Dua Diaspora Indonesia di Taiwan Terima Penghargaan CTFP

Siapa dua orang diaspora yang dimaksud? Berikut selengkapnya.

Diterbitkan 24 Januari 2026, 17:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Taipei - Dua orang diaspora Indonesia yang berkiprah di Taiwan dianugerahi 100 Celebrity Talk for Para Athletes (CTFP) Indonesia Card of Honor 2025, sebuah penghargaan bagi tokoh-tokoh berpengaruh di bidang bisnis, olahraga, musik, mode, perfilman, serta advokasi sosial yang berkontribusi dalam mendukung atlet penyandang disabilitas dan gerakan paralimpiade.

Kedua penerima penghargaan tersebut adalah Tony Thamsir dan Grace Jonwilin. Tony Thamsir dianugerahi penghargaan kategori Advokat Persahabatan atas kiprahnya sebagai presenter multibahasa dan konsultan media yang aktif menjembatani hubungan antara Taiwan, Indonesia, dan komunitas internasional.

Sementara itu, Grace Jonwilin menerima penghargaan kategori Seniman Vokal. Ia merupakan anggota girl group Taiwan HUR+ asal Indonesia yang berkiprah di bidang musik dan seni pertunjukan.

Kepada CNA, Tony Thamsir menyampaikan apresiasinya kepada para atlet penyandang disabilitas. Ia menyebut mereka sebagai "pahlawan sejati yang menginspirasi dunia dengan semangat dan ketangguhan yang tak terbatas."

"Setiap langkah kalian di dalam dunia olahraga adalah bukti bahwa mimpi besar tidak mengenal batasan. Teruslah bersinar karena keberanian kalian mengubah pandangan mata dunia tentang kekuatan sejati disabilitas," ujar Tony.

Tony Thamsir, Grace Jonwilin, dan para penerima penghargaan lainnya dijadwalkan menerima penghargaan tersebut dalam International Charity Concert 100 CTFP yang diselenggarakan oleh Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF). Menurut keterangan yang diterima CNA, acara ini akan digelar di Sari Pacific Jakarta – Autograph Collection pada 31 Januari.

Konser penyerahan penghargaan ini diselenggarakan tanpa anggaran, di mana seluruh pengisi acara tampil secara sukarela tanpa menerima bayaran. Selain itu, tidak ada penjualan tiket dan seluruh kegiatan sepenuhnya bersifat amal sebagai bentuk penyampaian pesan dukungan kepada masyarakat.

Melalui musik dan advokasi para figur publik, acara ini bertujuan untuk menyampaikan semangat, dorongan, dan dukungan bagi atlet penyandang disabilitas di seluruh dunia. Terdapat tiga pesan utama yang ditekankan, yakni nilai kesetaraan, martabat, dan inspirasi, sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Komite Paralimpiade Internasional Andrew Parsons.

MMLWF sendiri merupakan yayasan yang didirikan berdasarkan pesan terakhir Maria Monique, seorang anak yang menderita infeksi paru-paru akibat bakteri ganas. Sebelum wafat pada 2006, Maria Monique berpesan kepada ibunya, Natalia Tjahja, untuk memberikan kebahagiaan kepada anak-anak kurang beruntung di seluruh dunia.

Sebelumnya, pada 2017, Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) di Indonesia pernah bekerja sama dengan MMLWF dengan mengundang tiga anak dari yayasan tersebut serta Michael Anthony, seorang jenius musik tunanetra. Dalam kegiatan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan Taiwan melalui cerita, pembuatan lampion, lagu, dan makanan.