Kapal Induk AS USS Gerald R. Ford Hadir di Karibia untuk Operasi Anti-Narkoba

Ketegangan meningkat di kawasan saat AS terus menyerang kapal-kapal yang mereka klaim mengangkut narkoba di Karibia.

Diterbitkan 17 November 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada Minggu (16/11/2025) bahwa sebuah kapal induk AS kini berada di Laut Karibia untuk memperkuat kampanye anti-narkoba— sebuah langkah yang diperkirakan akan memicu kemarahan Venezuela.

Langkah ini muncul setelah Presiden Donald Trump memerintahkan peningkatan pengerahan pasukan di kawasan tersebut sebagai bagian dari inisiatif pemberantasan penyelundupan narkoba. Namun, keputusan ini memicu spekulasi bahwa AS mungkin mempertimbangkan opsi militer terhadap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.

Komando Selatan AS (SOUTHCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Amerika Latin dan Karibia, sebelumnya mengonfirmasi bahwa Gugus Tempur Kapal Induk USS Gerald R. Ford memasuki area tanggung jawabnya. Dalam pernyataan terbaru pada Minggu seperti dikutip dari CNA, SOUTHCOM menegaskan bahwa gugus tempur tersebut kini telah berada di Laut Karibia. Mereka menyebut bahwa langkah itu mengikuti arahan Trump untuk membongkar Organisasi Kriminal Transnasional dan melawan narco-terrorism — istilah narco-terrorism merujuk pada kegiatan jaringan kriminal narkotika yang tidak hanya memperdagangkan obat terlarang, tetapi juga menggunakan kekerasan dan intimidasi dengan pola yang menyerupai aksi teror.

Gugus tempur itu terdiri atas kapal induk, dua kapal perusak rudal terpandu, serta sejumlah kapal dan pesawat pendukung lainnya. Kehadirannya menambah jumlah kapal perang AS yang telah lebih dulu berada di kawasan tersebut dalam pengerahan yang diberi nama "Operation Southern Spear".

Sebagai bagian dari operasi tersebut, SOUTHCOM juga mengumumkan bahwa pada Sabtu (15/11) terjadi serangan baru di Pasifik timur yang menewaskan tiga tersangka. Sejak serangan militer anti-penyelundupan diluncurkan pada September, pasukan AS telah menewaskan sedikitnya 83 orang yang dituduh membawa narkoba di perairan internasional.

Meski demikian, pemerintah AS belum memberikan rincian yang membuktikan bahwa korban dalam lebih dari 20 serangan di Karibia dan Pasifik timur itu benar-benar merupakan para penyelundup narkoba. Para ahli menilai bahwa kematian-kematian tersebut termasuk dalam kategori pembunuhan di luar proses hukum, bahkan bila sasaran adalah pelaku penyelundupan yang telah teridentifikasi.

Trump soal Maduro

Di sisi lain, pemerintah Venezuela menilai pengerahan itu sebagai ancaman langsung. AS tidak mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden sah Venezuela dan telah menawarkan imbalan USD 50 juta bagi siapa pun yang dapat menangkapnya untuk menghadapi tuduhan memimpin kartel narkoba.

Di tengah laporan bahwa Trump telah menggelar pertemuan dengan para penasihat militernya mengenai kemungkinan opsi untuk Venezuela, ia mengatakan kepada wartawan pada Jumat bahwa ia semacam telah mengambil keputusan.

"Saya tidak bisa memberi tahu Anda apa itu, tetapi kami membuat banyak kemajuan dengan Venezuela dalam hal menghentikan narkoba yang masuk,” ujarnya di dalam Air Force One.

Sebelumnya, Trump menyatakan dalam wawancara dengan CBS News bahwa ia meragukan AS akan berperang dengan Venezuela, namun ia yakin bahwa masa kekuasaan Maduro "tinggal menghitung hari".

Sementara itu, kehadiran militer AS juga meningkat di Trinidad dan Tobago, kepulauan yang terletak di lepas pantai Venezuela. Pasukan AS dan Trinidad dijadwalkan memulai latihan gabungan pada Minggu, untuk kedua kalinya dalam kurang dari sebulan. Maduro mengecam latihan tersebut pada Sabtu, menyebutnya sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab.