30 Desember 1994: Teror Penembakan di Klinik Aborsi AS, 2 Orang Tewas

Apa penyebab klinik aborsi di Boston menjadi target penyerangan?

Diterbitkan 30 Desember 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Dua perempuan tewas dan sedikitnya lima orang lainnya luka-luka dalam serangan bersenjata yang menargetkan dua klinik aborsi di pinggiran kota Boston, Amerika Serikat, pada 30 Desember 1995. Insiden tersebut terjadi di wilayah Brookline, Massachusetts, dan menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap fasilitas kesehatan reproduksi di AS.

Mengutip laporan BBC, Selasa (30/12/2025), serangan pertama terjadi di klinik Planned Parenthood. Seorang pria bersenjata menembak mati seorang staf klinik dan melukai sedikitnya tiga orang lainnya, termasuk seorang perempuan yang tengah menunggu sesi konseling.

Beberapa menit kemudian, pelaku diduga sama bergerak ke klinik Pre-Term yang berada di jalan berdekatan. Seorang saksi mata mengatakan pelaku memasuki gedung sambil membawa tas ransel dan sempat bertanya kepada seorang karyawan perempuan, “Apakah ini Pre-Term?”

Setelah korban memastikan lokasi tersebut, pelaku menjatuhkan tasnya, mengeluarkan senapan berburu, dan langsung melepaskan tembakan. Perempuan yang ia ajak bicara serta seorang karyawan lain di dekat mesin fotokopi tertembak di lokasi kejadian.

Pelaku kemudian menembak dan melukai seorang petugas keamanan di bagian lengan sebelum melarikan diri ke luar gedung. Ia kembali menembaki staf dan pasien yang berusaha menyelamatkan diri. Salah satu korban perempuan meninggal dunia di rumah sakit akibat sedikitnya lima luka tembak.

Pihak kepolisian setempat segera mengamankan lokasi dan meluncurkan penyelidikan besar-besaran. Otoritas belum merilis identitas pelaku pada saat itu, namun memastikan insiden tersebut merupakan serangan terarah.

Kedua klinik aborsi tersebut diduga menjadi target karena tengah terlibat dalam uji coba pil aborsi RU-486 buatan Prancis, yang pada masa itu memicu kontroversi luas di Amerika Serikat dan menuai penentangan keras dari kelompok anti-aborsi.

Serangan ini memperkuat kekhawatiran nasional terkait meningkatnya kekerasan terhadap fasilitas kesehatan reproduksi serta tenaga medis di AS pada dekade 1990-an.

Penangkapan John Salvi dan Dampak Serangan

Polisi segera mengerahkan anjing pelacak, dan FBI segera menggelar pencarian besar-besaran terhadap tersangka yang digambarkan sebagai pria kulit putih berusia awal 30-an, berambut cokelat panjang, dan berpakaian hitam. 

Beberapa hari kemudian, John Salvi, seorang aktivis pro-kehidupan berusia 22 tahun, ditangkap setelah melepaskan tembakan di sebuah klinik di Norfolk, sekitar 600 mil dari lokasi kejadian awal. 

Keterlibatannya terbukti lewat penemuan pistol, amunisi, dan kuitansi toko senjata dalam tas yang dibuang di Boston. Salvi dijatuhi hukuman seumur hidup wajib atas pembunuhan dua resepsionis tersebut. 

Namun, ia ditemukan tewas gantung diri di penjara pada November 1996. Meskipun Salvi bertindak sendiri, aksinya terjadi di tengah gelombang teror bom dan vandalisme terhadap klinik aborsi serupa di Amerika, yang menyebabkan total lima pembunuhan dalam dua tahun terakhir saat itu.

Tragedi tersebut berdampak luas, mengakibatkan banyak rumah sakit kemudian menolak melakukan prosedur aborsi.