Presiden Tertua di Dunia Paul Biya Kembali Pimpin Kamerun pada Usia 92 Tahun

Terpilihnya kembali Paul Biya mengundang reaksi keras dari sejumlah pihak, memicu jatuhnya korban jiwa.

Diterbitkan 28 Oktober 2025, 07:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yaounde - Presiden tertua di dunia, Paul Biya yang berusia 92 tahun dari Kamerun, kembali memenangkan pemilihan umum. Hal ini disampaikan pengadilan tertinggi negara itu pada Senin (27/10/2025), setelah beberapa hari bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan yang menewaskan sedikitnya empat orang ketika para pendukung oposisi menuntut hasil yang kredibel.

Biya telah memimpin negara di Afrika Tengah itu sejak 1982, memerintah lebih lama daripada usia sebagian besar warganya. Lebih dari 70 persen dari hampir 30 juta penduduk Kamerun berusia di bawah 35 tahun. Pemilu yang digelar pada 12 Oktober dinilai menunjukkan meningkatnya ketegangan antara generasi muda Afrika dan para pemimpinnya yang sudah menua.

Dewan Konstitusi seperti dilansir Associated Press menyatakan bahwa Biya memperoleh 53,66 persen suara, sementara mantan sekutunya Issa Tchiroma Bakary meraih 35,19 persen. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 57,7 persen.

Dalam sebuah unggahan di media sosial setelah pengumuman hasil, Tchiroma menuduh bahwa pasukan keamanan menembaki warga sipil hingga menewaskan dua orang di kampung halamannya, Garoua.

"Menembak saudara sendiri dari jarak dekat — saya tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah kalian ini tentara bayaran," tulisnya. "Bunuh saja saya kalau mau, tapi saya akan membebaskan negara ini dengan cara apa pun yang diperlukan. Betapa keterlaluan impunitas ini."

Beberapa hari sebelumnya, Tchiroma telah mengklaim kemenangan dengan mengacu pada hasil yang disebutnya telah dihimpun oleh partainya. Namun, anggota partai Biya menolak klaim itu.

Dalam pernyataannya pada Senin, Biya mengatakan, "Pikiran dan doa saya tertuju kepada semua orang yang kehilangan nyawa secara sia-sia, serta kepada keluarga mereka yang terdampak akibat kekerasan pasca pemilu."

 

 

 

 

 

 

"Tidak ada yang akan berubah"

Keputusan Biya untuk mencalonkan diri lagi memicu kemarahan kalangan muda dan oposisi, yang menuduhnya ikut campur dalam diskualifikasi pesaing terkuat serta memanfaatkan "mesin negara" untuk memanipulasi hasil pemilu.

Empat pengunjuk rasa ditembak mati pada Minggu di Douala, ibu kota ekonomi, ketika ratusan orang turun ke jalan di berbagai kota. Video yang beredar di internet menunjukkan bentrokan dengan pasukan keamanan yang menembakkan gas air mata dan berusaha membubarkan massa yang memblokade jalan di Douala serta di kota lain seperti Garoua dan Maroua di utara.

Gubernur Wilayah Littoral yang meliputi Douala Samuel Dieudonne Ivaha Diboua mengatakan bahwa beberapa anggota pasukan keamanan terluka akibat aksi demonstran dan sedikitnya 105 pengunjuk rasa ditangkap.

Puluhan pendukung oposisi, aktivis, dan pemimpin telah ditahan dalam beberapa hari terakhir, termasuk beberapa orang yang menurut Menteri Administrasi Wilayah Paul Atanga Nji sedang merencanakan serangan kekerasan.

"Saya siap mempertaruhkan nyawa demi membela suara saya. Saya memilih Tchiroma karena saya ingin perubahan," kata Oumarou Bouba, pedagang berusia 27 tahun di Maroua.

Setelah pengumuman hasil pemilu, Sani Aladji, pekerja hotel berusia 28 tahun di Maroua menuturkan, "Tidak ada yang akan berubah. Saya berharap Issa Tchiroma membawa perubahan, itulah sebabnya saya memilihnya. Di bawah rezim Biya, korupsi merajalela. Kami sudah muak dengan itu."

Namun salah satu pendukung Biya, Flicia Feh, menyatakan keyakinannya bahwa Biya tetap sosok yang tepat untuk memimpin.

"Presiden kami berkampanye dengan membawa harapan," ujarnya. "Ia telah memulai banyak proyek, seperti jalan tol Yaounde–Douala, dan sudah sepatutnya diberi waktu lebih lama untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai."

Pemerintah Kamerun mengatakan lebih dari 5.000 pengamat nasional dan internasional diakreditasi untuk memantau pemilu tersebut. Delapan kelompok masyarakat sipil lokal mencatat beberapa ketidakteraturan, termasuk adanya nama pemilih yang sudah meninggal dalam daftar pemilih, distribusi surat suara yang tidak merata, dan upaya pengisian kotak suara secara curang.

Misi Uni Afrika menyatakan bahwa pemungutan suara dilaksanakan sebagian besar sesuai dengan standar regional, kontinental, dan internasional.

Empat Dekade Lebih Berkuasa

Biya pertama kali naik ke tampuk kekuasaan pada 6 November 1982 setelah presiden pertama Kamerun mengundurkan diri. Ia kemudian tetap berkuasa berkat amandemen konstitusi yang menghapus batas masa jabatan.

Kesehatannya telah lama menjadi sorotan publik karena ia sering menghabiskan waktu di Eropa, sementara urusan pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh pejabat partai dan anggota keluarganya.

Meskipun Kamerun merupakan negara penghasil minyak dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, banyak anak muda merasa bahwa keuntungan ekonomi hanya dinikmati kalangan elite. Menurut data Bank Dunia, tingkat pengangguran berada di angka 3,5 persen, tetapi 57 persen tenaga kerja berusia 18–35 tahun masih bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial.

"Banyak anak muda di dalam negeri dan diaspora berharap akan adanya perubahan, tetapi harapan itu kini pupus. Rasanya seperti kesempatan yang hilang," ujar Emile Sunjo, dosen senior hubungan internasional di Universitas Buea. "Kamerun berpotensi tergelincir ke dalam kekacauan."

Para pengkritik menilai Biya telah membawa Kamerun dari masa stabilitas menuju konflik. Dalam beberapa tahun terakhir, negara itu menghadapi serangan Boko Haram di wilayah utara serta pemberontakan separatis di wilayah berbahasa Inggris (North West dan South West).

Krisis dipicu oleh kebijakan pemerintah yang memaksakan penggunaan bahasa Prancis di sekolah dan pengadilan dan sejak itu menewaskan hampir 7.000 orang, mengungsikan lebih dari satu juta warga, serta memaksa ribuan orang melarikan diri ke Nigeria.

Â