Provinsi Adzharia di Georgia Membangkang

Pemimpin pemberontak mengumumkan keadaan darurat di wilayahnya. Pusat antikrisis didirikan untuk mencegah usaha Adzharia memisahkan diri. Bantuan kemanusiaan bagi warga setempat juga disediakan.

Diterbitkan 16 Maret 2004, 07:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Tbilisi: Provinsi Adzharia di Georgia mengumumkan keadaan darurat, baru-baru ini. Status itu dinyatakan Aslan Abashidze, pimpinan pemberontak, menanggapi desakan Presiden Georgia Mikhail Saakahvili. Abashidze sebelumnya diperingatkan agar membatalkan keinginan untuk memisahkan diri. Menanggapi pembangkangan tersebut, Presiden Saakashvili di Tbilisi, Georgia, berencana mendirikan pusat antikrisis untuk menjamin berlangsungnya pemilihan umum parlemen pada 28 Maret mendatang.

Menurut Saakashvili, lembaga kemanusiaan yang dipimpin Perdana Menteri Zurab Zhvania bertugas mencegah usaha Provinsi Adzharia memisahkan diri. Lembaga itu juga menyediakan bantuan kemanusiaan bagi warga setempat.

Saakashvili yang memenangkan kursi kepresidenan Januari silam, berjanji mempersatukan Georgia. Namun upaya itu terhambat dengan tindakan puluhan pendukung Abashidze yang menjaga seluruh perbatasan Adzharia. Hal itu dilakukan untuk mencegah masuknya pasukan militer ke provinsi tersebut [baca: Militer Georgia Diminta Bersiaga].

Perang saudara antara etnis Georgia dan Abkhaszia telah memisahkan Provinsi Adzharia dari Georgia selama bertahun-tahun. Namun pemerintahan Georgia yang baru terbentuk, mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi bagi wilayah yang memberontak.(COK/Dew)