Kim Jong Un: Korea Utara Siap Berdialog jika Amerika Serikat Hentikan Desakan Denuklirisasi

Kim Jong Un menggambarkan tuntutan denuklirisasi sebagai obsesi absurd.

Diperbarui 22 September 2025, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pyongyang - Kim Jong Un mengatakan tidak ada alasan bagi negaranya untuk menghindari dialog dengan Amerika Serikat jika Washington berhenti bersikeras agar Korea Utara melepaskan senjata nuklirnya. Namun, dia menegaskan tidak akan pernah menukar persenjataan nuklir demi terbebas dari sanksi. Demikian dilaporkan media pemerintah Korea Utara pada Senin (22/9/2025).

Dalam pidatonya di Majelis Rakyat Tertinggi pada Minggu (21/9), Kim mengatakan dia masih menyimpan kenangan indah bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Keduanya pernah bertemu tiga kali selama masa kepresidenan pertama Trump.

Pernyataan Kim ini muncul ketika pemerintahan baru di Seoul mendorong Trump untuk mengambil peran utama dalam membuka kembali dialog dengan Kim, enam tahun setelah semua pembicaraan damai dengan Pyongyang runtuh akibat benturan terkait sanksi dan desakan pelucutan program nuklir.

"Jika Amerika Serikat menghentikan obsesi absurd terhadap denuklirisasi kami dan menerima kenyataan, serta benar-benar menginginkan koeksistensi damai, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak duduk bersama Amerika Serikat," kata Kim seperti dikutip KCNA.

Menurut Kim, membangun senjata nuklir adalah masalah kelangsungan hidup bagi negaranya untuk menjaga keamanan menghadapi ancaman serius dari Amerika Serikat dan Korea Selatan. Dia menyoroti serangkaian latihan militer rutin kedua sekutu itu yang disebutnya telah berkembang menjadi latihan untuk perang nuklir.

Kim mengatakan, upaya pendekatan baru-baru ini dari Washington dan Seoul untuk berdialog tidak tulus karena niat mendasar mereka untuk melemahkan Korea Utara dan menghancurkan rezimnya tidak berubah. Dia menambahkan bahwa usulan bertahap dari Korea Selatan mengenai penghentian program nuklir Korea Utara adalah bukti dari maksud tersebut.

"Dunia sudah sangat tahu apa yang dilakukan Amerika Serikat begitu sebuah negara dipaksa melepaskan senjata nuklirnya dan dilucuti," kata Kim. "Kami tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklir kami."

"Tidak akan pernah ada, bahkan untuk selama-lamanya, negosiasi dengan musuh untuk menukar sesuatu hanya demi obsesi mencabut sanksi."

Sanksi, menurut Kim, telah menjadi pelajaran berharga dan membuat negaranya lebih kuat dan lebih tangguh.

 

Pandangan Presiden Korea Selatan

Korea Utara berada di bawah serangkaian resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberlakukan sanksi ekonomi dan embargo senjata, sehingga menekan pendanaan pengembangan militer. Namun, Pyongyang tetap melanjutkan kemajuan dalam membangun senjata nuklir dan rudal balistik yang kuat.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Reuters bahwa sanksi-sanksi tersebut pada akhirnya gagal menghalangi Korea Utara, yang saat ini menambah 15 hingga 20 hulu ledak nuklir setiap tahunnya ke dalam persenjataan.

"Kenyataannya adalah pendekatan sebelumnya berupa sanksi dan tekanan tidak menyelesaikan masalah; justru memperburuknya," tutur Lee.

Sejak menjabat pada Juni, Lee telah menawarkan inisiatif perdamaian. Dia menekankan pentingnya dialog dengan Pyongyang dan mengusulkan upaya membangun kepercayaan yang pada akhirnya diharapkan dapat mengakhiri program nuklir Korea Utara.

Lee mengatakan kepada Reuters bahwa ada hambatan besar untuk membuka kembali dialog dengan Korea Utara, namun dia tetap percaya bahwa pendekatan bertahap dalam melucuti program nuklir Pyongyang adalah pilihan yang realistis.

Menurut Lee, perlu diciptakan kondisi yang tepat untuk membawa Korea Utara kembali ke meja perundingan dan Trump memiliki peran penting dalam upaya tersebut.