Sukses

99 Persen Kematian Manusia Akibat Rabies karena Anjing, Jangan Lupa Vaksinasi

Liputan6.com, Jakarta - Rabies pada manusia bisa terjadi akibat kontak dengan hewan peliharaan seperti anjing. Gigitan atau kontak virus lewat air liur yang berasal dari kera, serigala, dan kelelawar pun bisa menyebabkan rabies.

Tim One Health Zoonosis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Asep Purnama MD Internist FINASIM, menjelaskan, rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Sebab, rabies hampir selalu menyebabkan kematian (almost always fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100 persen.

Dalam sebuah webinar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V bersama Sanofi Pasteur Indonesia belum lama ini, Asep, mengatakan, Kemenkes RI mencatat bahwa pada 2020 ada 26 dari 34 provinsi di Indonesia yang belum bebas dari rabies, dengan jumlah kematian per tahun lebih dari 100 orang.

Padahal, lanjut Asep, rabies merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin anti rabies (VAR).

"Rabies adalah penyakit yang ditular dari hewan ke manusia. Virus tersebut masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat yang biasanya pada sumsum tulang belakang, dan selanjutnya menyerang otak," kata Asep.

 

2 dari 4 halaman

Anjing, Penyebab Kematian Terbanyak pada Manusia Akibat Rabies

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari beberapa binatang yang bisa menyebabkan rabies, anjing menempati posisi pertama sebagai sumber kematian manusia akibat rabies.

WHO mencatat hampir 99 persen dari semua penularan rabies kepada manusia terjadi karena gigitan anjing.

Dijelaskan Asep kecepatan virus rabies di sepanjang sel saraf hanya 12-14 mm/ hari. Namun, setelah mencapai sistem saraf pusat (otak) kecepatannya berubah menjadi 200-400 mm/hari.

Oleh sebab itu, kata Asep, ketika anak-anak tergigit anjing yang tertular rabies, dampaknya bisa sangat fatal.

"Karena umumnya mendapatkan gigitan di kepala karena tingginya sejajar dengan binatang. Virus akan lebih cepat sampai ke saraf pusat, yaitu otak," ujar Asep.

"Virus rabies di otak ini akan menyebabkan ensefalitis," Asep menambahkan.

Lebih lanjut Asep, mengatakan, selain anak dan pemilik hewan peliharaan, kelompok orang yang berisiko tinggi tertular virus rabies adalah dokter hewan, perawat hewan, peneliti virus rabies, petualang alam liar, pekerja lapangan yang dapat digigit binatang buas terinfeksi, dan orang yang sering berkunjung ke daerah rawan rabies.

"Petugas kesehatan yang merawat pasien rabies pun rentan tertular," katanya.

Itu mengapa mereka dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi Pre-Exposure Prophylaxis sebagai perlindungan sebelum terjadi kontak.

"Vaksinasi Pre-exposure akan sangat bermanfaat disamping memberikan perlindungan juga memermudah penanganan jika di kemudian hari terjadi kontak," katanya.

 

3 dari 4 halaman

Bagi yang Sudah Vaksinasi Pre-Exposure

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Samsuridjal Dzauji SpPD-KAI, FACP menekankan bahwa hingga saat ini belum ada obat yang ditemukan untuk menangani rabies.

Seperti yang disampaikan Asep, Samsuridjal juga mengingatkan bahwa rabies dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi anti rabies dapat dilakukan di puskesmas atau rumah sakit.

Oleh sebab itu, kata Samsuridjal, guna mencegah makin banyaknya kasus rabies di Indonesia, perlu dilakukan strategi pencegahan yang salah satu caranya adalah dengan melakukan vaksinasi rabies sesegera mungkin.

"Sebab, dengan menyuntikkan vaksin anti rabies (VAR) ke dalam tubuh hewan dan manusia, tubuh akan membentuk sistem kekebalan untuk menangkal virus rabies. Cara kerja VAR adalah dengan merangsang sistem daya tahan tubuh untuk membentuk imunitas terhadap virus rabies," katanya.

Dia, mengatakan, pembentukan antibodi memang memakan waktu. Namun, jika antibodi sudah terbentuk, dapat bertahan lama, yaitu sekitar satu tahun.

"Rabies termasuk dalam roadmap terbaru WHO 2021-2030. Sebagai penyakit zoonosis, diperlukan koordinasi lintas sektoral yang erat di tingkat nasional, regional, dan global," katanya.

"Gavi (Global Alliance for Vaccine andImmunization) pada 2019 memasukkan vaksin rabies untuk manusia dalam strategi investasi vaksin pada 2021-2025 yang akan mendukung peningkatan PEP (post exposure prophylaxis) atau pengobatan segera pada korban gigitan setelah terpaparrabies di negara-negara yang memenuhi syarat GAVI," dia menambahkan.

4 dari 4 halaman

Infografis 8 Tips Liburan Akhir Tahun Minim Risiko Penularan Covid-19.