Netanyahu Sebut Pembebasan Iran Sebagai Pelunasan Utang Sejarah, Apa Maksudnya?

Berbicara di sebuah rumah sakit yang terkena rudal Iran, Netanyahu menyiratkan dia tengah menjalankan misi suci pembebasan.

Diperbarui 20 Juni 2025, 09:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Di Beersheba, sekitar 1.000 km dan 2.500 tahun dari Babilonia, Benjamin Netanyahu pada Kamis (19/6/2025) menyatakan bahwa waktunya telah tiba bagi bangsa Yahudi untuk membayar utang mereka kepada Cyrus Agung dan membawa pembebasan bagi Iran.

Perdana menteri Israel itu baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Rumah Sakit Soroka, yang beberapa jam sebelumnya terkena hantaman langsung dari rudal balistik Iran pada salah satu bangunannya. Serangan terjadi tak lama setelah lantai atas bangunan tersebut dikosongkan — sebuah evakuasi yang kini digambarkan para pemimpin Israel sebagai mukjizat.

Jika direktur rumah sakit tidak bertindak cepat, Soroka disebut bisa saja mencatat jumlah korban sipil terbanyak di Israel sejak pembantaian oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.

Cengkeraman panjang Netanyahu atas kekuasaan tampak seperti telah hancur tanpa bisa diperbaiki lagi pada hari nahas itu, ketika pasukan keamanannya tidak berdaya menyelamatkan ribuan nyawa warga Israel yang diklaim tewas. Namun, kini sang perdana menteri tampil layaknya seseorang yang dipanggil oleh takdir.

Netanyahu kian percaya diri bahwa dia dapat mengubah peta Timur Tengah secara fundamental. Dia melontarkan gagasan mengenai perubahan rezim di Iran — seorang pemimpin dari negara berpenduduk 10 juta menyerukan kepada rakyat negara yang populasinya hampir sepuluh kali lipat lebih besar untuk menggulingkan rezim ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi 1979.

"Orang-orang bertanya kepada saya — apakah kami menargetkan kejatuhan rezim (Iran)?" kata Netanyahu kepada pers di kompleks rumah sakit yang dipenuhi pecahan kaca, seperti dikutip dari The Guardian. "Itu mungkin jadi hasilnya, tapi itu tergantung pada rakyat Iran untuk bangkit demi kebebasan mereka. Kebebasan tidak pernah murah. Kebebasan tidak pernah gratis. Kebebasan menuntut agar orang-orang yang ditindas bangkit dan itu terserah mereka. Tapi kami mungkin menciptakan kondisi yang akan membantu mereka melakukannya."

Jika serangan-serangan bom Israel berhasil meruntuhkan pilar-pilar kekuasaan Republik Islam Iran, Netanyahu menyebut hal itu sebagai semacam pelunasan utang sejarah yang telah berumur ribuan tahun — merujuk pada saat Cyrus Agung dari Persia membebaskan bangsa Yahudi dari penawanan di Babilonia. Kini, menurut Netanyahu, giliran negara Yahudi yang menciptakan jalan menuju pembebasan bagi rakyat Persia dari penindasan rezimnya sendiri.

"Saya ingin katakan bahwa 2.500 tahun lalu, Cyrus Agung, Raja Persia, membebaskan orang Yahudi. Dan hari ini, sebuah negara Yahudi sedang menciptakan sarana untuk membebaskan rakyat Persia," ujarnya.

Pernyataan Iran soal Serangan ke Rumah Sakit Soroka

Netanyahu dalam kesempatan yang sama menggambarkan para pemimpin Iran sebagai monster karena menyerang Rumah Sakit Soroka.

"Kami menargetkan lokasi peluncuran rudal. Mereka menargetkan rumah sakit," klaim dia. "Mereka menargetkan warga sipil karena mereka adalah rezim kriminal. Mereka adalah teroris utama dunia."

Satu jam sebelumnya, Presiden Israel Isaac Herzog, berdiri di tempat yang sama, dengan bangunan hangus di belakangnya dan menyampaikan argumen serupa. Dia mengatakan kepada para pemimpin Iran, "Kejahatan kalian terhadap kemanusiaan, kejahatan perang kalian, tidak akan menggentarkan kami."

Hukum humaniter internasional menetapkan perlindungan yang ketat terhadap rumah sakit, klinik, ambulans, serta para tenaga medis, yang wajib dilindungi setiap saat tanpa pengecualian. Standar untuk menetapkan bahwa perlindungan ini telah dilanggar ditetapkan sangat tinggi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berargumen bahwa rudal Iran diarahkan ke markas militer Israel yang berada tak jauh dari rumah sakit. Dia mengklaim bahwa Rumah Sakit Soroka hanya mengalami kerusakan ringan akibat gelombang ledakan.

"Hari ini, Angkatan Bersenjata kami yang kuat secara akurat telah menghancurkan markas Komando, Kendali & Intelijen militer Israel, serta satu target penting lainnya. Gelombang ledakan menyebabkan kerusakan ringan pada sebagian kecil dari Rumah Sakit Militer Soroka yang berada di dekatnya, dan sebagian besar telah dievakuasi. Fasilitas ini utamanya digunakan untuk merawat tentara Israel yang terlibat dalam genosida di Gaza ... di mana Israel telah menghancurkan atau merusak 94 persen rumah sakit Palestina," tulis Araghci di akun platform media sosial X.

"Semua pertumpahan darah ini dimulai oleh rezim Israel, bukan Iran. Yang menargetkan rumah sakit dan warga sipil adalah para penjahat perang Israel, bukan rakyat Iran. Ratusan warga Iran yang tak bersalah telah dibunuh secara keji sejak Israel melancarkan perang ilegal terhadap rakyat Iran pekan lalu. Kami menyerukan kepada warga Israel agar mematuhi peringatan evakuasi kami sebelum serangan dilakukan, dan menjauhi lokasi militer maupun intelijen. Angkatan bersenjata kami yang kuat akan terus menggempur para penjahat yang menyerang rakyat kami, sampai mereka berhenti dan mempertanggungjawabkan agresi kriminal mereka terhadap bangsa kami."

Namun, peta yang digunakan Araghchi untuk mendukung klaimnya disebut tidak sesuai dengan kawasan pusat Kota Beersheba yang sebenarnya.

Di sisi lain, pernyataan Netanyahu bahwa tidak ada fasilitas militer Israel di sekitar lokasi serangan — bahkan dalam jarak puluhan kilometer — juga dipandang tidak sepenuhnya dapat dipercaya dan masih terbuka untuk diperdebatkan.