Liputan6.com, Beijing - Sebuah lowongan pekerjaan di kantin universitas di Tiongkok yang mensyaratkan pelamar memiliki gelar Ph.D. memicu gelombang kritik dan perdebatan sengit. Kabar yang dilaporkan South China Morning Post pada 30 Mei 2025 itu menjadi simbol dari kondisi suram pasar kerja bagi para lulusan muda di Negeri Tirai Bambu.
Kondisi ini menyoroti realitas pahit: banyak lulusan universitas di China yang menganggur atau terpaksa bekerja di posisi yang jauh di bawah kualifikasi mereka, sering kali dengan gaji yang minim. Fenomena ini dikenal sebagai "overqualified, underemployed" -- terlalu tinggi kualifikasinya, namun tak mendapat tempat yang layak di dunia kerja.
Sun Zhan, 25 tahun, adalah satu dari jutaan anak muda yang mengalami kenyataan tersebut. Meski bergelar master di bidang keuangan dan bercita-cita bekerja di perbankan investasi, ia kini bekerja sebagai pelayan.
Advertisement
"Saya sudah coba melamar pekerjaan impian saya, tapi hasilnya nihil," ujarnya.
Situasi ini membuat banyak lulusan merasa terjebak. Li, yang menempuh studi di bidang penyutradaraan film dan penulisan skenario, menyimpulkan dengan getir, "Di China, begitu kamu lulus, kamu langsung jadi pengangguran."
Melody Xie, yang telah lulus lebih dari setahun lalu, mengaku tak memiliki penghasilan, tabungan, maupun kehidupan sosial. Sementara itu, Zephyr Cao, lulusan program magister dari universitas ternama di Beijing, mulai mempertanyakan nilai pendidikan tinggi.
"Kalau saya langsung kerja setelah sarjana, mungkin penghasilan saya sama dengan sekarang, padahal saya sudah punya gelar master," katanya.
Masalah Sistemik yang Mengakar
Dengan tingkat pengangguran kaum muda mencapai sekitar 20 persen, masuknya lulusan baru tiap tahun hanya memperburuk keadaan. Dali Yang, pakar politik Tiongkok dari Universitas Chicago, menjelaskan bahwa angkatan kerja muda semakin menumpuk karena banyak dari mereka belum berhasil terserap pasar sejak dua hingga tiga tahun terakhir.
Sebuah studi dari China Higher Education Research memperkirakan bahwa ketimpangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan pasar kerja akan terus berlangsung hingga 2037.
Â
Â
Tak Ada Jaminan Mobilitas Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4347728/original/078479900_1678087557-20230306-Ekonomi-China-AP-5.jpg)
Yun Zhou, asisten profesor sosiologi di Universitas Michigan, menambahkan bahwa gelar sarjana di Tiongkok tak lagi menjamin mobilitas sosial atau kehidupan yang lebih baik. "Janji-janji itu kian sulit diwujudkan," ujarnya.
Data terkini memperkuat realitas pahit tersebut. China National Nuclear Corporation, misalnya, membuka 1.730 posisi kerja, namun menerima 1,2 juta lamaran. Fenomena ini mencerminkan betapa putus asanya pencari kerja muda.
Jurnalis senior Phoebe Zhang mengatakan, generasi muda Tiongkok kini menghadapi tekanan luar biasa yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. "Tak heran jika mereka merasa takut, putus asa, dan frustrasi," ucapnya.
Advertisement
Ekspektasi yang Harus Diubah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4347724/original/053188800_1678087553-20230306-Ekonomi-China-AP-1.jpg)
Sebagian mahasiswa mulai mempertimbangkan jalan keluar lain. Tessa Deng, misalnya, sedang menjajaki kemungkinan melanjutkan studi ke Inggris karena ragu dengan prospek kerja di Tiongkok. "Saya cemas," ujarnya. "Yang bisa saya lakukan sekarang adalah terus mencoba dan menurunkan ekspektasi gaji."
Pemerintah Tiongkok pun menunjukkan kekhawatiran. Media resmi China Daily menyebut kondisi ini sebagai "situasi yang menegangkan" bagi para lulusan baru. Profesor Zhang Jun dari City University of Hong Kong menyarankan agar anak muda Tiongkok realistis terhadap kondisi pasar kerja saat ini. "Mereka harus menyesuaikan ekspektasi," katanya.
Ironisnya, banyak perusahaan justru mengambil keuntungan dari situasi ini. Beberapa memaksa karyawan bekerja 12 hingga 16 jam per hari. Di kota Shenzhen, Katherine Lin memilih mengundurkan diri setelah gajinya dipotong dan bonus dihapus.
"Tak ada pilihan selain mundur," ungkapnya.
Seorang ekonom Tiongkok yang enggan disebutkan namanya menyebut bahwa dari sekitar 48 juta mahasiswa di negara itu, mayoritas hanya akan mendapatkan gaji awal yang rendah. "Meski tak bisa disebut sebagai ‘generasi yang hilang’, ini adalah pemborosan besar atas modal manusia," pungkasnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5240030/original/007457000_1748865492-Infografis_HEADLINE_Slide_2_1080x1080__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8414164/original/000004000_1782298740-Cek_fakta_-_rumor_ukraina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1238139/original/082014900_1521205275-pp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4247884/original/029184900_1669982511-China_Longgarkan_Pembatasan_Covid-19__Aktivitas_Bisnis_Kembali_Dibuka-AP__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450278/original/065503300_1782346556-vini.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539854/original/082732300_1774647037-granit-xhaka-serge-gnabry-swiss-jerman-duel-persahabatan-internasional.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258705/original/024939600_1781404490-qatar_vs_swiss-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7814803/original/065180300_1780632434-raul-jimenez-meksiko-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256567/original/079090900_1781161764-000_B6NZ2CC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450011/original/019812700_1782346256-000_B88L4BD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259234/original/092963300_1781492552-deniz_undav_selebrasi_jerman_curacao_ap_eric_gay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258639/original/042157800_1781395836-AP26164834638106-Vinicius.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258626/original/079452200_1781391485-000_B6Z46WN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8443167/original/050423700_1782336694-swiss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8440972/original/063692400_1782333943-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8408666/original/027545800_1782291949-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_18.58.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4347729/original/082024200_1678087558-20230306-Ekonomi-China-AP-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8356237/original/053964100_1782231067-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258474/original/070070600_1781346469-AP26163500989479.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4624471/original/065960600_1698291635-ilya-cher-UHFTNwaQg9o-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3446275/original/059417200_1620013831-eric-prouzet-UipokEnGOyE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3314597/original/073889600_1606993116-20201203-Kementan-Targetkan-8_2-Juta-Hektare-Sawah-untuk-20-Juta-Ton-Beras-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5185496/original/033002400_1744432974-potret_terbari_zhao_luzi__1_.jpg)