Cerita Migran Indonesia Merawat Resep Warisan di Taiwan

Kerinduan pada masakan Nusantara berpadu warisan resep sang ibu membantu Sally melahirkan sebuah restoran Indonesia di utara Taiwan.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Taipei - Dari banyak restoran dengan cita rasa Indonesia yang ada di Taiwan, Pondok Sunny di Hsinchu mungkin jadi salah satu yang populer di kalangan pecinta kuliner. Dimulai sembilan tahun lalu, restoran ini mulai terkenal tidak hanya sajian makanan utamanya seperti rendang tetapi juga jajanan pasar seperti kue lapis yang bisa didapat hingga di Taipei. Lebih dari itu, Pondok Sunny adalah kisah ibu migran baru dengan anak generasi kedua yang melestarikan resep leluhur dari Asia Tenggara.

"Ini semua resep dari emak," kata Sally Michelle, orang Indonesia yang telah menetap di Taiwan untuk 38 tahun lamanya dan memulai restoran Pondok Sunny bersama sang anak, Jocelin Lee, seperti dikutip dari Central News Agency (CNA).

Emak merujuk pada ibu Sally, seorang Singapura yang kemudian jadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Sebelum membangun restoran Pondok Sunny, Sally muda pindah ke Taiwan untuk belajar bahasa Mandarin. Datang ke Taiwan di tahun 1987, ia kemudian dipersunting oleh seorang Taiwan dan bermukim di Hsinchu. Dari pernikahan ini, Sally dikaruniai tiga anak.

Waktu dulu, kata Sally, di Taiwan belum banyak orang Indonesia sehingga rindu akan santapan Nusantara bukan hal yang mudah untuk dipenuhi. Seingat Sally, salah satu restoran Indonesia yang sudah ada di zaman itu hanya bisa ditemui di Taipei.

"Kata suami saya, jauh-jauh ke sana makan, pulang-pulang lapar lagi. Dari situ saya pikir harus belajar. Waktu itu saya enggak bisa masak, cuma pintar bikin kue. Nah lama-lama saya belajar dari mama, mama kan jago masak," kata dia.

Namun meski sedikit demi sedikit kemampuan masaknya meningkat, berkat dari warisan resep mamanya, Sally tak serta merta memulai restoran Pondok Sunny yang kita kenal saat ini. Alih-alih memulai restoran, kelezatan makanan yang ia racik hanya tersaji di meja makan keluarga, mengingat Sally yang fokus menjadi Ibu rumah tangga sambil membuka toko perlengkapan Asia Tenggara di Beipu, Hsinchu.

Ia memang membuat kue dan biasanya membuka pesanan atau menitipkan kue-kue tersebut di beberapa toko Indonesia atau Asia Tenggara yang belakangan mulai berdiri di Hsinchu. Sementara tokonya, tadinya ia rintis sebagai bekal untuk anak pertamanya kelak.

"Anak saya kan tiga. Yang pertama fisioterapi, yang kedua insinyur, dan yang paling besar ini (latar belakangnya) sosial. Ini saya cukup risau, karena di Taiwan tidak ada jaminan di hari tua (untuk latar belakang ilmu sosial). Waktu dia SMA tingkat dua saya tanya, 'mau enggak ikutin jejaknya mama?'. Lalu dia bilang, 'Saya jangan dipaksa, itu bukan kesukaan saya. Saya enggak mau'," kata Sally.

Sally enggan berdebat dengan sang anak. Di sisi lain ia juga meneruskan toko yang ia rintis. Namun, melihat sang anak tidak punya minat dalam bisnis tersebut, toko ia pun dialihkan ke pemilik lain.

 

Titik Balik Sang Anak

Tak lama setelah lulus sekolah, sang anak Jocelin mengajukan permintaan pada Sally agar mempersilakan dirinya keliling Taiwan selama dua tahun untuk menimba pengalaman. Sadar Sally tidak akan menanggung biaya perjalanan ini, Jocelin berinisiatif untuk membiayai perjalanannya sendiri, kata Sally.

