19 Januari 1915: Jerman Teror Inggris dengan Kendaraan Terbang Zeppelin

Bagaimana ibukota London bisa diporakporandakan akibat ulah pesawat terbang bernama Zeppelin?

Diterbitkan 19 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Sebelum abad ke-20, warga sipil di Inggris hampir tidak pernah merasakan dampak langsung dari peperangan. Namun, situasi tersebut berubah drastis pada 19 Januari 1915. Tanggal itu menandai serangan udara pertama dalam Perang Dunia I yang dilancarkan oleh Zeppelin Jerman. Sejarawan dan spesialis udara, Ben Robinson, menelusuri kembali jejak serangan mematikan tersebut.

Senjata terbang ciptaan Count von Zeppelin, seorang pensiunan perwira angkatan darat Jerman, menjadi ancaman baru di udara. Pesawat tersebut lebih ringan dari udara, berisi gas hidrogen, dan diperkuat rangka baja, dikutip dari laman BBC, Senin (19/1/2026).

Ketika perang pecah pada tahun 1914, angkatan bersenjata Jerman telah memiliki beberapa armada zeppelin yang mampu melaju dengan kecepatan sekitar 85 mil per jam serta membawa bom hingga dua ton. Akibat kebuntuan militer di Front Barat, Jerman memutuskan mengerahkan senjata raksasa itu untuk menggempur kota-kota di Inggris.

Serangan perdana menghantam kota pesisir timur Great Yarmouth dan King's Lynn. Warga melaporkan mendengar suara dentuman yang menakutkan dari atas, disusul ledakan di jalanan. Ketika asap mereda, korban serangan udara pertama di Inggris terungkap, Martha Taylor (72 tahun) dan Samuel Smith, seorang pembuat sepatu.

 

Strategi Menebar Ketakutan

Tujuan utama Jerman bukanlah kemenangan taktis militer, melainkan dampak psikologis. Kate Argyle dari English Heritage menjelaskan bahwa serangan tersebut murni bertujuan menimbulkan ketakutan."Tidak ada keuntungan militer. Aksi itu semua tentang menanamkan teror dan itulah yang dilakukan oleh pemboman udara tersebut. Zeppelin akan muncul dari kegelapan, Anda tidak bisa melihatnya dan kedatangannya benar-benar acak. Anda tidak tahu apakah Anda berlari menuju bahaya atau menjauhinya,” ujar Argyle.

Jerman berharap teror itu akan mematahkan moral warga dan memaksa pemerintah Inggris untuk meninggalkan perang di parit-parit. Namun, kepanikan massal yang diharapkan tidak terjadi. 

"Orang-orang bereaksi dengan sangat tabah, mereka melanjutkan pekerjaan membersihkan puing-puing, rasa ketidakpedulian khas Inggris terhadap situasi tersebut," tambah Argyle.

Meskipun demikian, propaganda Jerman mengklaim keberhasilan besar karena warga Inggris kini tidak hanya mati di medan perang tetapi juga di tempat tidur mereka, semangat Inggris belum patah. Jerman lantas mengalihkan target ke ibu kota, London.

Sejarawan penerbangan Ian Castle menggambarkan betapa asingnya serangan tersebut bagi warga kala itu, "Belum pernah ada serangan sebelumnya, tidak pernah ada peristiwa seperti itu. Tiba-tiba sebuah bom yang menyala keluar dari langit dan membakar rumah, kejadian itu hampir seperti fiksi ilmiah."

Serangan di London memakan korban jiwa pertama di Cooper Road, di mana Elsie yang baru berusia tiga tahun tewas di tempat tidurnya. Dalam waktu 20 menit, sebuah Zeppelin telah menjatuhkan 3 ribu pon bom, 91 bom pembakar yang menyebabkan 40 kebakaran, menghancurkan bangunan, dan menewaskan tujuh orang. Tidak satu pun tembakan balasan dilepaskan.

Sejak hari itu, Zeppelin dikenal dengan julukan "pembunuh bayi". Doris Cobban, yang berusia 102 tahun dari Bedfordshire, masih mengingat tragedi tersebut dengan jelas. Kala itu ia berusia lima tahun dan tinggal di Lewisham.

"Saya ingat ayah saya datang ke kamar tidur, lalu mengangkat saya dan membungkus saya dengan selimut sambil berkata 'ini adalah sejarah, kamu harus melihatnya'," katanya.

 

 

Runtuhnya Dominasi Udara dan Lahirnya RAF Inggris

Serangan paling merusak terjadi pada 8 September, dipimpin oleh komandan Zeppelin paling sukses, Kapitanleutnant Heinrich Mathy. Gempuran itu menewaskan 22 orang dan melukai 87 lainnya, sementara Zeppelin berhasil lolos tanpa kerusakan.

Namun, dominasi Zeppelin tidak bertahan selamanya. Titik balik terjadi pada September 1916, ketika William Leefe Robinson yang berusia 19 tahun berhasil menembak jatuh sebuah kapal udara Jerman. Meskipun Jerman meningkatkan serangan dengan "Super Zeppelin", Inggris akhirnya menemukan kelemahan fatal pesawat tersebut, peluru peledak yang dapat membakar gas hidrogen di dalamnya.

Penemuan taktik tersebut menjadi awal kehancuran armada Zeppelin. Selama masa dominasi yang singkat namun mematikan, kapal udara itu telah menewaskan lebih dari 500 orang dan melukai lebih dari seribu orang di seluruh wilayah timur Inggris. Serangan terakhir Zeppelin di Inggris terjadi di pantai Norfolk pada 5 Agustus 1918.

Meski awalnya tampak tak terkalahkan, Zeppelin akhirnya terbukti rentan. Namun, rentetan serangan itu menyadarkan pemerintah bahwa warga di rumah sama rentannya dengan tentara di garis depan. 

Kesadaran akan perlunya sistem pertahanan udara yang mendalam memicu pembentukan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) pada tahun 1918. Peristiwa tersebut juga mendorong pengembangan ruang operasi yang kelak terbukti sangat krusial dalam Pertempuran Britania (Battle of Britain) tahun 1940 dan kemenangan di Perang Dunia II.