Liputan6.com, Jakarta Sebuah artikel menarik berjudul, apakah graffiti (mencoret-coret dinding) merupakan bentuk seni atau vandalisme (kegiatan yang merusak) menjadi topik yang menarik pada situs seni kontemporer di Amerika.
Pada artikel tersebut, graffiti masuk ke dalam dua kategori tadi. Bisa menjadi karya seni apabila menghasilkan keindahan namun bisa berubah menjadi vandalisme apabila kegiatan mencoret-coret tersebut bersifat legal tanpa izin.
Sayangnya, sadar atau tidak kegiatan mencoret-coret pada dinding, ternyata juga kerap dilakukan oleh buah hati Anda di rumah. Apalagi jika dinding yang sudah dicat dengan warna cantik harus ternodai dengan gambar-gambar tidak jelas yang dilakukan anak Anda. Pasti bikin jengkel.
Advertisement
Rasa jengkel, memang sangat wajar. Tapi, taukah Anda, sebenarnya cara anak-anak mencoret-coret tembok merupakan wujud jati diri dan ekspresi dari mereka?
Seperti cerita mulanya graffiti di Amerika Serikat, dimana kaum minoritas menggunakan graffiti sebagai bentuk kekuasaan dan ekspresi dari aspirasi. Jadi, apabila anak Anda kerap mencoret-coret tembok bisa jadi memiliki maksud yang sama.
Coretan biasanya bergambar atau bahkan ada yang menulis dengan kalimat dan angka. Apakah mereka iseng? Belum tentu. Bisa jadi upaya mereka untuk mengulang ingatan pelajaran baik dari sekolah maupun dari apa yang mereka lihat.
Bahkan, ada juga yang sengaja mencoret-coret tembok untuk mencari perhatian orang tua mereka. Tak sedikit anak-anak akan tertawa dan berlari, pada saat Anda marah melihat mereka mencoret-coret tembok.
Uniknya, semakin dilarang, mereka akan terus mencoret-coret tembok keesokan harinya. Jadi, sebaiknya jangan langsung melarang anak-anak untuk mencoret-coret tembok. Dan akan lebih bijak bila Anda mengarahkan mereka untuk menghasilkan ekspresi yang positif.
Bagaimana caranya? Salah satunya dengan menyiasati desain dinding menjadi sebuah papah tulis kapur.
Dinding dengan tekstur seperti papan tulis kapur, biasanya diterapkan pada restoran modern yang kerap mendekor ruang makan menjadi sesuatu bergaya vintage dan rustic. Bahkan, Anda juga bisa membuatnya sendiri di rumah.
Dan berikut adalah tahap-tahap untuk membuat dinding menjadi papan tulis kapur, yang sudah dilansir dari laman Rumah.com:
Langkah 1- Pilih dan periksa kontur dinding
Lalu, periksa kontur permukaan dinding. Permukaan harus mulus dan tidak bergelombang. Permukaan yang bergelombang akan terkelupas apabila terkena ujung kapur yang ditekan.
Langkah 2- Gunakan pita sebagai border dinding
Selanjutnya, langkah kedua adalah menggunakan pita sebagai border dinding. Dengan pita tersebut, dinding akan dibagi menjadi 3 bagian, bagian atas, tengah, dan bawah.
Langkah 3 – Terapkan cat hitam sebagai cat primer
Setelah dinding terbagi menjadi 3 bagian, terapkan cat hitam sebagai cat primer. Lakukan sebanyak 2 kali, dan merata. Tunggu hingga kering sekitar 3-5 menit.
Langkah 4 – Terapkan cat papan tulis
Aduk cat papan tulis, kemudian mulailah mengecat. Lakukan seperti pada cat hitam di langkah ketiga.
Langkah 5 – Membersihkan dinding papan tulis
Untuk membersihkan dinding papan tulis Anda, cukup dilap bersih dengan kain lembap. Setelah menyeka bersih, lapisi kembali dinding dengan kapur, lalu hapus kembali.
Pada saat dinding sudah jadi, bimbinglah anak Anda untuk menggambar atau menulis di dinding tersebut. Anda juga bisa menemani buah hati untuk mengisi waktu luang dengan menggambar. Dengan begitu, ekspresi buah hati akan tersalurkan dengan positif.
Selamat mencoba!
Feature picture: theculinarycouple.com
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333897/original/064209300_1787812486-cek_fakta_-_tebuireng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333755/original/044629400_1787806099-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-27T114556.196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5363386/original/057280200_1758937866-ricuh_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333114/original/023127400_1787732360-cek_fakta_sekolah_kedinasan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1334129/original/098823700_1472712241-fitur_papan_kapur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1371647/original/089298800_1476255507-DKI_Jakarta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5209819/original/057974400_1746445247-20250505-Juru_Parkir_Liar-ANG_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5928844/original/021831100_1778826616-Parkir.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4325233/original/094213700_1676460080-20230215-Tarif-Parkir-Mobil-Uji-Emisi-Iqbal-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332077/original/010049000_1787631112-IMG_8805.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5928885/original/054648000_1778826646-Pintu_Parkir.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331563/original/075556600_1787550521-IMG-20260824-WA0022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331155/original/097089800_1787493287-kodaline_di_jakarta_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264223/original/049215800_1782099834-IMG_1416_1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519380/original/050878100_1782446120-Apple_Store_di_Taiwan_01.jpeg)