Menlu AS Umumkan Operasi Epic Fury Berakhir, Artinya Perang Iran Usai?

Epic Fury adalah operasi militer gabungan skala besar yang diluncurkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengumumkan akhir dari Operasi Epic Fury.

"Operasi Epic Fury telah berakhir. Kami telah mencapai tujuan dari operasi itu," ujarnya kepada para wartawan pada Selasa (5/5/2026), seperti dikutip dari Al Jazeera.

"Kami tidak berharap situasi tambahan terjadi. Kami lebih memilih jalan perdamaian. Yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan," katanya, merujuk pada upaya Pakistan untuk mengatur perundingan langsung antara Iran dan AS.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer AS untuk memandu kapal-kapal yang terdampar melewati Selat Hormuz, Project Freedom, yang diluncurkan sehari sebelumnya, telah dihentikan sementara.

Namun, bertentangan dengan pernyataan tegas Rubio, Trump pada Rabu (6/5) menulis dalam unggahannya di media sosial bahwa Epic Fury akan "berakhir" jika Iran "setuju memberikan apa yang telah disepakati". Jika tidak, tulis Trump, "pengeboman akan dimulai dan sayangnya akan dilakukan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya."

Putaran pertama dan sejauh ini satu-satunya perundingan di Islamabad bulan lalu berakhir tanpa hasil. Kedua pihak sejak itu telah mengajukan proposal baru.

"Perundingan yang naik turun dengan Iran, bersamaan dengan perubahan mendadak Trump terkait Operation Freedom untuk memandu kapal keluar dari Selat Hormuz, telah menciptakan kegelisahan yang tidak diinginkan di kawasan Teluk," ungkap peneliti senior keamanan Timur Tengah di Royal United Services Institute yang berbasis di Inggris Burcu Ozcelik kepada Al Jazeera.

"Hal itu juga menunjukkan adanya diplomasi rahasia yang sangat tegang untuk menekan Iran agar memberikan konsesi besar terkait program nuklirnya. Jika Iran menyetujui komitmen yang lebih besar dibanding kesepakatan sebelumnya, AS kemungkinan akan mencabut blokade pelabuhan Iran dan melonggarkan sanksi, yang pada akhirnya dapat mengakhiri perang." 

Ozcelik menjelaskan bahwa Iran, di sisi lain, menginginkan jaminan bahwa ini benar-benar akhir perang dan bukan sekadar jeda sementara.

Akhir Perang Iran?

Shahram Akbarzadeh, profesor politik Timur Tengah dan Asia Tengah di Universitas Deakin, Australia, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa meskipun sulit menentukan secara pasti alasan Trump menghentikan Project Freedom, keputusan itu muncul di tengah meningkatnya opini publik anti-perang di AS.

"Pada saat yang sama, Trump mungkin mulai kehilangan kesabaran terhadap perang ini; dia mengatakan punya waktu untuk memperpanjang konflik," kata Akbarzadeh.

"Namun kenyataannya, Trump memiliki rentang perhatian yang pendek dan membutuhkan kemenangan — secepatnya. Menghentikan sementara Project Freedom memberi ruang bagi diplomasi untuk bergerak lebih cepat, mendekatkan AS dan Iran pada sebuah kesepakatan yang akan disebut Trump sebagai kemenangan."

Lantas, apakah pernyataan Rubio menandai akhir perang Iran?

Tidak sepenuhnya. Akbarzadeh menggarisbawahi bahwa penghentian sementara Project Freedom bisa menjadi "awal dari akhir perang".

"Kita tahu bahwa Iran sangat ingin perang ini berakhir, sehingga kecil kemungkinan mereka akan kembali menyerang Angkatan Laut AS jika Trump memberikan sinyal tegas bahwa diplomasi mendapat lampu hijau," tuturnya.

Namun, menurut Akbarzadeh, "Masalahnya adalah kita pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Peluang-peluang sebelumnya terbuang sia-sia karena Israel bersikeras bahwa AS bisa mendapatkan kesepakatan yang lebih baik atau karena Trump salah membaca situasi dan berharap opsi militer akan memberinya konsesi lebih besar."

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Sulit untuk memprediksi hal ini, tetapi kata Akbarzadeh, tampaknya kedua pihak tidak menginginkan kembalinya perang skala penuh sehingga keduanya kemungkinan akan memprioritaskan jalan diplomatik.

"Namun demikian, tidak satu pun bisa terlihat sebagai pihak yang kalah," tambahnya. "Mereka merasa citra publik mereka harus tetap dijaga untuk audiens domestik masing-masing. Ini memperumit negosiasi dan pencapaian kesepakatan."

Ozcelik menilai bahwa apa yang terjadi selanjutnya akan ditentukan oleh komitmen kepemimpinan Iran yang terpecah terkait isu nuklir.

"Meskipun Iran menyatakan bahwa perundingan tidak mencakup pembatasan program nuklirnya, sikap keras itu dinilai bertujuan menenangkan kelompok garis keras dan nasionalis di dalam negeri. Kelompok tersebut memandang program nuklir sebagai simbol hak kedaulatan dan kebanggaan nasional Iran setelah serangan AS-Israel," beber Ozcelik. 

Ia memprediksi bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa kemungkinan akan segera mengeluarkan kecaman resmi terhadap Iran karena memblokade Selat Hormuz.

"Namun tekanan sebenarnya, yang meningkat dari hari ke hari, adalah tekanan ekonomi — bahwa penutupan selat tersebut menimbulkan biaya yang sangat berat terhadap prospek pemulihan ekonomi Iran," ujarnya.

"Terlepas dari retorika mengenai ketahanan dan kelangsungan hidup, kepemimpinan Iran yang tersisa tidak dapat dipungkiri khawatir terhadap biaya perang. Kemungkinan serangan militer baru terhadap infrastruktur penting Iran dan dampak destabilisasi yang pasti ditimbulkannya mungkin akhirnya memaksa Teheran untuk mengambil langkah."Â