Dua Sosok Jenderal Tempur, Panglima di Tengah Panasnya Perang Iran vs Israel

Di balik panasnya perang di kawasan Teluk, ada sosok sentral yang paling berperan dalam adu strategi untuk memenangkan perang. Sorot matanya tajam. Kesan tegas tergambar dari wajah mereka. Keduanya sama-sama ahli strategi.

Diterbitkan 04 Maret 2026, 11:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sorot mata dunia beberapa hari terakhir mengarah ke kawasan timur tengah. Perang rudal terjadi sejak Israel yang berkoalisi dengan Amerika Serikat (AS), menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Serangan udara ini menyasar fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir, sistem rudal balistik, hingga pusat komando Garda Revolusi Iran. Tak gentar, Iran balik menyerang. Keesokan harinya, Minggu 3 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan empat rudal balistik menyasar kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Iran menyebutnya Operasi True Promise 4.

Perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat sudah memasuki hari keempat pada Selasa 2 Maret 2026. Perang ini diperkirakan bakal berlangsung berhari-hari. Data hingga Senin 2 Maret 2026, sedikitnya 555 orang dilaporkan tewas akibat serangan AS dan Israel yang menghantam 131 wilayah administratif di Iran. Termasuk pimpinan tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Di balik panasnya perang di kawasan Teluk, ada sosok sentral yang paling berperan dalam adu strategi untuk memenangkan perang. Sorot matanya tajam. Kesan tegas tergambar dari wajah mereka. Keduanya sama-sama ahli strategi.

Sosok pertama adalah panglima tempur Republik Islam Iran yang baru. Namanya Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi.

Dia secara tegas menyatakan bahwa Garda Revolusi menyiapkan “operasi ofensif paling besar dan paling kuat dalam sejarah Republik Islam”, dengan sasaran Israel dan instalasi militer AS di kawasan. IRGC merupakan pasukan elit yang memegang peran sentral dalam menjaga kelangsungan Republik Islam Iran sekaligus memperluas pengaruh Teheran di tingkat regional dan internasional.

Ahmad Vahidi menggantikan Mohammad Pakpour yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu lalu.

Perumus Strategi Perang

Ahmad Vahidi, yang memiliki nama lahir Vahid Shahcheraghi, bukan sosok baru dalam struktur pertahanan Iran. Dia dikenal sebagai salah satu anggota pendiri IRGC dan memiliki rekam jejak panjang di tubuh militer, dikutip dari laman Daily Iran News, Senin (2/3/2026).

Pada Desember 2025, Vahidi ditunjuk sebagai wakil panglima tertinggi IRGC. Dia juga pernah duduk di jabatan Menteri Pertahanan serta Menteri Dalam Negeri Iran. Tak heran dia menjadi figur kunci dalam lingkaran keamanan nasional.

Di internal IRGC, Vahidi pernah memimpin Pasukan Quds — unit yang bertanggung jawab atas operasi militer eksternal Iran serta pengelolaan jaringan aliansi bersenjata di kawasan. Dia disebut berperan dalam merumuskan strategi perang asimetris Iran dan membangun kemitraan regional yang menjadi fondasi proyeksi kekuatan Teheran.

Dengan jabatan barunya sebagai Panglima Tertinggi IRGC, Vahidi kini berada di garis depan respons militer Iran atas serangan terbaru.

Otak Strategi Israel

Sosok kedua datang dari kubu Lawan. Nama Letnan Jenderal Eyal Zamir cukup tersohor di Israel. Jenderal Zamir dianggap sebagai sosok Penting pengendali kekuatan bersenjata di kawasan timur tengah.

Di mata orang, dia dikenal tegas dengan karir militer yang mentereng. Dia adalah Kepala Staf Israel Defense Forces (IDF). Jenderal Eyal Zamir didapuk menjadi Kepala Staf IDF pada 5 Maret 2025. Sosoknya dianggap paling berpengaruh dalam perang melawan Iran.

Jenderal Zamir lahir pada tahun 1966 di Eilat. Dia menempuh pendidikan di Akademi Militer untuk Komando di Tel Aviv. Lulus dari Sekolah Tinggi Komando dan Staf Antar-Layanan dan Sekolah Tinggi Keamanan Nasional. Dia juga menyelami ilmu politik dari Universitas Tel Aviv dan gelar master dalam keamanan nasional dari Universitas Haifa. Dia menyelesaikan Program Manajemen Umum untuk Eksekutif Senior di The Wharton School.

Sepanjang karirnya, Jenderal Eyal Zamir banyak bertugas di pos strategis militer. Melansir The Media Line, dia direkrut ke dalam Korps Lapis Baja IDF pada tahun 1984. Dia juga memimpin berbagai brigade dan divisi lapis baja, termasuk Brigade Lapis Baja ke-7 dan Divisi ke-143. Pada tahun 2009, dia mengambil alih komando Divisi ke-36, posisi penting dalam pasukan darat Israel.

Dia pernah menjabat bertugas di komando selatan, wilayah yang berbatasan langsung dengan Gaza pada tahun 2015. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil kepala staf pada tahun 2018. Posisi yang mendekatkannya dengan puncak komando militer Israel.

Posisi penting dan strategis lingkaran inti pernah diduduki. Yakni Sekretaris Militer untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari tahun 2012 hingga 2015.

Jabatan-jabatan itu diperoleh karena dia dianggap sebagai salah satu perwira yang paling terlatih dalam strategi. Tak heran Jenderal Zamir dinilai sebagai otak strategi IDF. Operasi militer yang gencar dilakukan Israel ke Iran dan Palestina, tak bisa dilepaskan dari peran Jenderal Zamir sebagai pemenang tongkat komando militer Israel. Berbekal pengalamannya di lapangan dan kedekatan dengan pengambil kebijakan.