Liputan6.com, Oslo - Seorang pria tak dikenal menyerang atlet seluncur es Amerika Serikat, Nancy Kerrigan, dengan menggunakan linggis logam pada 6 Januari 1994. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah olahraga figure skating Amerika Serikat.
Saat kejadian, Kerrigan yang berusia 24 tahun baru saja menyelesaikan sesi latihan dan meninggalkan arena es di Cobo Hall, Detroit. Penyerangan terjadi secara tiba-tiba ketika ia berada di area luar arena.
Akibat serangan itu, Kerrigan mengalami memar serius di lutut kanan. Cedera tersebut memaksanya mundur dari Kejuaraan Nasional Figure Skating Amerika Serikat di Detroit, ajang penting yang menjadi penentu wakil AS ke Olimpiade Musim Dingin 1994 di Lillehammer, Norwegia. Meski dua atlet teratas biasanya lolos otomatis, Asosiasi Figure Skating AS memiliki kewenangan diskresi dalam menentukan atlet yang dikirim ke Olimpiade.
Advertisement
Kerrigan merupakan peraih medali perunggu Olimpiade Musim Dingin 1992. Kehadirannya di kejuaraan nasional saat itu dinilai krusial dalam persaingan menuju Olimpiade Lillehammer, dikutip dari BBC, Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, pelaku diketahui sempat merekam Kerrigan ketika sedang berlatih sebelum melancarkan serangan. Sejumlah saksi mata menyebutkan penyerang mengenakan tanda pengenal resmi di lehernya, meski identitasnya belum diketahui saat kejadian.
Seorang saksi mata menggambarkan serangan tersebut berlangsung sangat cepat. “Sebelum Kerrigan sempat bereaksi, seorang pria berlari mendekat, berjongkok, lalu memukul lututnya dan langsung melarikan diri. Nancy jatuh dan mulai berteriak serta menangis,” ujar saksi tersebut.
Agen Kerrigan, Jerry Solomon, mengatakan kliennya mengalami dampak berat secara fisik maupun mental. Menurutnya, cedera dan trauma tersebut berpotensi memengaruhi kesiapan mental Kerrigan, yang sangat penting dalam olahraga seluncur es.
Insiden ini terjadi hanya delapan bulan setelah dunia olahraga diguncang penusukan petenis Monica Seles oleh seorang penonton di Hamburg, Jerman, yang kembali memicu kekhawatiran terkait keamanan atlet di arena pertandingan.
Skandal Konspirasi dan Sanksi Seumur Hidup
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463337/original/038747900_1767606898-UP65BP6KR5FKXETTAKSNOA3W5Y.jpg)
Pasca mundurnya Kerrigan, Tonya Harding (23) berhasil memenangkan final Kejuaraan Figure Skating Wanita AS. Namun, investigasi polisi segera mengarah pada dugaan konspirasi yang melibatkan orang-orang dekat Harding.
Mantan suami Harding, Jeff Gillooly, pengawalnya Shawn Eckardt, dan dua pria lainnya didakwa atas persekongkolan penyerangan tersebut. Harding sendiri membantah terlibat dalam perencanaan plot itu.
Pada akhirnya, Harding mengakui keterlibatannya dalam upaya menutupi serangan dan didenda USD $100 ribu dolar (sekitar Rp 3,5 miliar saat ini) serta dijatuhi hukuman masa percobaan selama tiga tahun.
Meskipun diwarnai kontroversi hukum, kedua atlet tetap dikirim mewakili tim Amerika Serikat di Olimpiade Lillehammer. Nancy Kerrigan sukses meraih medali perak, sementara performa Harding dinilai tampil kurang baik.
Buntut dari kasus tersebut, pada Juni 1994, Asosiasi Figure Skating AS mencabut gelar juara nasional 1994 milik Harding dan menjatuhkan sanksi larangan terlibat dalam organisasi seumur hidup.
Keputusan itu menutup peluangnya berkompetisi di Olimpiade mendatang. Harding tercatat baru kembali ke arena es pada Oktober 1999 dalam sebuah acara profesional ESPN dan menempati posisi kedua.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3905030/original/ACg8ocIhRhvs-eLZI_JgAExp-r2LUXlTLIqN67fFE_mGuoyy_l1HK8eG%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463336/original/099353000_1767606897-261478-1ae978ecf27d4c9cbe00b4710a22f310.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1238139/original/082014900_1521205275-pp.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)