Situs Nuklir Dihancurkan Israel-AS, Iran Janji Bangun yang Lebih Besar

Di tengah ketegangan ini, Oman menyerukan agar Iran dan AS melakukan komunikasi.

Diterbitkan 03 November 2025, 14:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Iran berencana untuk membangun kembali fasilitas nuklirnya yang hancur akibat serangan Israel dan Amerika Serikat, bahkan dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan pada Minggu (2/11/2025) di tengah upaya Oman mendorong Teheran dan Washington D.C untuk kembali berdialog setelah diplomasi kedua negara mandek selama berbulan-bulan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, saat meninjau organisasi nuklir nasional, menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi kerusakan yang ditimbulkan.

“Kami akan membangun kembali fasilitas yang hancur, lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya dalam sebuah video yang dirilis di situs resmi kepresidenan, dikutip dari laman NDTV, Senin (3/11).

Ia menambahkan bahwa para ilmuwan Iran tetap menguasai seluruh pengetahuan teknis yang dibutuhkan untuk melanjutkan program nuklir mereka.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengklaim serangan gabungan AS–Israel telah “menghancurkan” program nuklir Iran, meski tingkat kerusakan sesungguhnya belum dapat dipastikan.

Israel sendiri melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran pada Juni lalu, memicu perang 12 hari yang menargetkan fasilitas nuklir, instalasi militer, hingga kawasan permukiman.

Sejumlah ilmuwan senior Iran dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Teheran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah kota di Israel.

Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, kerusakan akibat serangan itu “serius dan parah”, sebagaimana disampaikannya pada Juli setelah AS mengumumkan penghentian pertempuran.

 

Oman: Harus Ada Langkah Diplomasi

Di tengah ketegangan tersebut, Oman — yang kerap menjadi perantara komunikasi Tehran dan Washington — menyerukan agar kedua negara kembali ke jalur diplomasi.

“Kami ingin melihat dimulainya kembali perundingan antara Iran dan Amerika Serikat,” kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dalam forum Dialog Manama IISS di Bahrain pada Sabtu.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi bahwa Teheran telah menerima “pesan untuk melanjutkan diplomasi”, meski tidak menjelaskan lebih jauh. Tahun ini, Oman telah menjadi tuan rumah lima putaran pembicaraan antara AS dan Iran. Namun upaya menuju putaran keenam terhenti setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir Iran.

Situasi semakin rumit dengan kembalinya sanksi PBB terhadap Iran. Inggris, Jerman, dan Prancis memicu mekanisme “snapback” untuk menjatuhkan kembali sanksi tersebut, menuduh Teheran melanggar kesepakatan nuklir 2015.

Ketegangan regional dan tekanan diplomatik kini menempatkan masa depan dialog AS–Iran pada titik kritis, sementara Teheran bersumpah tidak akan mundur dari program nuklirnya.