Orang Pendek `Pigmi` di Flores Bukan karena Kurang Gizi

Jika selama ini banyak yang beranggapan kalau manusia pendek terkait dengan stunting atau gizi buruk. Ternyata tidak sepenuhnya demikian.

Diterbitkan 13 Januari 2015, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Jika selama ini banyak yang beranggapan kalau manusia pendek terkait dengan stunting atau gizi buruk. Ternyata tidak sepenuhnya demikian.

Seperti disampaikan oleh Kepala Divisi Endokrinologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) bahwa dalam penelitiannya yang melibatkan manusia pendek atau pigmi Rampasasa di Dusun Rampasasa,  Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, dia menemukan hal menarik. Manusia pigmi ternyata memiliki proporsi tubuh yang normal dan bukan pendek karena malnutrisi.

"Perawakan tubuh (tinggi badan) sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yaitu faktor genetik, endokrin (hormonal), dan lingkungan (nutrisi). Perawakan tubuh dikatakan pendek apabila tinggi badan individu tersebut berada di bawah persentil tiga pada kurva pertumbuhan spesifik sesuai usia dan jenis kelaminnya atau berada pada nilai kurang dari -2 simpang baku (SB)," katanya, Selasa (13/1/2015).

Salah satu penyebab perawakan pendek, lanjut dia, yang paling sering ditemukan memang malnutrisi. Defisiensi nutrisi berkepanjangan akan menyebabkan penurunan kecepatan pertumbuhan. Namun perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh faktor endokrin seperti hipotiroidisme, defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan hormon paratiroid, serta kortisol berlebih.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui penyebab perawakan pendek itulah Aman mendapati bahwa populasi pigmi memiliki perawakan pendek yang proporsional sehingga bukan disebabkan oleh suatu sindrom tertentu.

"Sebagian besar penelitian menekankan pada faktor hormonal dan genetik sebagai penyebab. Namun dari hasil penelitian-penelitian tersebut memberi hasil yang berbeda pada setiap populasi. Saya mencari faktor-faktor yang berkontribusi, apakah faktor nutrisi, hormonal, maupun faktor genetik. Hasilnya, hingga saat ini, masih banyak salah pengertian mengenai perawakan pendek (stunting) yang selalu dikaitkan dengan gizi buruk," ungkapnya.

Menurut data UNICEF pada tahun 2010 , Indonesia menempati posisi ke 5 dari 136 negara dengan anak berperawakan pendek di bawah usia 5 tahun. Apabila dilihat sepintas, manusia pigmi tentu akan dianggap stunting sehingga dipikirkan untuk penatalaksanaan lebih lanjut dengan pemberian gizi berlebihan yang akhirnya akan mengakibatkan obesitas. Maka itu, perlu penilaian yang bijaksana untuk mengetahui apa sebenarnya penyebab dari perawakan pendek seseorang sehingga tatalaksana yang diberikan tepat

"Perawakan pendek manusia pigmi Rampasasa memiliki proporsi tubuh yang normal. Perawakan pendek pada mereka juga tidak berhubungan dengan faktor nutrisi (vitamin D, kalsium, dan hemoglobin). Namun didapatkan defek genetik yang tidak ditemukan pada manusia normal. Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh faktor genetik walaupun kandidat gen belum dapat diidentifikasi," jelasnya.

"Saya berharap dengan adanya penelitian ini semakin memacu rasa keingintahuan lebih dalam terutama bagi para peneliti Indonesia untuk mencari faktor-faktor lain penyebab perawakan pendek yang tentunya akan terkait dengan penatalaksanaannya. Selain itu, perlu dilakukan penelitian yang berfokus mencari kandidat gen, defek genetik terkait perawakan pendek. Saat ini banyak ilmuwan dunia berlomba-lomba untuk mencari defek genetik pada manusia pigmi tetapi belum ada yang berhasil. Kami berharap hasil penelitian kami dapat menjadi yang pertama di dunia," katanya.

Sekadar informasi, Pigmi ada banyak di seluruh dunia. Ada di Afrika, Rusia, Filiphina dan katanya ada juga di Papua Nugini. Tapi hanya pigmi di Indonesia yang dikaitkan dengan Homo Floresiensis yang belum pernah diteliti sama sekali. Sehingga penelitian pigmi ini menjadi yang pertama di Indonesia.