Buaya Masuk Permukiman, Ancaman Baru Jamaika Setelah Badai Melissa

Otoritas Kesehatan Regional Tenggara Jamaika memperingatkan melalui Instagram bahwa kenaikan permukaan air dapat mendorong buaya bergerak ke area yang lebih tinggi.

Diterbitkan 29 Oktober 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kingston - Badai Melissa belum sepenuhnya berlalu, namun warga Jamaika kini dihadapkan pada ancaman baru yang tak kalah menegangkan: kemunculan buaya-buaya liar di sekitar rumah penduduk.

Setelah menorehkan jejak kehancuran di Karibia dan melumpuhkan sebagian besar wilayah Jamaika, badai kategori empat ini memicu banjir besar yang mengubah lanskap daratan.

Air sungai yang meluap, parit yang pecah, hingga rawa yang tergenang memaksa satwa liar keluar dari habitat alaminya—termasuk buaya, predator puncak yang biasanya tinggal jauh dari permukiman, dikutip dari laman Al Jazeera, Rabu (29/10/2025).

Otoritas Kesehatan Regional Tenggara Jamaika memperingatkan melalui Instagram bahwa kenaikan permukaan air dapat mendorong buaya bergerak ke area yang lebih tinggi.

Dalam kondisi ekstrem, jalur air yang terhubung ke perumahan dapat menjadi arus migrasi mendadak bagi reptil besar ini. Warga diminta menghindari genangan air luas dan segera melapor jika melihat keberadaan buaya di sekitar lingkungan mereka.

Ancaman buaya ini muncul di tengah situasi darurat yang masih berlangsung. Sebelumnya, Badai Melissa sempat mencapai kekuatan di atas ambang kategori lima saat mendarat di dekat New Hope, membawa angin maksimum 295 km/jam dan hujan deras berhari-hari.

Badai yang dijuluki “badai abad ini” oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) itu telah menyebabkan sedikitnya tujuh korban jiwa di kawasan Karibia dan satu orang lainnya masih hilang.

Pusat Badai Nasional AS memperingatkan risiko banjir bandang katastrofik dan tanah longsor akibat curah hujan yang diperkirakan melampaui 700 mm—dua kali lipat dari rata-rata musim hujan. Situasi di lapangan diperburuk oleh pemadaman listrik meluas, pohon tumbang, dan akses jalan yang tertutup puing-puing, menyulitkan operasi penyelamatan.

 

Imbauan Pemerintah Jamaika

Di tengah kondisi ini, kemunculan buaya menambah daftar panjang bahaya yang harus dihadapi warga.

Reptil yang biasanya hidup di rawa dan muara ini tidak agresif tanpa provokasi, namun dalam situasi stres akibat badai dan banjir, perilaku mereka bisa menjadi tidak terduga.

Pemerintah Jamaika mengimbau warga tetap berada di dalam rumah kecuali dalam keadaan darurat, menjauh dari badan air, serta memantau peringatan resmi. Sementara itu, bantuan internasional mulai berdatangan dari PBB, AS, Uni Eropa, Inggris, Prancis, dan negara-negara Karibia lain dengan prioritas utama: menyelamatkan nyawa dan mencegah risiko lanjutan, termasuk potensi wabah penyakit.

Dengan badai yang belum sepenuhnya mereda dan buaya yang mulai memasuki kawasan perumahan, warga Jamaika kini menghadapi masa sulit yang menguji kewaspadaan dan ketahanan mereka. Buaya yang biasanya menjadi simbol alam liar Karibia kini berubah menjadi ancaman nyata di halaman rumah penduduk.