Netanyahu Endorse Trump untuk Raih Nobel Perdamaian

Apa alasan Netanyahu mendukung Trump sebagai peraih Nobel Perdamaian? Berikut selengkapnya.

Diperbarui 08 Juli 2025, 10:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (7/7/2025) menyerahkan sebuah surat kepada Presiden Donald Trump yang mencalonkannya untuk meraih Nobel Perdamaian. Hal ini terjadi setelah Trump mendorong tercapainya gencatan senjata atas perang Iran-Israel.

Kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih pada Senin, menandai pertemuan langsung pertamanya dengan Trump sejak presiden tersebut memerintahkan serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025.

Netanyahu mengeluarkan surat itu saat makan malam bersama Trump dan menyerahkannya kepada sang presiden.

"Presiden telah mewujudkan sebuah peluang besar. Dia memprakarsai Abraham Accords. Saat ini dia sedang membangun perdamaian, dari satu negara ke negara lain, dari satu kawasan ke kawasan berikutnya," kata Netanyahu seperti dilansir The Hill. "Karena itu, saya ingin mempersembahkan kepada Anda, Tuan Presiden, surat yang saya kirimkan kepada Komite Nobel. Surat ini mencalonkan Anda untuk meraih Nobel Perdamaian, yang menurut saya sangat layak Anda terima." 

Abraham Accords adalah nama untuk serangkaian perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara mayoritas muslim di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Perjanjian ini dimediasi oleh AS dan mulai diumumkan pada Agustus 2020.

"Saya tidak tahu soal ini," kata Trump saat menerima surat itu. "Wow. Terima kasih banyak. Terutama dari Anda, ini sangat berarti bagi saya."

Trump dan Gencatan Senjata

Para sekutu Trump telah menyampaikan argumen bahwa Trump kembali layak dipertimbangkan oleh Komite Nobel seiring sejumlah upaya terbarunya dalam menengahi gencatan senjata di berbagai belahan dunia.

Pakistan menyatakan pekan lalu bahwa mereka akan merekomendasikan Trump untuk Nobel Perdamaian atas perannya dalam memediasi konflik negara tersebut dengan India.

Anggota DPR AS Buddy Carter dari Partai Republik juga menulis surat kepada Komite Nobel pada Selasa (1/7) untuk mendukung pencalonan Trump setelah dia membantu mencapai gencatan senjata yang rapuh dan masih baru antara Israel dan Iran.

Pertemuan pada Senin sebagian berfokus pada upaya yang sedang berlangsung untuk mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hamas—sesuatu yang sejauh ini sulit dicapai sejak pertempuran pecah pada Oktober 2023.

Nobel Perdamaian nyaris tak pernah jauh dari pikiran Trump dalam menyusun kebijakan luar negerinya.

Dia pernah mengemukakan bahwa dirinya layak menerima penghargaan itu selama masa jabatan pertamanya setelah serangkaian pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk membahas de-nuklirisasi, meskipun pertemuan-pertemuan tersebut gagal menghasilkan hasil konkret.