Sukses

Pandemi COVID-19 Membuat Kesehatan Mental Remaja Memburuk

Liputan6.com, Jakarta - Layanan kesehatan mental untuk remaja di AS jumlahnya bertambah selama pandemi COVID-19, terlebih pada bulan Maret dan April 2020 lalu.

Dari semua jenis klaim medis, didapati klaim kesehatan mental dua kali lipat lebih besar persentasenya untuk individu berusia 13 hingga 18 tahun. Peningkatan persentase pada Maret 2020 bertambah 97 persen dan pada April 2020 bertambah 103,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Kami jelas melihat pengurangan orang yang mengakses perawatan medis, terutama pada bulan Maret dan April, tetapi kami melihat penggunaan layanan kesehatan mental yang berkelanjutan selama periode itu,” kata Robin Gelburd, Presiden FAIR Health kepada MedPage Today.

Peningkatan ini bertahan hingga akhir November 2020.

Jess Shatkin, MD, MPH, dari Pusat Studi Anak di NYU Langone Medical Center, New York City mengatakan, meskipun hasil temuan data itu sudah tidak mengejutkan, namun keadaan ini menghawatirkan.

“Kami tahu bahwa usia remaja memiliki tingkat kerentanan terkena penyakit mental yang tinggi,” kata Shatkin.

 

 
2 dari 4 halaman

Remaja rentan alami gangguan mental

Ditambah dengan perubahan kondisi karena pandemi membuat para remaja semakin rentan terkena gangguan mental.

“Sekarang (dengan keadaan pandemi), orang tua mereka mulai mengalami kesulitan dalam menghadapi hubungan keluarga, pekerjaan, dan kecukupan persediaan makanan. Kondisi ini menjadi pemicunya. Kami sudah melihat kerentanan dan ini membuat mereka lebih rentan,” Shatkin menambahkan.

Gelburd mencatat bahwa sebagian besar perawatan kesehatan mental yang diberikan kepada remaja, dilakukan melalui Telehealth (layanan kesehatan secara daring).

 

Penulis: Rissa Sugiarti

3 dari 4 halaman

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: