Liputan6.com, New Delhi - Paus Leo XIV menyerukan agar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) "dilucuti" di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut oleh para pemimpin dunia dan perusahaan swasta dalam berbagai aktivitas manusia, termasuk untuk kepentingan perang.
Dalam ensiklik pertamanya sebagai paus yang dirilis pada Senin (25/5/2026) berjudul "Magnifica humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence", Paus Leo memperingatkan adanya "perlombaan menciptakan algoritma yang semakin kuat dan kumpulan data yang semakin besar" yang didorong oleh "keinginan untuk meraih dominasi geopolitik maupun komersial".
Pemimpin Gereja Katolik itu meluncurkan ensiklik di Vatikan bersama sejumlah pakar AI, termasuk Christopher Olah, salah satu pendiri perusahaan AI asal Amerika Serikat (AS), Anthropic.
Advertisement
Ensiklik secara harfiah berarti "surat edaran". Dokumen ini ditulis oleh paus untuk menegaskan, memperjelas, atau memberikan panduan moral mengenai isu-isu iman, ajaran Gereja, sosial, dan budaya.
Lalu, apa saja yang disampaikan Paus Leo dalam ensiklik pertamanya dan mengapa hal itu dianggap penting? Berikut penjelasannya seperti dikutip dari Al Jazeera.
Apa yang Dikatakan Paus Leo tentang AI?
Sejak terpilih pada Mei 2025, Paus Leo telah menjadikan isu kecerdasan buatan sebagai salah satu fokus utama masa kepausannya.
Menurut Vatican News, pada November lalu ia sempat menyinggung pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab di sektor kesehatan. Sebulan kemudian, ia kembali menegaskan bahwa AI tidak boleh menghambat generasi muda. Ia mengatakan penting untuk memulihkan dan memperkuat keyakinan anak muda terhadap kemampuan manusia dalam mengarahkan perkembangan teknologi baru, seperti kecerdasan buatan, dan tidak menganggap perkembangan itu sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Namun, dengan menjadikan AI sebagai tema utama ensiklik pertamanya, Paus Leo kini mengubah kekhawatiran tersebut menjadi pedoman resmi keagamaan yang akan disampaikan kepada Gereja Katolik, denominasi Kristen terbesar di dunia yang menaungi sekitar separuh umat Kristen global.
Dalam ensiklik setebal hampir 43.000 kata itu, Leo menegaskan bahwa AI tidak boleh sepenuhnya dikuasai pihak swasta. Ia meminta para pembuat kebijakan melindungi hak-hak pekerja dan menjaga anak-anak dari dampak teknologi tersebut. Ia mendesak perusahaan-perusahaan AI untuk meredakan persaingan mereka.
Dalam "seruan khusus" kepada para pengembang AI, Leo mengatakan, "Para pengembang memikul tanggung jawab etis dan spiritual yang khusus karena setiap pilihan desain mencerminkan cara pandang terhadap kemanusiaan."
"Apa yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif, yang mampu memperlambat laju keadaan ketika semuanya bergerak semakin cepat," ujarnya.
Olah, yang turut berbicara dalam peluncuran ensiklik itu, mengatakan perusahaan-perusahaan AI bekerja dalam sistem insentif dan batasan yang terkadang bertentangan dengan upaya melakukan hal yang benar. Ia mengakui bahwa para pengembang AI perlu memastikan teknologi tersebut tidak memicu gelombang besar kehilangan pekerjaan. Selain itu, mereka juga harus menjawab persoalan yang hingga kini belum terselesaikan mengenai bagaimana memahami perilaku sistem AI yang semakin kompleks dan sering kali tidak transparan.
Paus Leo menyerukan adanya kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang memiliki pemahaman memadai, serta sistem politik yang tidak melepaskan tanggung jawabnya.
"Kecerdasan buatan kini perlu dilucuti dan dibebaskan dari logika yang menjadikannya alat dominasi, pengucilan, dan kematian," kata Paus Leo. "Seperti energi nuklir, teknologi ini harus digunakan demi kepentingan semua orang dan untuk kebaikan bersama."
Paus Leo memperingatkan bahwa AI perlahan menormalisasi perang.
Pada Maret lalu, militer AS mengonfirmasi penggunaan berbagai alat AI dalam perang Iran, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas jatuhnya korban sipil. Pada 2024, Al Jazeera dan sejumlah media lain mengungkap bahwa sistem AI yang terkait dengan Israel, seperti Lavender dan Gospel, membantu menghasilkan ribuan target militer di Gaza.
"Karena itu, pengembangan dan penggunaan AI dalam peperangan harus tunduk pada pembatasan etis yang sangat ketat guna menjamin penghormatan terhadap martabat manusia dan kesucian hidup, serta mencegah perlombaan untuk mengembangkan senjata semacam itu," tulis Paus Leo.
Ia menggarisbawahi bahaya persenjataan berbasis AI dan menegaskan bahwa tidak dapat dibenarkan menyerahkan keputusan untuk menghilangkan nyawa manusia kepada teknologi.
Paus Leo beberapa kali berbeda pandangan dengan Gedung Putih terkait perang Iran dan penggunaan agama untuk membenarkan konflik.
Menurut Paus Leo, teori perang yang adil yang belakangan didorong pemerintahan Presiden Donald Trump sudah "ketinggalan zaman". Ia menambahkan bahwa tidak ada algoritma yang dapat membuat perang menjadi dapat dibenarkan secara moral.
Advertisement
Mengapa Pandangan Paus tentang AI Penting?
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan AI. Pada Januari lalu, Amazon, perusahaan swasta dengan jumlah pekerja terbesar kedua di AS setelah Walmart, memberhentikan 16.000 karyawan dalam gelombang terbaru PHK akibat AI. Pada Oktober, The New York Times melaporkan bahwa perusahaan itu berencana "menggantikan lebih dari setengah juta pekerjaan dengan robot".
Selain ancaman kehilangan pekerjaan, pusat data AI yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan juga mulai memicu persoalan sosial lain. Di sejumlah negara, seperti India, pembangunan pusat data tersebut disebut mengancam menggusur warga dari tempat tinggal mereka.
UNICEF telah memperingatkan bahwa meningkatnya penggunaan alat pembuat gambar atau video berbasis AI yang menghasilkan materi pelecehan seksual terhadap anak menjadi eskalasi serius terhadap risiko yang dihadapi anak-anak di ruang digital.
Di tengah situasi tersebut, peringatan Paus Leo tentang AI menjadi penting karena untuk pertama kalinya seorang paus menjadikan perlawanan terhadap dominasi perusahaan teknologi besar sebagai fokus utama sebuah ensiklik.
Sebelumnya, para paus memang pernah membahas teknologi dalam pidato maupun sebagian isi ensiklik mereka.
Dalam ensiklik tahun 2015 yang membahas lingkungan dan perubahan iklim, Paus Fransiskus mendedikasikan satu bagian khusus mengenai teknologi. Ia menekankan bahwa teknologi seharusnya membawa manfaat bagi dunia, bukan justru memperlebar ketimpangan dan perpecahan.
Pada Oktober 2021, saat berbicara melalui video dari Vatikan dalam World Meeting of Popular Movements, Paus Fransiskus mengatakan, "Jelas bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk kebaikan dan memang demikian adanya. Teknologi memungkinkan dialog seperti ini dan banyak hal lainnya. Namun, teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan hubungan antarmanusia. Teknologi juga tidak dapat menggantikan komunitas tempat kita berakar dan yang membuat hidup kita menjadi bermakna."
"Atas nama Tuhan, saya meminta para raksasa teknologi berhenti mengeksploitasi kelemahan dan kerentanan manusia demi keuntungan semata tanpa memedulikan penyebaran ujaran kebencian, grooming, berita palsu, teori konspirasi, dan manipulasi politik," tambah Paus Fransiskus.
Sementara itu, dalam ensiklik tahun 2009, Paus Benediktus XVI turut membahas perkembangan teknologi dan memperingatkan bahwa teknologi tidak boleh mendorong dehumanisasi.
Apa Lagi yang Disampaikan Paus Leo?
Meski sebagian besar isi ensiklik membahas AI, Paus Leo juga menyinggung peran Gereja Katolik dalam praktik perbudakan dan dengan tulus meminta pengampunan atas nama Vatikan.
Selama ini, Vatikan menegaskan bahwa gereja selalu menjunjung martabat semua manusia sebagai anak-anak Tuhan. Namun, sejumlah dekret Vatikan pada Abad ke-15 pernah memberikan kewenangan kepada penguasa Portugis untuk menaklukkan wilayah di Afrika dan Amerika serta memperbudak orang-orang non-Kristen.
Paus-paus sebelumnya memang pernah meminta maaf atas keterlibatan umat Kristen dalam perdagangan budak transatlantik. Namun, belum pernah ada paus yang secara terbuka mengakui atau meminta maaf atas peran para paus terdahulu yang membenarkan kolonialisme dan perbudakan oleh penguasa Eropa.
"Mustahil untuk tidak merasakan kesedihan mendalam ketika melihat penderitaan dan penghinaan luar biasa yang dialami begitu banyak orang, yang sangat bertentangan dengan martabat mereka sebagai manusia yang begitu dicintai Tuhan," tulis Paus Leo.
"Atas hal itu, atas nama gereja, saya dengan tulus meminta pengampunan,” lanjutnya. "Ini adalah luka dalam ingatan umat Kristen, luka yang tidak bisa kita anggap terpisah dari diri kita."
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866719/original/017032400_1718697583-Pajak1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292724/original/032902100_1783654519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T102917.054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455302/original/051916000_1766644470-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293456/original/054507100_1783717417-000_B9W36UY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293465/original/017817900_1783718956-063_2285562554.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293455/original/048931800_1783717383-000_B9W36VN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110960/original/024723100_1783047145-sp7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289078/original/032461700_1783391107-bel11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291435/original/001786200_1783562166-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264044/original/048184800_1782061399-063_2282635876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261560/original/020942400_1781744954-AP26168812020257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490496/original/009385300_1770013520-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/8209021/original/090015600_1781068073-paus-leo-xiv-disambut-menara-manusia-raksasa-di-barcelona-d05bed.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5215146/original/082316400_1746794162-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455303/original/090641400_1766644470-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5522304/original/046186800_1772753122-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/5564963/original/022714700_1777005252-paus-leo-xiv-serukan-perdamaian-perang-iran-harus-dihentikan-65cf1c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559338/original/032727600_1776567554-Untitled.jpg)