Mengenal Tor Alva, Menara Tertinggi di Dunia yang Dibuat Pakai Mesin Cetak 3D

Bangunan futuristik ini menjadi simbol perpaduan antara kemajuan teknologi dan upaya pelestarian komunitas pedesaan.

Diterbitkan 01 Juni 2025, 20:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bern - Menjulang anggun di atas atap-atap rumah di Mulegns, sebuah desa mungil di Pegunungan Alpen Swiss, berdiri Tor Alvamenara cetak 3D tertinggi di dunia yang baru saja diresmikan. Dengan tinggi mencapai 30 meter, bangunan futuristik ini menjadi simbol perpaduan antara kemajuan teknologi dan upaya pelestarian komunitas pedesaan.

Mulegns sendiri hanya dihuni oleh 12 orang penduduk tetap, dan sekilas mungkin tampak tak cocok menjadi lokasi proyek arsitektur berskala besar.

Namun, justru itulah daya tariknya. Pemerintah lokal melihat Tor Alva sebagai cara kreatif untuk menghidupkan kembali desa yang perlahan kehilangan denyutnya, dikutip dari laman Oddity Central, Senin (1/6/2025).

Menara ini terdiri dari 32 kolom modular hasil cetakan 3D, yang dirakit menggunakan sekrup raksasa dan kabel baja—tanpa semen maupun rangka baja konvensional. Struktur inovatif ini memungkinkan menara dibongkar dan dipindahkan dengan mudah bila diperlukan, menjadikannya bukan hanya canggih tapi juga fleksibel.

“Inovasi yang kami tampilkan mencakup penggunaan beton cetak 3D berdinding tipis yang hemat bahan, serta sistem konstruksi modular untuk memungkinkan penggunaan ulang di masa mendatang,” tulis tim di balik proyek ini melalui laman resmi Tor Alva.

“Salah satu pencapaian terobosan dari Tor Alva adalah pengembangan solusi struktural baru untuk memperkuat beton cetak 3D—tantangan besar yang selama ini menghambat kemajuan teknologi ini. Kami percaya, inovasi ini akan membuka jalan menuju masa depan konstruksi yang lebih berkelanjutan.”

Peresmian Tor Alva berlangsung pada 20 Mei 2025, disambut oleh sekitar 300 orang yang antusias. Para pengunjung bahkan berkesempatan menaiki tangga spiral ke puncak menara, di mana ruang berkubah menanti. Ruangan tersebut dirancang sebagai teater seni, namun juga menawarkan panorama spektakuler pegunungan Alpen yang membentang di kejauhan.

Proyek ini digagas oleh sekelompok arsitek dan peneliti dari Institut Teknologi Federal Swiss di Zurich. Melalui Tor Alva, mereka ingin memperlihatkan bagaimana desain komputasional, fabrikasi digital, rekayasa struktural, dan ilmu material dapat bersatu untuk menciptakan arsitektur yang tidak hanya memukau secara visual, tapi juga visioner secara fungsional.

Dengan kehadiran Tor Alva, Mulegns bukan lagi sekadar desa kecil di peta Swiss, melainkan titik temu antara tradisi dan teknologi, antara masa lalu yang sederhana dan masa depan yang canggih.