China Kritik Pemberian Penghargaan Grammy kepada Dalai Lama

Penghargaan Grammy ini disebut sebagai alat manipulasi politik anti-China.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 08:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - China pada Senin (2/2/2026) mengkritik kemenangan Dalai Lama dalam ajang Grammy Awards 2026. Penghargaan itu diberikan dalam kategori "Best Audio Book, Narration, and Storytelling Recording".

Pemimpin spiritual Buddha Tibet yang hidup dalam pengasingan di India tersebut meraih penghargaan pada Minggu (1/2) untuk bukunya berjudul "Meditations: The Reflections of His Holiness the Dalai Lama". Kemenangan ini menandai Grammy pertama yang diraih Dalai Lama.

Dalam pernyataan yang dimuat di situs resminya, Dalai Lama menyatakan bahwa ia memandang penghargaan tersebut "sebagai pengakuan atas tanggung jawab universal kita bersama". Ia menambahkan, "Saya menerima pengakuan ini dengan rasa syukur dan kerendahan hati."

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyampaikan sikap resmi pemerintah Beijing.

"Sudah diketahui secara luas bahwa Dalai Lama ke-14 bukan semata-mata tokoh agama, melainkan seorang pengungsi politik yang terlibat dalam aktivitas separatis anti-China dengan kedok agama," kata Lin Jian seperti dikutip dari laporan Associated Press.

Lin Jian menekankan bahwa pemerintah China dengan tegas menentang pihak terkait yang menggunakan penghargaan tersebut sebagai alat manipulasi politik anti-China.

Dalai Lama, yang oleh banyak pihak dipandang sebagai wajah perjuangan rakyat Tibet untuk memperoleh kewenangan yang lebih besar dalam mengatur urusan internalnya, telah hidup dalam pengasingan sejak tahun 1959. Pada tahun tersebut, pasukan China menumpas pemberontakan di ibu kota Tibet, Lhasa, yang mendorong Dalai Lama meninggalkan wilayah itu.

China, yang saat ini memerintah Tibet sebagai sebuah wilayah otonom, telah berulang kali dituduh berupaya menghapus bahasa, budaya, dan identitas Tibet. Tuduhan tersebut kerap dibantah oleh Beijing.

Beijing dan Dalai Lama juga berselisih mengenai penerus pemimpin spiritual tersebut di masa depan.

Pemerintah China menyatakan bahwa Dalai Lama berikutnya akan lahir di Tibet dan diakui oleh Partai Komunis yang berkuasa. Sementara itu, Dalai Lama menegaskan bahwa penerusnya akan berasal dari negara yang bebas dan bahwa China tidak memiliki peran apa pun dalam proses penentuan tersebut.Â