Sukses

Petani Butuh Inovasi Teknologi agar Hasilkan Pangan Terbaik

Liputan6.com, Jakarta Inovasi teknologi dapat meningkatkan petani hasilkan pangan terbaik. Dukungan inovasi ini dapat menopang produktivitas pada lahan marginal.

Menurut Asisten Direktur Jenderal FAO dan Perwakilan Regional untuk Asia dan Pasifik, Kundhavi Kadiresan, produktivias petani akan meningkat sehingga konsumen lokal punya akses terhadap makanan segar. Misalnya unggas, ternak, ikan, buah-buahan dan sayuran serta makanan pokok lainnya. Komponen-komponen ini cukup penting untuk mencapai nutrisi yang baik.

Terdorong adanya peran sentral pertanian keluarga, Majelis Umum PBB secara resmi mendeklarasikan 2019-2028 sebagai Dekade Pertanian Keluarga.

"Resolusi tersebut mengakui, petani keluarga sebagai kunci dalam mengejar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dunia. Hal ini khususnya menjamin, keamanan pangan global, memberantas kemiskinan, mengakhiri kelaparan, melestarikan keanekaragaman hayati, mencapai lingkungan yang lestari, serta membantu atasi migrasi," lanjut Kadiresan sesuai keterangan rilis yang diterima Health Liputan6.com, Sabtu (6/4/2019).

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Perkuat ketahanan pangan

Tak hanya inovasi teknologi, akses ke kredit pedesaan, terutama bagi perempuan serta peningkatan program perlindungan sosial pedesaan termasuk langkah penting untuk membantu keluarga petani di Asia Tenggara.

Hal ini demi meningkatkan mata pencaharian dan ketersediaan pangan. Banyak negara di dunia membuat kemajuan dalam mengembangkan kebijakan publik yang mendukung pertanian keluarga.

“Ada tantangan besar yang mana kebijakan perlu dibuat untuk berbagai aspek terkait pertanian keluarga, yang juga dipengaruhi perubahan iklim, gender, pemuda, dan pekerjaan yang layak,” jelas Kadiresan dalam sesi Konferensi Regional tentang Penguatan Ketahanan Pangan, Nutrisi, dan Kesejahteraan Petani Asia Tenggara melalui Dekade Pertanian Keluarga PBB pada 4 April 2019 di Jakarta.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Sumbang 80 Persen dari Makanan Dunia, Kehidupan Petani Masih Belum Layak
Artikel Selanjutnya
Petir Sambar 10 Petani di Bali