Afrika Selatan dan Israel Saling Usir Diplomat Senior, Hubungan Kian Memburuk

Seperti apa awal mula keretakan hubungan Israel dan Afrika Selatan?

Diterbitkan 01 Februari 2026, 14:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pretoria - Afrika Selatan dan Israel saling mengusir diplomat senior masing-masing setelah Pretoria menyatakan kuasa usaha Kedutaan Besar Israel sebagai persona non grata atas dugaan pelanggaran norma diplomatik. Langkah tersebut segera dibalas Israel dengan tindakan serupa terhadap perwakilan Afrika Selatan.

Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan menyatakan Ariel Seidman, kuasa usaha Kedutaan Besar Israel di Pretoria, harus meninggalkan negara itu dalam waktu 72 jam. Pemerintah menilai Seidman telah melakukan pelanggaran serius terhadap etika dan tata krama diplomatik, dikutip dari laman BBC, Minggu (1/2/2026).

Beberapa jam kemudian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Luar Negeri Gideon Saar mengumumkan pengusiran Shaun Edward Byneveldt, utusan Afrika Selatan untuk Palestina. Israel juga memberi tenggat 72 jam bagi Byneveldt untuk meninggalkan wilayahnya.

“Sebagai respons atas serangan palsu Afrika Selatan terhadap Israel di forum internasional dan langkah sepihak yang tidak berdasar terhadap perwakilan kami, Israel telah memutuskan untuk menyatakan utusan Afrika Selatan sebagai persona non grata,” demikian pernyataan pemerintah Israel. Tel Aviv menambahkan bahwa langkah-langkah lanjutan masih dipertimbangkan.

Ketegangan diplomatik ini memperdalam hubungan yang sudah memburuk sejak Afrika Selatan menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina di Mahkamah Internasional (ICJ), tuduhan yang secara tegas dibantah Israel.

Afrika Selatan menuding Seidman menyalahgunakan platform media sosial resmi untuk menyerang Presiden Cyril Ramaphosa serta mengundang pejabat Israel ke Afrika Selatan tanpa persetujuan pemerintah. Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan menyebut tindakan tersebut sebagai “penyalahgunaan hak istimewa diplomatik yang sangat serius”.

Menanggapi pengusiran Byneveldt, juru bicara Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan menulis di media sosial bahwa Israel menggunakan “pengaturan yang menggelikan, di mana seorang diplomat diakreditasi melalui negara yang menduduki wilayah tuan rumahnya”.

Kedua diplomat yang diusir tersebut merupakan perwakilan berpangkat tertinggi dari masing-masing negara. Israel saat ini tidak memiliki duta besar di Afrika Selatan, sementara Afrika Selatan juga tidak menempatkan duta besar di Israel.

 

Serangan Israel ke Gaza

Afrika Selatan menarik duta besarnya dari Israel pada 2018, menyusul tuduhan serangan mematikan Israel terhadap warga sipil di Gaza. Israel kemudian menarik duta besarnya dari Pretoria pada 2023 setelah Afrika Selatan mengajukan gugatan ke ICJ.

Seidman diangkat sebagai kuasa usaha Kedutaan Besar Israel di Afrika Selatan pada tahun lalu, dengan wilayah kerja yang juga mencakup Eswatini, Lesotho, Madagaskar, Mauritius, dan Namibia. Sejak penunjukannya, kedekatannya dengan Buyelekhaya Dalindyebo—seorang raja tradisional Afrika Selatan yang kontroversial sekaligus keponakan Nelson Mandela—menuai kritik dari pemerintah Ramaphosa.

Dalindyebo mengunjungi Israel pada Desember lalu dan bertemu sejumlah pejabat tinggi tanpa sepengetahuan pemerintah Afrika Selatan. Setelah kunjungan itu, delegasi Israel mendatangi provinsi asal Dalindyebo di Eastern Cape dengan janji pemberian bantuan.

Pejabat Israel kemudian mempublikasikan foto dan video perjalanan tersebut di platform X, yang menurut mereka bertujuan membahas “bantuan konkret di bidang air, kesehatan, dan pertanian”.

Afrika Selatan memiliki sejumlah raja tradisional yang diakui secara resmi dan mewakili berbagai kelompok etnis serta klan. Namun, para pemimpin adat tersebut tidak memiliki kewenangan politik formal dalam pemerintahan nasional.