Sejarah Tercipta, Albania Menteri Virtual Berbasis AI Pertama di Dunia

Apa tugas menteri virtual berbasis AI yang diciptakan oleh Albania?

Diterbitkan 12 September 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tirane - Albania mencatat sejarah baru dengan menghadirkan menteri kabinet pertama yang diciptakan secara virtual menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Perdana Menteri Edi Rama pada Kamis (11/9/2025) mengumumkan bahwa asisten digital bernama Diella resmi ditugaskan mengawasi pengadaan publik, sebuah langkah yang diklaim dapat menekan praktik korupsi.

Nama Diella, yang berarti Matahari dalam bahasa Albania, bukan sosok asing bagi warganya.

Sejak Januari, ia telah hadir sebagai asisten digital di portal e-Albania, membantu masyarakat menyelesaikan berbagai urusan birokrasi melalui perintah suara. Hingga kini, sekitar 95% layanan publik di negara itu dapat diakses secara daring.

"Diella, anggota kabinet pertama yang tidak hadir secara fisik tetapi diciptakan secara virtual oleh AI, akan membantu menjadikan Albania sebagai negara di mana tender publik 100% bebas korupsi," ujar Rama saat mengumumkan susunan pemerintahan barunya di konferensi Partai Sosialis di Tirana, dikutip dari Guardian, Jumat (12/9).

Rama menegaskan bahwa secara bertahap, kewenangan menentukan pemenang tender akan dialihkan dari kementerian ke sistem AI. Dengan begitu, seluruh proses pengadaan barang dan jasa pemerintah bisa berlangsung transparan tanpa campur tangan manusia yang rawan praktik suap, ancaman, atau konflik kepentingan.

"Diella akan memeriksa setiap tender pemerintah, menilai secara objektif, dan memastikan semua pengeluaran publik benar-benar transparan," katanya.

Pengadaan publik selama ini menjadi titik rawan korupsi di Albania. Negara Balkan itu kerap disorot sebagai salah satu pusat pencucian uang internasional, termasuk dari perdagangan narkoba dan senjata, dengan tuduhan korupsi merambah hingga pejabat tinggi pemerintahan.

 

Teknologi Jadi Peserta Pemerintahan

Dalam portal e-Albania, Diella divisualisasikan sebagai figur perempuan dengan busana tradisional Albania. Kehadirannya tidak hanya dipandang sebagai alat administratif, tetapi juga sebagai peserta aktif dalam pemerintahan.

Media setempat menyebut kebijakan ini sebagai “transformasi besar dalam cara pemerintah Albania memahami dan menjalankan kekuasaan administratif.”

Langkah inovatif ini menandai upaya serius Albania untuk memberantas korupsi, sekaligus menjadikan teknologi AI sebagai pilar utama dalam reformasi birokrasi.