak terlibat tawuran.

"Iya betul, itu proyek CSR yang memang nantinya pembuatan lapangan multifungsi. Salah satunya adalah ada lapangan futsal di situ, untuk mengakomodir anak-anak Manggarai supaya ada kegiatan olahraga. Hal ini ditujukan untuk salah satunya meredam atau mencegah tawuran di Kelurahan Manggarai," ujar Arafat kepada Liputan6.com, Selasa (30/6/2026).

Menurut dia, pekerjaan fisik proyek baru dimulai pada 25 Juni 2026 atau dua hari sebelum insiden yang merenggut nyawa balita tersebut terjadi.

"Kalau kemarin mulai loading itu tanggal 25 Juni," ucap Arafat.

Arafat mengatakan, lubang tempat korban balita terperosok merupakan bagian dari konstruksi proyek. Berdasarkan penjelasan kontraktor yang diterimanya usai kejadian, lubang itu disiapkan sebagai fondasi tiang penyangga bangunan pelindung lapangan.

"(Lubang) bagian dari proyek, bagian dari proyek. Jadi memang sesuai keterangan kontraktor kemarin pada saat setelah kejadian saya sempat ketemu, itu memang mau dibuat apa ya istilahnya, kayak tiangnya lah gitu, tiangnya lapangan itu karena nanti lapangannya kan ada di dalam apa ya, kayak semacam hangar lah gitu. Tiang-tiang untuk nanti hangar gitu," kata dia.

Arafat juga menegaskan, area proyek sebelumnya merupakan taman yang asetnya milik Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta. Aset itu kemudian dipersiapkan menjadi lapangan multifungsi berukuran sekitar 25 meter x 10 hingga 12 meter.

Lebih lanjut mengenai sistem pelaksanaan proyek, Arafat menjelaskan pembangunan dilakukan sepenuhnya digarap melalui CSR. Kelurahan hanya mengusulkan kebutuhan pembangunan, sedangkan perusahaan penyedia CSR menunjuk sendiri kontraktor pelaksana.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6