Kolombia Diguncang Bom Mobil dan Serangan Drone, 18 Orang Tewas

Kedua serangan ini terjadi secara terpisah.

Diperbarui 22 Agustus 2025, 15:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bogota - Sedikitnya 18 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam dua serangan terpisah di Kolombia, memperdalam krisis keamanan paling serius yang dialami negara itu dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut pihak berwenang seperti dilansir BBC, enam orang meninggal dunia dan lebih dari 60 orang terluka setelah sebuah bom mobil meledak di jalan yang ramai di Kota Cali, Kolombia bagian barat.

Sebelumnya pada Kamis (21/8/2025), sebuah serangan drone terhadap helikopter polisi menewaskan sedikitnya 12 orang di daerah pedesaan di luar Kota Medellin, Kolombia bagian barat laut.

Serangan-serangan tersebut, yang dikaitkan dengan faksi-faksi pembangkang berbeda dari kelompok Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang kini sudah bubar, menimbulkan tantangan baru bagi proses perdamaian rapuh Kolombia menjelang pemilu tahun depan.

Wali Kota Cali Alejandro Eder memberlakukan darurat militer untuk kota terbesar ketiga di Kolombia itu. Dia juga mengumumkan larangan sementara bagi truk besar memasuki kota dan menyerukan kepada masyarakat untuk melaporkan informasi mengenai insiden tersebut dengan imbalan hadiah sebesar USD 10.000.

Menyusul kedua serangan itu, presiden dan pimpinan militer mengumumkan bahwa mereka akan memimpin rapat dewan keamanan untuk menentukan langkah-langkah perlindungan tambahan bagi warga.

"Negara tidak akan menyerah pada terorisme. Kejahatan-kejahatan ini akan diburu dan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Kolombia di media sosial.

Menurut saksi mata, bom mobil di Cali menargetkan Sekolah Penerbangan Militer Marco Fidel Suarez, menewaskan warga sipil di jalan dan merusak banyak rumah.

"Ada suara menggelegar seperti sesuatu yang meledak di dekat pangkalan udara," kata seorang saksi mata kepada kantor berita AFP.

Kekerasan Meningkat

Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez menyebut ledakan bom mobil sebagai serangan teroris dan menuding kartel narkoba yang dipimpin Ivan Mordisco sebagai dalang.

"Serangan pengecut terhadap warga sipil ini adalah reaksi putus asa atas hilangnya kendali terhadap perdagangan narkoba di Valle del Cauca, Cauca, dan Narino, di mana pasukan keamanan telah menetralkan sebagian besar ancaman ini," kata dia di media sosial.

Menanggapi serangan terpisah terhadap helikopter polisi, Presiden Gustavo Petro mengatakan bahwa helikopter itu sedang menjalankan misi untuk memberantas tanaman daun koka – bahan utama kokain.

Helikopter itu jatuh ke tanah setelah terkena serangan drone, menewaskan 12 petugas di dalamnya.

Gambar-gambar yang beredar di media sosial menunjukkan kepulan asap hitam tebal membubung di daerah berhutan di Amalfi, wilayah utara Kolombia.

Sanchez menyebutkan serangan itu dilakukan oleh kelompok gerilya EMC, pecahan terbesar dari FARC.

Kolombia telah mengalami peningkatan kekerasan dalam beberapa bulan terakhir, yang melibatkan bentrokan antara pasukan keamanan dengan gerilyawan pembelot, kelompok paramiliter atau kartel narkoba.

Serangan drone juga semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024, tercatat 115 serangan semacam itu di negara tersebut, sebagian besar dilakukan oleh kelompok bersenjata ilegal.

Minggu lalu, tiga tentara tewas dalam serangan drone di wilayah barat daya Kolombia, ketika bahan peledak dijatuhkan pada anggota angkatan laut dan angkatan darat yang sedang menjaga pos pemeriksaan.