Sepanjang dua tahun itu, banyak hal yang dilakukan sang anak. Mulai dari bekerja di perkebunan organik di Taoyuan hingga mencicipi sejumlah kuliner yang ada di Taiwan. Sally dan suaminya memantau dari jauh.

"Eh tahu-tahu dia pulang, 'mama, saya boleh enggak melanjutkan usaha mama.' Saya kaget kan? Eh, kenapa? Dia bilang 'Karena saya dalam jangka dua tahun ini saya sering keluar, mencoba makanan dari Asia Tenggara, ternyata kuenya mama dan emak ini paling enak. Kalau mama tutup berarti (resepnya) hilang'," tutur Sally menirukan ucapan sang anak.

Lalu perjalanan membuka restoran pun dimulai. Sang anak yang ia sempat risau, ternyata piawai dalam banyak hal. Jocelin misalnya berinisiatif mendaftar kelas program wirausaha muda dari pemerintah dan belajar dengan tekun. Ia juga mengurus legalitas bisnisnya termasuk juga lisensi yang menandakan kalau restoran Pondok Sunny yang mereka bangun terpercaya.

Proses ini tentu tidak mudah. Untuk menyelesaikan lisensi misalnya, Sally yang sudah tak kuat membaca bahu membahu dengan Jocelin menghafal sejumlah pertanyaan yang mungkin muncul. Sally pun tegas pada Jocelin untuk tidak merekrut koki di restoran ini, melainkan harus belajar memasak sehingga cita rasanya tetap otentik. Sementara Sally juga sudah enggan memasak karena sudah terlalu lelah.

"Pas saya buka restoran, mama (nenek Jocelin) juga datang. Mengajarkan masak dan bahan-bahan. Itu perjanjiannya. Karena restoran ini adalah milik Jocelin. Akhirnya dia belajar, sampai nangis," kata Sally sambil terkekeh.

 

Terus Berbenah

Pondok Sunny yang kita kenal saat ini berdiri di Nanda, pusat Kota Hsinchu, dengan jumlah kursi yang bisa menampung puluhan pelanggan dalam satu waktu. Namun di awal, Pondok Sunny dimulai sebagai restoran sederhana di Xiangshan, wilayah pinggiran di Kota Hsinchu.

Menurut Sally, tidak mudah menemukan tempat yang cocok di tengah kota untuk restorannya, mengingat harga sewa yang mahal. Namun, ia percaya, jika makanannya enak, maka sejauh apa pun restoran itu, orang akan mencarinya.

Tetapi perjalanan ini pun tidak lantas mulus. Beberapa tetangga bahkan meragukan Pondok Sunny akan bertahan lama.

"Hari pertama kami undang teman-teman, tentu ramai ya karena makan gratis. Di hari kedua, kami cuma dapat 350 dolar Taiwan (sekitar Rp186.447) Saya bilang ke anak saya, enggak apa-apa, kan belum ada yang kenal kita," kata Sally menceritakan masa awal merintis Pondok Sunny.

Namun keuletan dan kerja sama yang kompak dari ibu-anak ini mampu membalikkan situasi. Mereka mulai meminta saran dari pengunjung, menggunakan bahan-bahan berkualitas yang meski mahal, ternyata menciptakan pasar tersendiri bagi produk mereka, hingga terus berbenah sebagai jembatan antara cita rasa Nusantara dengan karakter lidah lokal. Dalam proses panjang ini, tidak jarang Sally dan Jocelin juga terlibat perselisihan.

"Terus dia bilang, 'mama, kita masih mau ribut enggak? Kalau ribut, restoran tutup.' Saya sadar, anak saya ini mau usaha, ya sudah saya percayakan pada dia," kata Sally seraya mengiyakan secara bertahap restoran mulai berkembang menjadi semakin besar dan bertahan hingga saat ini.