Sukses

Satgas COVID-19: Kepala Desa Sudah Diedukasi Terkait Berbagai Upaya Penanganan Wabah

Liputan6.com, Jakarta - Dalam menangani COVID-19, berbagai lapisan masyarakat harus berperan sesuai aturan yang berlaku. Hal ini perlu didukung pengetahuan yang mumpuni terkait wabah dan upaya-upaya pencegahan yang harus dijalani.

Seperti disampaikan Kepala Bidang Penanganan Kesehatan, Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Brigjen TNI (Purn) dr Alexander K Ginting S., Sp.P(K), menurutnya berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan kepada masyarakat termasuk para kepala desa.

Contoh program yang telah disosialisasikan adalah terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikro. Menurut Alex, program yang telah dilakukan sejak Februari ini telah disosialisasikan secara bertahap.

PPKM skala mikro sudah disosialisasikan mulai dari 7 provinsi, naik jadi 10, kemudian 15, sekarang sudah hampir seluruh provinsi dan setiap minggu dilakukan rapat koordinasi teknis untuk mensosialisasikan ini,” kata Alex kepada kanal Health Liputan6.com ditulis Selasa (8/6/2021).

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Sosialisasi Zonasi COVID-19

Hal lain yang penting dan sudah disosialisasikan adalah terkait zonasi COVID-19. Menurut Alex, zonasi COVID-19 adalah instruksi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) bukan dari kementerian lainnya.

“Sehingga kita yakin dan pasti bahwa ini sudah secara berjenjang disosialisasikan dan diterapkan mulai dari pemerintahan provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, terus ke desa.”

Ia menambahkan, dalam instruksi Mendagri tersebut sudah dijelaskan bahwa zonasi mengatur berapa jumlah orang terinfeksi di suatu wilayah.

“Ada warna-warna yang dibuat, dengan warna-warna tersebut kita bisa membatasi kegiatan apa saja yang tidak boleh dikerjakan,” kata Alex.

Berbagai kegiatan di setiap zona harus dikontrol oleh kepala desa dan kepala kelurahan, imbuhnya. Jadi dengan melihat zonasi tersebut masyarakat harus sudah tahu tindakan apa saja yang perlu dilakukan.

3 dari 5 halaman

Arti Hijau hingga Merah

Warna-warna yang digunakan dalam zonasi mewakili banyak atau sedikitnya infeksi yang terjadi di suatu zona.

“Jika suatu zona angka positif COVID-19-nya lebih dari 10 rumah maka itu zona merah,” kata Alex.

Jika kasus positif di suatu zona berkisar 6 hingga 10 rumah, maka itu termasuk zona oranye. Sedang, zona kuning adalah zona dengan tingkat kasus positif 1 hingga 5 rumah.

“Kalau semua rumah negatif maka itu zona hijau.”

Di setiap zonasi ada skenario pengendalian, lanjut Alex. Walau pun di zonasi hijau tidak ada orang yang terkena COVID-19, tapi surveilans atau pelacakan kontak tetap dilakukan bagi orang yang suspek.

Pada zona kuning, penanganannya harus dengan isolasi mandiri dengan ketat serta dilakukan pelacakan kontak bagi yang kontak erat. Isolasi mandiri dan pelacakan kontak erat juga dilakukan di zona oranye ditambah menutup semua aktivitas sosial yang ada di zona oranye.

“Termasuk tempat ibadah, tempat umum, kecuali yang esensial seperti toko makanan atau minuman tapi dengan pengawasan yang ketat.”

Sedang, pengendalian di zona merah lebih ketat lagi ketimbang zona-zona lainnya. Pasalnya, di zona ini sudah ada lebih dari 10 rumah yang positif COVID-19.

Isolasi mandiri yang sangat ketat tentu dilakukan di zona ini. Penduduk juga tidak diperbolehkan untuk berkumpul lebih dari tiga orang.

“Kemudian pelacakan kontak tetap dilaksanakan dan sama sekali tidak boleh ada kegiatan sosial, kegiatan komunal, termasuk juga menutup rumah ibadah, tempat umum, serta membatasi keluar masuk orang yang diawasi posko desa atau posko kelurahan,” tutup Alex.

 

4 dari 5 halaman

Infografis Lonjakan Kasus COVID-19 di Kudus hingga Bangkalan

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut Ini