Sukses

Ingin Puasa Senin-Kamis? Cek Efeknya pada Tubuh dan Otak

Liputan6.com, Jak.arta Selebritas ternama seperti Beyonce dan Hugh Jackman kerap berbicara soal rencana mereka untuk puasa berkala. Puasa berkala atau puasa berselang-seling ini demi mendapatkan tubuh bugar. Di Indonesia sendiri, banyak orang yang melakukan metode puasa ini, seperti misalnya ibadah puasa Senin-Kamis.

Puasa berkala, rata-rata dilakukan sampai 16 jam. Selama waktu berpuasa tersebut, tubuh mengalami perubahan. Perubahan tubuh dan otak saat puasa berkala disampaikan ilmuwan saraf terkemuka, Mark Mattson dari National Institute, sebagai berikut:

Lebih mudah tersinggung

Saat makan, Anda menyimpan sebagian energi di hati dalam bentuk glikogen. Tapi setelah 10-12 jam tidak makan, cadangan glikogen akan sangat rendah. Akibatnya, Anda mungkin merasa lebih mudah tersinggung daripada biasanya. Istilah ini disebut hangry (hungry + angry).

Tubuh juga melepaskan lemak ke dalam aliran darah. Sel lemak langsung menuju ke hati, yang akan diubah menjadi energi untuk tubuh dan otak. Jadi, Anda membakar lemak untuk bertahan hidup, dilansir dari Business Insider, Senin (29/1/2018).

Sampel darah menunjukkan, orang yang berpuasa selama 12-24 jam mengalami peningkatan 60 persen energi dari lemak. Perubahan terbesar terjadi setelah 18 jam.

Ini adalah keuntungan untuk puasa berkala karena menempatkan tubuh dalam keadaan ketosis--kondisi hati manusia memproduksi “keton” untuk digunakan sebagai bahan bakar energi.

Oleh karena itu, puasa berkala menjadi kunci kehidupan yang lebih lama dan sehat.

 

 

 

Simak video menarik berikut ini:

1 dari 2 halaman

Tingkatkan daya ingat

Saat puasa berkala, pembakaran lemak melepaskan zat kimia disebut keton. Di otak, keton memicu pelepasan molekul, yang disebut BDNF. BDNF membantu membangun dan memperkuat neuron dan koneksi saraf di area otak, yang bertanggung jawab untuk belajar dan mengingat.

Dorongan ini meningkatkan daya ingat seseorang. Peningkatan keton dalam tubuh juga merupakan pengobatan untuk pasien dengan epilepsi berat.

Anda tidak perlu cepat meningkatkan kadar keton. Cukup lebih banyak menambah makanan berlemak ke dalam makanan dan mengurangi karbohidrat.

Puasa terbukti meningkatkan keton hingga 20 kali lipat. Akibatnya, puasa punya efek lebih bermanfaat untuk kesehatan.

Artikel Selanjutnya
Main Media Sosial Lebih dari 2 Jam? Ini yang Terjadi pada Otak
Artikel Selanjutnya
Ternyata, Konsumsi Garam Berlebih Berdampak Negatif ke Otak