Dengar Tangisan Bayi Bisa Bikin Suhu Tubuh Meningkat, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Apa saja fakta menarik tentang suara tangisan bayi?

Diterbitkan 12 September 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tangisan bayi yang sedang tantrum memicu respons emosional cepat baik pada pria maupun wanita hingga membuat tubuh meningkat.

Pencitraan termal mengungkap bahwa orang mengalami aliran darah ke wajah yang meningkatkan suhu kulit mereka ketika diperdengarkan rekaman tangisan bayi.

Efek ini lebih kuat dan lebih sinkron saat bayi sedang tantrum, menghasilkan tangisan yang lebih kacau dan tidak harmonis. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia merespons secara otomatis terhadap fitur spesifik dalam tangisan yang meningkat ketika bayi merasakan sakit, dilansir dari The Guardian, Jumat (12/9/2025).

Profesor Nicolas Mathevon, ahli bioakustik dari University of Saint-Etienne, Prancis, menjelaskan bahwa respons emosional manusia terhadap tangisan bayi bergantung pada kualitas suara tertentu.

"Respons emosional terhadap tangisan bergantung pada 'kekasaran akustik'-nya," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa manusia secara emosional bisa menangkap informasi rasa sakit yang terkandung dalam tangisan.

"Kita secara emosional peka terhadap parameter akustik yang menyandikan tingkat rasa sakit dalam tangisan bayi," ujarnya.

Secara evolusi, bayi manusia dibekali dengan tangisan yang sulit diabaikan untuk meningkatkan peluang mereka mendapatkan perhatian. Namun tidak semua tangisan bayi sama.

Saat bayi benar-benar tantrum, mereka mengencangkan tulang rusuk dengan kuat, menghasilkan tekanan udara lebih tinggi yang memicu getaran kacau pada pita suara. Hal ini menghasilkan "kekasaran akustik", atau secara teknis dikenal sebagai suara tidak harmonis yang disebut nonlinear phenomena (NLP).

Untuk melihat bagaimana pria dan wanita merespons tangisan bayi, para ilmuwan memutar rekaman kepada sukarelawan yang memiliki sedikit atau bahkan tidak ada pengalaman dengan bayi. Selama mendengarkan, para partisipan direkam dengan kamera termal yang menangkap perubahan halus pada suhu wajah mereka.

Orang dewasa tersebut mendengarkan 16 tangisan berbeda dalam empat sesi dan diminta menilai apakah bayi sedang merasa tidak nyaman atau merasakan sakit yang signifikan.

Tangisan direkam dari bayi dalam tingkat tantrum berbeda, mulai dari ketidaknyamanan saat mandi hingga rasa sakit akibat tusukan jarum di klinik vaksin.

 

 

Hasil Rekaman Termal

Rekaman kamera termal menunjukkan bahwa pria dan wanita merespons tangisan bayi dengan cara yang hampir sama. Tangisan dengan NLP paling kuat, tanpa memandang nada, dinilai berasal dari bayi yang benar-benar kesakitan dan memicu perubahan terbesar pada suhu wajah orang dewasa.

Dalam publikasi di Journal of The Royal Society Interface, para ilmuwan menjelaskan bahwa NLP dalam tangisan bayi menghasilkan respons otomatis pada pria dan wanita. Hal ini menunjukkan bahwa manusia menangkap ciri akustik tertentu untuk membedakan antara bayi yang sekadar tidak nyaman dan bayi yang benar-benar merasakan sakit.

Mathevon menegaskan bahwa sistem saraf otonom manusia ikut bereaksi terhadap tangisan bayi yang menyiratkan lebih banyak rasa sakit.

"Semakin banyak rasa sakit yang diungkapkan tangisan, semakin kuat respons sistem saraf otonom kita, yang menunjukkan bahwa kita secara emosional menangkap informasi rasa sakit yang terkandung dalam tangisan," ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa riset ini baru tahap awal.

"Belum pernah ada yang mengukur respons kita terhadap tangisan seperti ini sebelumnya dan masih terlalu dini untuk mengetahui apakah suatu hari nanti akan ada aplikasi praktis," ujarnya.

Wanita Lebih Sensitif dengan Tangisan Bayi

Studi ini mengikuti penelitian bulan lalu dari ilmuwan Denmark yang menantang klaim bahwa wanita lebih mudah terbangun dibanding pria saat bayi menangis. Penelitian itu menemukan bahwa pria sama mungkin terbangun seperti wanita, meski ibu tiga kali lebih sering bangun untuk menenangkan anaknya.

Alasan perbedaan ini masih diperdebatkan. Christine Parsons, profesor dari Aarhus University, Denmark, yang memimpin tim penelitian, menyebut ada dua faktor potensial.

Pertama, ibu biasanya mengambil cuti melahirkan lebih dulu dibanding ayah yang mengambil cuti ayah, sehingga lebih awal belajar menenangkan bayi.

Kedua, ketika ibu sedang menyusui, akan lebih masuk akal jika ayah tetap tidur.

Parsons menilai riset baru ini berbeda dari pendekatan-pendekatan sebelumnya.

"Sebagian besar penelitian sebelumnya tentang respons fisiologis orang dewasa terhadap tangisan bayi melihat detak jantung, konduktansi kulit, atau bahkan respons otak. Jadi studi ini cukup inovatif," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan antara pria dan wanita ternyata tidak sejelas yang sering diasumsikan.

"Orang sering berasumsi ada perbedaan jelas antara pria dan wanita dalam merespons tangisan. Para penulis mencoba menguji hal itu, dan tidak menemukan bukti adanya perbedaan," ujarnya.

Parsons juga menekankan betapa miripnya respons antara kedua jenis kelamin.

"Kami juga terkejut melihat betapa sedikit perbedaan antara pria dan wanita," ujarnya.