Netanyahu Akui Israel Persenjatai Klan di Gaza yang Anti-Hamas, Picu Kontroversi Baru

Konflik Israel-Palestina tak kunjung menemui titik terang, malah justru dipicu pemantik kontroversi baru.

Diperbarui 06 Juni 2025, 10:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi bahwa pemerintahnya telah mempersenjatai kelompok klan di Gaza yang disebut menentang Hamas.

Pernyataan ini menyusul laporan media Israel yang mengungkap bahwa Netanyahu secara langsung memberi otorisasi pengiriman senjata kepada kelompok tertentu di selatan Gaza.

"Masalahnya apa?" ujar Netanyahu dalam sebuah video singkat yang dipublikasikan di media sosial, seperti dikutip dari laman BBC, Jumat (6/6/2025). 

"Langkah ini justru menyelamatkan nyawa tentara Israel, dan menyebarluaskannya hanya menguntungkan Hamas."

Pernyataan tersebut merujuk pada klan yang dipimpin oleh Yasser Abu Shabab, yang beroperasi di wilayah Rafah di bawah kendali militer Israel. Kelompok ini menyebut dirinya sebagai oposisi terhadap Hamas dan mengklaim bertugas melindungi truk bantuan yang masuk ke Gaza.

Namun, para kritikus menuduh kelompok ini justru menjarah bantuan yang seharusnya ditujukan untuk warga sipil.

Langkah Netanyahu ini memicu kecaman dari sejumlah politisi Israel. Mantan Wakil Menteri Pertahanan Yair Golan menilai kebijakan itu sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional Israel.

"Netanyahu adalah ancaman bagi keamanan nasional. Alih-alih berusaha membawa pulang para sandera dan menjamin keselamatan warga Israel, ia justru menciptakan bom waktu baru di Gaza," tulis Golan di media sosial.

Sumber dari kementerian pertahanan Israel juga telah mengonfirmasi bahwa klaim yang dilontarkan oleh politisi oposisi Avigdor Lieberman—soal persenjataan kepada klan Abu Shabab—adalah benar. Lieberman bahkan menyebut kelompok tersebut sebagai kriminal yang punya afiliasi dengan ISIS dan menuduh Netanyahu melakukannya tanpa persetujuan kabinet.

Senjata yang disuplai dilaporkan termasuk senapan serbu Kalashnikov, sebagian di antaranya adalah hasil sitaan dari Hamas.

Namun demikian, Yasser Abu Shabab membantah klaim tersebut. Dalam pernyataan daring, ia menyebut bahwa kelompoknya tidak menerima senjata dari Israel.

"Senjata kami sederhana, sudah usang, dan berasal dari dukungan masyarakat kami sendiri," ujarnya.

 

Kontroversi Baru dengan Hamas

Di sisi lain, aktivitas klan Abu Shabab dikabarkan telah menimbulkan friksi dengan Hamas.

Menurut laporan media berbahasa Arab, sayap bersenjata Hamas bahkan dilaporkan telah mulai melakukan aksi pembunuhan terhadap anggota klan tersebut.

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa segala upaya yang dilakukan saat ini bertujuan untuk "mengalahkan Hamas melalui berbagai cara, sesuai rekomendasi seluruh pimpinan lembaga keamanan."

Namun langkah ini tampaknya menimbulkan risiko baru di tengah situasi kemanusiaan yang memburuk di Gaza. PBB telah memperingatkan bahwa mayoritas warga di wilayah tersebut berada di ambang kelaparan akibat minimnya bantuan. Di tengah krisis ini, kebijakan Netanyahu dinilai menambah kompleksitas konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.