Ngeri, Pasukan Paramiliter Sudan Disebut Membantai Ratusan Orang di Rumah Sakit

Kecaman dunia sejauh ini belum mampu menghentikan kekerasan demi kekerasan di Sudan.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 08:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Khartoum - Pasukan paramiliter Sudan membunuh ratusan orang di sebuah rumah sakit, termasuk para pasien, setelah mereka merebut ibu kota provinsi Darfur Utara pada akhir pekan. Demikian menurut laporan PBB, warga yang mengungsi, dan para pekerja kemanusiaan yang menggambarkan secara mengerikan rincian kekejaman tersebut.

"Sebanyak 460 pasien dan pendamping mereka dilaporkan tewas pada hari Selasa (28/10/2025) di Rumah Sakit Saudi oleh anggota Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) di Kota el-Fasher," kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dilansir Associated Press.

Para saksi menuturkan, RSF juga pergi dari rumah ke rumah, memukuli dan menembak orang-orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Banyak yang meninggal karena luka tembak di jalan, beberapa di antaranya saat berusaha melarikan diri untuk mencari keselamatan.

Dua tahun perang perebutan kekuasaan di Sudan telah menewaskan lebih dari 40.000 orang — angka yang dianggap kelompok hak asasi manusia sebagai hitungan yang jauh di bawah jumlah sebenarnya — dan menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan lebih dari 14 juta orang terpaksa mengungsi. Perebutan el-Fasher oleh pasukan kuat yang dipimpin oleh kelompok Arab itu menimbulkan kekhawatiran bahwa negara terbesar ketiga di Afrika tersebut mungkin akan terpecah kembali, hampir 15 tahun setelah Sudan Selatan yang kaya minyak memisahkan diri menyusul perang saudara yang berkepanjangan.

Penduduk Sudan dan para pekerja bantuan mengungkapkan secara mengerikan rincian kekejaman yang dilakukan oleh RSF setelah mereka merebut benteng terakhir tentara di Darfur, usai pengepungan yang berlangsung lebih dari 500 hari.

"RSF dengan darah dingin membunuh siapa pun yang mereka temukan di dalam Rumah Sakit Saudi, termasuk pasien, pendamping mereka, dan siapa pun yang berada di bangsal," sebut Jaringan Dokter Sudan, sebuah kelompok medis yang memantau perang.

"Janjaweed tidak menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun," kata Umm Amena, seorang ibu dari empat anak yang melarikan diri dari kota itu pada hari Senin, setelah terjebak selama dua hari dalam kekacauan pertempuran, menggunakan istilah Sudan untuk menyebut RSF.

Amena termasuk di antara tiga lusin orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, yang ditahan selama sehari oleh pasukan RSF di sebuah rumah kosong dekat Rumah Sakit Saudi.

Associated Press mewawancarai Amena dan empat orang lainnya yang berhasil melarikan diri dari el-Fasher dan tiba dalam kondisi lelah serta dehidrasi pada Selasa pagi di Kota Tawila, sekitar 60 kilometer sebelah barat el-Fasher, yang kini menampung lebih dari 650.000 pengungsi.

Komandan RSF, Jenderal Mohammed Hamdan Dagalo, yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, pada hari Rabu mengakui adanya apa yang ia sebut sebagai "penyimpangan" oleh pasukannya. Dalam pernyataannya yang pertama sejak jatuhnya el-Fasher, yang diunggah di aplikasi pesan Telegram, ia mengatakan bahwa penyelidikan telah dimulai. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Ladang Pembantaian

Gubernur Darfur Mini Minawi membagikan sebuah video secara daring yang diduga menunjukkan pasukan RSF berada di dalam Rumah Sakit Saudi. Rekaman berdurasi satu menit itu memperlihatkan jasad-jasad tergeletak di lantai dalam genangan darah. Seorang anggota RSF menembakkan satu peluru dari senapan bergaya Kalashnikov ke arah seorang pria yang sedang duduk, yang kemudian langsung rebah ke lantai. Mayat-mayat lain terlihat di luar bangunan.

Badan Migrasi PBB mengatakan lebih dari 36.000 orang telah melarikan diri dari el-Fasher, sebagian besar menuju daerah pedesaan di sekitarnya, sejak hari Minggu.

Pejabat badan pengungsi PBB, Jacqueline Wilma Parlevliet, menyebutkan bahwa para pendatang baru menceritakan kisah-kisah pembunuhan massal yang dilatarbelakangi perbedaan etnis dan politik, termasuk laporan tentang penyandang disabilitas yang ditembak mati karena tidak mampu melarikan diri, serta orang-orang lain yang ditembak saat mencoba kabur.

