Raja Spanyol Desak Israel Setop Pembantaian dan Tindakan Biadab di Gaza

Raja Felipe VI memanfaatkan momen pidatonya di PBB untuk mengecam tindakan Israel di Gaza.

Diterbitkan 25 September 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New York - Raja Felipe VI dari Spanyol mendesak Israel menghentikan pembantaian dan "tindakan biadab" di Gaza melalui pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB.

Sang raja tidak menyinggung istilah genosida – yang sudah digunakan oleh Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez – namun menyatakan bahwa Spanyol dan negara-negara lain kesulitan memahami tindakan Israel di Gaza.

"Kita tidak bisa terus berdiam diri atau berpaling ketika dihadapkan dengan begitu banyak kehancuran, dengan pengeboman – bahkan terhadap rumah sakit, sekolah, dan tempat perlindungan – atau dengan begitu banyak kematian di antara penduduk sipil, atau dengan kelaparan serta pengungsian paksa ratusan ribu orang – untuk tujuan apa?" katanya pada hari Rabu (24/9/2025) seperti dilansir The Guardian.

"Ini adalah tindakan menjijikkan yang sepenuhnya berlawanan dengan segala sesuatu yang forum ini wakili. Mereka membuat nurani manusia muak dan mempermalukan seluruh komunitas internasional."

Hubungan Spanyol-Israel Memburuk

Hubungan diplomatik antara Spanyol dan Israel memburuk akibat serangan di Gaza. Sebagai respons, Madrid memberlakukan sejumlah langkah, termasuk embargo senjata. PM Sanchez juga menuduh pemerintahan Benjamin Netanyahu tengah "memusnahkan bangsa yang tidak berdaya" dengan mengebom rumah sakit dan membunuh anak-anak yang tidak berdosa melalui kelaparan.

Israel merespons dengan menuding Spanyol tengah melakukan serangan anti-Israel dan antisemitisme yang terus-menerus, serta memberlakukan larangan masuk bagi dua anggota kabinet Sanchez.

Raja Felipe VI menyatakan bahwa Spanyol menaruh kebanggaan pada warisan sejarah Yahudi Sefardi, sekaligus pada undang-undang tahun 2015 yang memulihkan kewarganegaraan bagi keturunan Yahudi Sefardi yang diusir pada 1492.

"Itulah sebabnya kami sulit memahami apa yang dilakukan pemerintah Israel di Jalur Gaza dan mengapa hal itu begitu melukai kami; karena itu pula kami menyerukan, memohon, dan menuntut: hentikan pembantaian ini sekarang. Jangan lagi ada kematian atas nama bangsa dengan sejarah panjang dan penuh kebijaksanaan, yang selama berabad-abad telah menanggung begitu banyak penderitaan," ujarnya.

Rujukan Raja Felipe VI pada warisan Sefardi sejalan dengan pernyataan kementerian luar negeri Spanyol, yang sebelumnya menekankan masa lalu Yahudi di Spanyol ketika menanggapi apa yang mereka sebut sebagai tuduhan palsu dan fitnah antisemitisme dari pemerintah Israel.

Menolak Pernyataan Trump

Raja Felipe VI menegaskan pula bahwa Spanyol telah dengan tegas mengutuk terorisme biadab Hamas, khususnya pembantaian brutal pada 7 Oktober 2023, serta menekankan bahwa Israel berkewajiban mematuhi hukum humaniter internasional di Gaza dan Tepi Barat.

Dia menyerukan agar bantuan kemanusiaan segera diizinkan masuk ke Gaza, gencatan senjata segera diberlakukan, dan Hamas segera membebaskan para sandera "yang masih mereka tahan dengan begitu kejam". Raja Felipe VI  menambahkan bahwa komunitas internasional perlu mendorong solusi dua negara dan bahwa pengakuan diplomatik yang semakin luas terhadap Palestina seharusnya membantu menciptakan perdamaian regional yang adil dan definitif.

Pidato Raja Felipe VI berlangsung sehari setelah Donald Trump, dalam pidato provokatif di majelis umum PBB, menuduh badan itu hanya berisi omong kosong dan gagal menghentikan perang.

Tidak seperti Trump, Felipe menegaskan bahwa PBB dan nilai-nilai dasarnya masih relevan, sekalipun dunia sering menjerumuskan kita ke ambang kehancuran dan membuat kita mempertanyakan makna multilateralisme.

"Percaya pada PBB berarti percaya teguh pada universalitas prinsip dan nilai-nilai yang tertuang dalam Piagam PBB serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia," tegasnya. "Artinya menolak godaan untuk menyesuaikannya dengan kepentingan tertentu, relativisme atau pengecualian, sebab martabat manusia tidak bisa dinegosiasikan."