Tradisi Pernikahan di Shaanxi China, Bridesmaid Dipaksa Cium Orang Asing

Seperti apa kasus tradisi yang ada di provinsi Shaanxi, China?

Diterbitkan 09 Oktober 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Sebuah tradisi pernikahan di China menjadi perdebatan luas usai beredarnya video dua bridesmaid yang direkatkan ke motor listrik dan dipaksa mencium orang asing dalam sebuah acara pernikahan.

Video yang viral pada September lalu itu diambil di Provinsi Shaanxi, China bagian barat laut, dilansir dari SCMP, Kamis (9/10/2025).

Bridesmaid adalah pendamping pengantin wanita, biasanya sahabat, saudara perempuan, atau kerabat dekat yang membantu mempelai wanita selama persiapan dan acara pernikahan.

Dalam rekaman, terlihat beberapa pria menempelkan dua wanita ke sebuah motor listrik di pinggir jalan, sementara satu pria menahan kepala mereka dan pria lain mencium mereka.

Kedua bridesmaid yang mengenakan gaun pesta tampak ketakutan dan berteriak histeris. Salah satu dari mereka bahkan terlihat memerah karena malu.

Orang-orang yang berada di lokasi justru tertawa dan bersorak, bahkan ada yang ikut membantu menahan kepala para korban agar tidak bisa menghindar dari ciuman.

Orang yang merekam video mengatakan bahwa insiden itu berlangsung selama beberapa menit, dan kedua pria yang melakukan tindakan tersebut merupakan pendamping pengantin pria yang tidak mengenal kedua bridesmaid itu.

Respons Publik

Hingga kini, baik mempelai pria maupun wanita belum memberikan komentar terkait insiden tersebut.

Salah satu warganet menulis bahwa tindakan itu jelas melecehkan secara seksual.

"Dua wanita itu terlihat sedih dan hampir menangis. Ini jelas pelecehan seksual," tulisnya.

Warganet lain menyoroti sikap penonton di lokasi.

"Para penonton bersikap acuh, mereka justru mendukung tindakan kriminal," tulis pengguna lain.

Pejabat setempat kemudian menjelaskan bahwa insiden tersebut merupakan bagian dari tradisi lelucon pernikahan yang disebut hun nao.

"Meski sudah ada kampanye di seluruh kota untuk menentang kebiasaan vulgar ini, masih ada orang yang mengabaikannya," ujar seorang juru bicara.

 

Tradisi Hun Nao

Tradisi hun nao telah ada selama berabad-abad di pedesaan China.

Awalnya, tradisi ini dipercaya bisa mengusir roh jahat dan mengurangi ketegangan pasangan pengantin lewat tawa dan kegaduhan.

Dalam praktik yang wajar, lelucon ini dianggap menambah keseruan pesta dan mempererat hubungan antar tamu.

Namun belakangan, tradisi ini berubah menjadi tindakan yang mengganggu, bahkan berujung pelecehan fisik dan seksual.

Kasus serupa bukan kali pertama terjadi di China. Tahun lalu, seorang pengantin wanita di Provinsi Shanxi diikat ke tiang telepon oleh beberapa pria, dan tidak ada seorang pun yang menolong.

Pada Mei 2016, seorang mempelai pria diikat ke pohon, diolesi pasta gigi, lalu kakinya dibakar rokok dan petasan dinyalakan di antara kakinya.

Kasus Lainnya

Kasus ekstrem lainnya terjadi pada 2018, ketika seorang pengantin pria disiram tinta, dilempari telur, dan dipukuli dengan tongkat bambu hingga mengalami patah tulang saat mencoba melarikan diri.

Dalam kasus terpisah, tiga pria yang mengikat mempelai pria hingga menyebabkan cacat permanen, pihak bersankutan minta ganti rugi sebesar 100.000 yuan atau sekitar Rp230 juta.

Seorang pengamat daring menulis bahwa kurangnya kesadaran hukum dan tekanan sosial membuat tradisi semacam ini terus terjadi.

"Di beberapa daerah pedesaan di China, tekanan sosial membuat orang diam saja, sementara pengawasan hukum yang lemah membuat tradisi vulgar seperti ini tetap bertahan," ujarnya.Â