Sukses

Kenapa Jadi Ayah Itu Hebat?

Setiap makhluk yang diciptakan di dunia ini memiliki nilai plus masing-masing. Seorang pria tak kalah hebatnya dengan wanita yang dikodratkan menjadi seorang ibu. Pria yang akan menjadi ayah dianggap hebat dengan mempengaruhi perkembangan anak-anaknya.

Seorang Sosiolog, Dr David Popenoe, yang merupakan salah seorang pelopor yang relatif muda dalam penelitian ayah menilai peran ayah lebih dari sekadar orang dewasa kedua di rumah.

"Ayah memberikan manfaat positif bagi anak-anak mereka yang tak mungkin diberikan orang lain," ujar Popenoe seperti dikutip dari Childwelfare, Senin (18/3/2013).

Menurut Dr Popenoe, ayah memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan anak-anaknya. Sehingga penting bagi seorang ayah bekerja secara profesional terutama di dalam kesulitan, di arena yang memicu emosional.

Dr David Popenoe dalam tulisannya 'Life without father: Compelling new evidence that fatherhood and marriage are indispensable for the good of children and society' menjelaskan hubungan antara ayah dan anaknya. Termasuk kemampuan kognitif, prestasi pendidikan, kesejahteraan psikologis, dan perilaku sosial.

Berikut dampak hubungan anak dan ayah yang hebat:

1. Anak sehat psikologis dan emosional

Dr David Popenoe juga menggarisbawahi dampak hubungan ayah dan ibu pada kebahagiaan anak-anaknya. Menurutnya, seorang ayah yang memiliki hubungan yang baik dengan ibu dari anak-anaknya lebih mungkin terlibat dan menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. "Dan memiliki anak yang sehat secara psikologis dan emosional," katanya.

Sama halnya, ibu yang merasa memiliki hubungan yang kuat dengan ayah anak-anaknya dan menikmati manfaat dari hubungan yang bahagia lebih mungkin menjadi ibu yang lebih baik.

2. Anak memiliki kemampuan koginitif dan berprestasi di pendidikan

Selain manfaat di atas, kehebatan peran ayah juga bisa mempengaruhi kemampuan kognitif dan prestasi pendidikan anak. Anak-anak yang dekat dengan ayahnya memiliki nilai pendidikan yang lebih baik.

"Sejumlah penelitian menunjukkan, ayah yang terlibat, merawat anak, dan bermain dengan bayinya memiliki anak dengan IQ yang lebih tinggi, serta lebih baik dalam linguistik dan kapasitas kognitif," jelasnya.

Balita yang ayahnya terlibat saat memulai sekolah memiliki kesiapan akademis yang lebih tinggi. "Mereka lebih sabar dan dapat menangani tekanan dan frustasi yang berhubungan dengan sekolah dibandingkan anak yang kurang terlibat dengan ayahnya".

Pengaruh keterlibatan seorang ayah pada prestasi akademis meluas ketika remaja dan dewasa. Sejumlah pendidikan menemukan, gaya ayah yang aktif meelihara anaknya dikaitkan dengan keterampilan verbal yang lebih baik, fungsi intelektual, dan prestasi akademik.

3. Memiliki hubungan sosial yang lebih baik

Anak-anak yang memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya lebih cenderung bisa menjaga emosinya, percaya diri, dan saat tumbuh dewasa memiliki hubungan sosial yang lebih baik dengan rekan-rekannya.

Cara ayah bermain dengan anak-anaknya juga berdampak penting terhadap perkembangan emosional dan sosial anak. Ayah yang menghabiskan banyak waktu dengan berinteraksi satu sama lain dengan anak-anaknya menstimulasi aktivitas yang menyenangkan dibandingkan dengan ibunya. Dengan interaksi ini, anak-anak belajar bagaimana mengatur perasaan dan perilaku.

Ayah sering mendorong pencapaian sedangkan ibu mengendalikan stresnya. Keduanya penting untuk perkembangan anak. Hasilnya, anak yang tumbuh dengan ayah cenderung menunjukkan pengendalian diri dan perilaku yang prososial.

Singkatnya, ayah memiliki dampak yang kuat dan positif pada perkembangan dan kesehatan anak-anak.(Mel/Igw)

    Dua Petani Tewas Tertabrak di Tepi Sawah

    Tutup Video
    Loading