19 Desember 1972: Apollo 17 Kembali ke Bumi, Akhiri Era Misi Pendaratan Bulan Berawak AS

Perjalanan Apollo 17 menjadi misi terakhir yang dijalani oleh tiga astronot dengan membawa 249 sampel untuk penelitian ilmiah pada 2019.

Diterbitkan 19 Desember 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan misi Apollo 17 dari Amerika Serikat telah dimulai pada 7 Desember menggunakan roket Saturn V dengan kapten Eugene A. Cernan,  Komandan Ronald E. Evans dari Angkatan Laut, dan Dr. Harrison H. Schmitt, seorang ahli geologi, yang melakukan pendaratan di perairan Samudra Pasifik pada 19 Desember 1972, mengakhiri misi dari proyek Presiden Kennedy pada Mei 1961.

Menurut NASA, Apollo 17 adalah misi pendaratan bulan berawak terakhir, terpanjang, dan paling sukses dari tujuh misi dalam proyek senilai 25 miliar dolar AS.

Beberapa astronot yang berada di misi ini telah memenuhi seluruh tujuan ilmiah mereka, yaitu mengumpulkan sampel dan mendirikan stasiun ilmiah di luar lokasi pendaratan utama di bulan, di mana mereka juga membawa 249 pon sampel batuan bulan yang akan diterbangkan ke Houston pada Kamis pagi, dilansir dari The New York Times, Jumat (19/12/2025).

Pesawat ruang angkasa yang digunakan memiliki berat mencapai 35.000 pon yang berada 49.000 mil dari Bumi dan melaju dengan kecepatan 6.100 mil per jam.

Saat memasuki atmosfer, para astronot merasakan tekanan tiga kali gravitas Bumi yang menekan tubuh, akibatnya laju kencang pesawat diperlambat secara tiba-tiba oleh atmosfer yang semakin menebal hingga tiga parasut kecil membantu pendaratan yang aman di air.

Setelah mendarat, ketiga astronot diterbangkan dengan helikopter ke kapal induk, diiringi musik band dan sambutan resmi.

Pada konferensi pers, Wakil Administrator NASA, George M. Low, mengatakan bahwa perjalanan Apollo 17 menguji sistem pesawat ruang angkasa sekaligus membuktikan kesiapan teknologi yang mendukung eksplorasi Bulan pada misi-misi berikutnya.

"Manusia telah belajar bahwa ruang angkasa adalah miliknya untuk dijelajahi, dan manusia akan kembali ke ruang angkasa untuk menjelajahinya, ke bulan dan seterusnya," ucapnya.

Warisan Apollo 17

Misi yang dijalankan hampir dua minggu ini memberikan dampak besar bagi sejarah eksplorasi antariksa. Presiden Nixon mengatakan bahwa hasil dari penerbangan ini menjadi pembuatan sejarah ruang angkasa yang akan terus berlanjut.

Hal ini dikarenakan adanya rencana untuk meluncurkan Skylab, stasiun ruang angkasa pertama yang mengorbit Bumi dan akan ditempati oleh tiga awak astronot selama delapan bulan.

Pada musim semi mendatang, para astronot dijadwalkan untuk bekerja dalam 56 hari berturut-turut, yang menguji ketahanan manusia di ruang angkasa setelah jalur menuju Bulan dilakukan oleh Apollo 17.

Melalui berakhirnya Apollo 17, batuan atau sampel ini disegel dan telah dibuka pada 2019. Lapisan tanah bulan tersebut memberikan pengetahuan baru tentang berbagai proses geologis terhadap tanah longsor di tempat tempat-tempat tanpa atmosfer.

Karena disegel dalam waktu yang lama, tabung tersebut memiliki gas sehingga para ilmuwan menggunakan alat khusus yang disebut manifold, dirancang dari Universitas Washington di St. Louis untuk mengekstrak dan mengumpulkan gas tersebut, seperti yang dikutip dari NPR.

Sampel ini pun dilakukan penelitian lebih lanjut dengan teknologi modern untuk mengungkap kandungan gas volatil serta memahami asal-usul dan evolusi material di permukaan Bulan. Seperti yang dilakukan penelitian di Badan Antariksa Eropa (ESA) yang melakukan analisis terhadap sampel Apollo 11.

Â