"Itu seperti ladang pembantaian," kata Tajal-Rahman, seorang pria berusia akhir 50-an, melalui sambungan telepon dari pinggiran Tawila. "Mayat di mana-mana dan orang-orang berdarah tanpa ada yang bisa menolong."

Baik Amena maupun Tajal-Rahman menuturkan bahwa pasukan RSF menyiksa dan memukuli para tahanan, serta menembak setidaknya empat orang pada hari Senin yang kemudian meninggal karena luka-lukanya. Mereka juga melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan.

Di Tawila, sebuah rumah sakit yang dikelola oleh organisasi Dokter Tanpa Batas menerima banyak pasien sejak 18 Oktober yang menderita luka-luka akibat bom atau tembakan, kata Giulia Chiopris, seorang dokter anak di rumah sakit itu.

Ia mengatakan rumah sakit pun menerima banyak anak yang kekurangan gizi parah dan dehidrasi berat, banyak di antara mereka yang tidak memiliki pendamping atau menjadi yatim piatu setelah melarikan diri dari el-Fasher.

"Kami menangani begitu banyak kasus trauma akibat pengeboman terakhir, serta jumlah anak-anak yatim yang sangat besar," ungkap Chiopris.

Ia mengenang saat menerima tiga saudara kandung kecil — berusia antara 40 hari hingga 4 tahun — yang kehilangan seluruh keluarga mereka dalam peristiwa di kota itu. Anak-anak tersebut dibawa ke rumah sakit pada Senin malam oleh orang-orang tidak dikenal.

Tangkapan Citra Satelit

Dalam laporan pada Selasa malam, Laboratorium Riset Kemanusiaan Sekolah Kesehatan Masyarakat Yale mengatakan bahwa pasukan RSF terus melakukan pembunuhan massal sejak mereka mengambil alih el-Fasher.

Laporan, yang menggunakan citra satelit dari Airbus, tersebut menyatakan bahwa temuan itu menguatkan dugaan eksekusi dan pembunuhan massal oleh RSF di sekitar Rumah Sakit Saudi dan di sebuah pusat penahanan di bekas Rumah Sakit Anak di bagian timur kota.

Laporan itu menyebut pula bahwa pembunuhan sistematis terjadi di sekitar tembok bagian timur kota, yang dibangun oleh RSF di luar el-Fasher pada awal tahun ini.

Sheldon Yett, perwakilan UNICEF untuk Sudan, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa situasi di el-Fasher merupakan bencana mutlak, dengan ribuan anak sudah menderita penyakit dan kelaparan sebelum pengambilalihan kota oleh RSF.

"Sekarang ini seperti neraka di bumi — kekacauan di mana-mana dan senjata bertebaran," tutur Yett.

Kelompok-kelompok bantuan mengatakan bahwa jumlah korban sulit ditentukan sejak RSF menguasai el-Fasher karena hampir tidak ada komunikasi keluar dari kota itu.

Laporan dari Yale menggarisbawahi bahwa citra satelit tidak dapat menunjukkan skala sebenarnya dari pembunuhan massal dan jumlah korban yang diperkirakan kemungkinan masih jauh di bawah angka sebenarnya.

Menurut juru bicara PBB, Farhan Aziz Haq, sebelum gelombang kekerasan terbaru ini sekitar 1.850 warga sipil telah tewas di Darfur Utara — termasuk 1.350 orang di el-Fasher — antara 1 Januari hingga 20 Oktober tahun ini.

Rekaman serangan memicu gelombang kecaman di seluruh dunia. Prancis, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa semuanya mengutuk kekejaman di Sudan.

Mohamed Osman, peneliti Sudan dari Human Rights Watch, mengatakan bahwa rekaman yang keluar dari el-Fasher mengungkap kebenaran yang mengerikan, "RSF merasa bebas melakukan kekejaman massal tanpa rasa takut akan konsekuensi."

"Dunia harus bertindak untuk melindungi warga sipil dari kejahatan yang lebih keji lagi," tegasnya.

Senator Jim Risch, ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat, pada hari Selasa mengecam serangan RSF terhadap kota tersebut dan menyerukan agar RSF ditetapkan sebagai organisasi teroris asing.

"RSF telah menebar teror dan melakukan kekejaman yang tidak terbayangkan, termasuk genosida, terhadap rakyat Sudan," tulisnya di X.